
kini rafa duduk di hadapan seorang pria berjas dan menjabat tangan pria itu erat
"saya terima nikah dan kawinya Zifana hitaro binti Yama Hitaro, dengan mas kawin seperangkat alat sholat di bayar tunai" ucap rafa dengan lantang
"SAH" terdengar suara lantang sah menandakan zifana sekarang resmi menjadi istri sah dari Rafa Dean Arselo
rafa mengucap syukur dirinya bisa menikahi gadis belia yang berjarak 15 tahun darinya
begitu muda sebenarnya zifana saat menjadi istri Rafa. 17 tahun sekarang usianya, di saat zifana berusia 17 tahun ia menikahi pria yang ia kenal sejak ia di lahirkan dan berusia 32 tahun. usia yang cukup matang menjadi seorang suami
"selamat ya kak sudah jadi seorang suami" jenny memeluk sang kakak yang baru saja mengucapkan ijab qabul
"terima kasih" balas rafa dengan senyum mengembang
jenny beralih memeluk zifana " selamat ya zifa, semoga tetap sabar ngehadepin suami macam kakakku" ucap jenyy
"iya kak, aku sudah nyiapin hati yang lapang untuk jadi istri kak rafa" balas zifana
rafa menoleh ke arah adik dan istrinya "segitunya kalian gak percaya kakak" ucap rafa dengan wajah memberengut
"iya" jawab zifana dan jenny dengan kompak
mommy riska memeluk zifana "maafin kelakuan anak mommy ya zifa, kalau sampai suami kamu bikin ulah kabur saja bawa semua harta yang sudah di berikan ke kamu" ucap mommy riska
"mommy" rajuk rafa
"salah sendiri, kelakuan kamu tengil sedari muda, kalau kamu dengerin kami sejak dulu, gak akan kami ngeragukan kamu" ucap daddy kan
"iya dad" rafa hanya menunduk tak kuasa untuk menjawab
kini giliran zaskia memluk zifana "ingat kodratmu sebagai seorang wanita sayang, utamakanlah suamimu, patuhlah padanya jangan berani melawannya selagi ia benar" nasehat zaskia
"iya bu, zifa akan selalu ingat pesan ibu. zifa akan selalu patuh sama kak rafa selagi apa yang di perintahkan kak rafa baik kalau salah ya zifa ngeyel" balas zifana
"zifa" ucap zaskia dengan nada suara meninggi
"oh ya, setelah menikah kalian mau tinggal di mana?" tanya askar penasaran
"gantian saja kita nginepnya, rumahnya deket ini cuma jarak serumah, jadi gak masalah" balas zifana
"eh, kakak sudah beli rumah yang di samping itu, jadi tinggal di bongkar saja, biar lebih gampang" sahut rafa
"mau kamu bikin apa rumah seluas itu?" tanya jenny takjub akan sebesar rumah kakaknya nanti jika di gabung dengan rumah zifana dan rumah yang ada di tengah, karena memang perumahan tempat tinggal mereka adalah perumahan orang kaya yang terbilang memiliki luas yang cukup lebar
"lapangan bola, lapangan tenis, lapangan voli, tinggal zifa yang milih. lagian biar gak bingung lagi zifa milih mau tinggal di mana kalau lingkungan rumah jadi satu" balas rafa
"tumben anak mommy pinter, mommy kan jadi ada teman ngobrol" ucap mommy riska setuju dengan ide rafa kali ini
"dari dulu sudah pinter kali mom" balas rafa tak terima di katakan tumben pintar oleh mommy riska
***
malam pertama untuk rafa dan zifana di lakukan di hotel milik aunty sita sebagai hadiah pernikahan
"zifa" panggil rafa dengan suara mendayu-dayu
"iya kak" balas zifana
zifana sedang memakai lotion di tubuhnya sebagai kebiasaan dirinya sebelum tidur
rafa merebahkan tubuhnya di sebelah zifana dengan posisi menatap menatap wajah zifana lekat
"ini kan malam pertama kita" ucap rafa dengan senyum penuh maksud
rafa duduk menghadap zifana mengambil lotion zifana "sini kakak bantu" rafa mengoles lotion ke kaki zifana
zifana menyunggingkan senyumnya "zifa tahu maksud kakak" ucap zifana memajukan tubuhnya ke arah rafa membuat rafa tersenyum girang
"kamu ngerti maksud kakak" rafa tentu bahagi jika istrinya tahu maksud hatinya
"iya tahu" zifana mengusap dada rafa dengan gerakan pelan membuat gelenyar aneh di tubuh rafa
rafa memejamkan matanya merasakan gerakan tangan zifana yang begitu menggoda imannya "berarti bisa langsung di mulai dong" tanya rafa
zifana terkekeh dan memajukan wajahnya sedikit ke arah wajah rafa untuk berbisik "tapi sepertinya kakak harus sabar kali ini" ucap zifana
membuat mata rafa membola ke arah zifana "sabar kenapa? kamu masih marah sama kakak? mau hukum kakak?" tanya rafa dengan wajah ketakutan
zifana kembali terkekeh " bukan begitu kak, hari ini aku baru dapat tamu bulananku jadi tak bisa melayani kakak" balas zifana
"ha?" rafa tidak menyangka malam pertamanya menikah malah istri yang baru beberapa jam ia nikahi itu mengalami tamu bulanan yang membuat dirinya tak bisa menyentuh sang istri
"maaf ya kak" zifana menepuk pelan bahu suaminya
"masa gitu sih zifa" protes rafa
zifana mengedikkan bahunya "ya mau gimana, zifa kan ngerancanain dapat tamu bulanan sekarang. lagian salah sendiri kakak langsung ajak nikah hari ini juga" kekeh zifana
rafa duduk bersila meratapi nasibnya "nasib-nasib" rafa mengambil bantal dan menaruhnya di atas kakinya "mau gimana lagi, belum rejekinya" rafa pasrah dengan nasih yang menimpanya
"sudah sih kak, masih banyak waktu kali buat begitu" ucap zifana
"ya sudah, gak papa" balas rafa dengan senyuman
rafa kali ini menatap lekat zifana "kalau gitu kita ngobrol saja" ajak rafa
"ngobrol apa kak?" tanya zifana
"gimana kalau ngobrol tentang kehidupanmu di desa" usul rafa
"boleh, jadi gini kak" zifana mulai menceritakan kegiatannya di desa dan apa saja yang ia lakukan selama di desa dan dengan siapa saja ia berteman. semua hal yang ia lakukan tak luput ia ceritakan pada sang suami yang baru ia nikahi itu
"sudah ngantuk?" tanya rafa saat melihat zifana terus menguap saat bicara
"iya kak hoaaaam" zifana terus menguap
"ya sudah ayok tidur" rafa membawa zifana ke dalam pelukannya, membawanya berbaring bersama di ranjang yang sama
"kok kayanya aneh ya kak, tidur ada yang meluk" ucap zifana
rafa menoleh ke arah zifana "kamu gak suka kalau dipeluk saat tidur?" tanyarafa
zifana menggelengkan kepalanya " bukan gitu kak" zifana memeluk rafa menyandarkan kepalanya di dada bisang rafa sang suami " zifana senang tidur di pelukan kakak kok, cuma rada aneh saja karena belum terbiasa" balas zifana
rafa mengusap kepala zifana lembut "nanti kalau sudah terbiasa , kamu pasti kesulitan tidur kalau gak ada kakak" ucap rafa
"masa?" tanya zifana tak percaya
"tentu saja, masa kakak bohong" balas rafa
"tapi emang nyaman sih kak tidur dalam pelukan kakak" kekeh zifana merasa begitu nyaman tidur dalam dekapan rafa
"iya dong" ucap rafa dengan bangga