
***
Syakia sedang duduk di meja riasnya dengan berjuta pikiran di
benaknya “kamu kenapa sayang?” Tanya askar memeluk syakia dari belakang
syakia mengusap lengan askar yang melingkar di perutnya “kita sudah cukup lama menikah, sudah 6 bulan tapi aku belum hamil
juga padahal eila yang baru buat sekali saja sudah jadi kenapa kita yang tiap hari buat gak jadi-jadi?” Tanya syakia
Askar berjongkok di hadapan syakia “itu tandanya kita belum di
beri kepercayaan memiliki anak. Lagian dengan kita belum punya anak kita masih bisa mesra-mesraan terus dan gak harus berbagi waktu dengan anak” balas askar
“tapi kamu gak akan ninggalin aku kan?” Tanya syakia
“apaan sih syakia, kita tuh belum terlalu lama menikah loh, yang
nikah tahunan aja banyak yang belum di kasih anak, jadi jangan terlalu dipikirkan” balas askar menenangkan hati syakia
“apa kita program saja” ajak syakia
“nanti kalau sudah 2 tahun kita masih belum di kasih kepercayaan
kita akan program” balas askar
“beneran ya askar” ucap syakia
“ia sayang” balas askar memeluk syakia
***
“sayang tunggu sini ya, aku mau ambil nomor antrian dulu” ucap
daren
“iya dad, jangan lama-lama ya” pinta eila menirukan suara anak kecil
daren tersenyum dengan tingkah gemas eila “iya sayang” daren berjalan ke arah tempat pendaftaran
Eila duduk sembari memainkan ponselnya di depan poli kandungan
“eila” panggil seorang pria
Eila mendongak “maaf siapa ya?” Tanya eila tak mengenali siapa
yang ada di hadapnnya
Pria tersebut tersenyum “ternyata aku gak seberharga itu sampai
kau lupa dengan mantan kekasihmu” ucap pria tersebut
Eila terkekeh canggung
“maaf……” eila benar-benar lupa siapa nama pria di hadapannya
pria tersebut paham dengan raut wajah eila yang seolah berkata bahwa eila tetap tak ingat “Sandi” sahut pria tersebut yang tak lain adalah sandi salah satu mantan
kekasih eila
“ah sandi yang teman bianca itu ya, maaf kalau aku lupa” balas eila benar-benar merasa tak
enak hati karena melupakan seseorang yang pernah menjadi kekasihnya
sandi tersenyum “wajar sih kamu lupa, kamu ganti pacar saja bisa kaya ganti baju, dan aku hanya pacar kamu selama 3 hari dan kita hanya pernah jalan sekali saja. setelah putus kau tak mau membalas pesan atau mengangkat telponku ” balas sandi
"ah maaf" ucap eila
Daren mengernyitkan dahinya kala melihat eila bicara dengan
seorang pria. daren berjalan menghampiri eila “siapa sayang?” Tanya daren melingkarkan tangannya di pinggang
eila
eila menoleh ke arah daren “ah ini teman aku” balas eila canggung
Daren menatap sandi “teman yang mana?” Tanya daren
Sandi terkekeh “sepertinya suamimu di landa kekhawatiran karena istrinya punya mantan kekasih terlalu banyak” ucap sandi
“kok kamu tahu aku sudah nikah?” Tanya eila yang merasa mengadakan pernikahan sederhana dan belum sempat mengabari teman-temannya tentang pernikahannya
“kau pasti gak tahu kalau mantan kekasihmu punya group jejaring
sosial dan jumlahnya gak sedikit loh. Jadi kita tahu dari group itu kalau kau sudah menikah dan sedang hamil” balas sandi melirik perut eila
Eila hanya tersenyum canggung “iya aku sedang hamil, dan ini
"selamat kalau gitu, akhirnya ada orang yang benar-benar kau
cintai” ucap sandi dengan tulus
“terima kasih” balas eila
Sandi menatap daren “ selamat ya, dan sabar-sabar ya kalau nanti sepanjang jalan kamu ketemu mantan kekasih istrimu” mata daren langsung membelalak lebar mendengar penuturan sandi
sandi tersenyum dengan reaksi daren “tapi satu yang aku
yakini gak ada satupun mantan kekasihnya yang pernah singgah di hatinya. Kami semua mungkin hanya sekedar koleksi mantan kekasihnya saja” tambah sandi pamit pergi
Daren memandang punggung sandi yang makin menjauh “emang seberapa banyak mantan kekasih kamu?” Tanya daren
“tidak ingat” balas eila datar
mata daren memicing ke arah eila “berapa paling lama hubungan kamu?” Tanya daren
“1 bulan” balas eila
Daren membelalakan matanya lebar, paling lama sebulan berarti paling sebentar berapa lama “yang paling bentar?” Tanya daren lagi
“emmmmmm 30 menit sepertinya” balas eila mengingat pernah pacaran hanya 30 menit karena pria yang jadi pacarnya membuat eila begitu il fill saat mengajak menikah
“haah” mulut daren menganga lebar
Eila mengalungkan tangannya di lengan daren “tapi hanya dirimu yang aku cintai” bisik eila di telinga daren
“nyonya eila” panggil perawat
Eila menoleh ke arah perawat yang memanggilnya “itu, kita di panggil” eila menarik lengan daren memasuki ruangan dokter untuk memeriksa kandungannya
*
"askar" panggil syakia dengan nada manja
"hmmm" balas askar
"boleh ya kita inseminasi" pinta syakia
"ya ampun syakia, kita tuh masih muda sayang jadi jangan terlalu terpaku harus cepat memiliki anak" balas askar
syakia menunduk lesu "kamu gak tahu rasanya saat teman-teman kita menikah langsung punya momongan tapi kita yang sudah 7 bulan belum juga" sahut syakia
aakar meraih tangan syakia " jodoh, maut, keturunan itu sudah ada yang atur sayang jadi kita tunggu saja jangan terlalu parno dengan ini" ucap askar
"tapi aku gak tenang askar, aku merasa kau akan meninggalkanku jika kita tidak punya anak" balas syakia
"ya ampun syakia" askar benar-benar tak paham bagaimana cara kerja pikiran syakia, dirinya tak pernah menuntut keturunan bahkan keluarganya pun tak ada yang bertanya tapi kenapa syakia jadi separno ini
askar menghela nafas panjang "ya sudah, kita lakuin itu" askar menyerah dengan permohonan syakia yang di lakukan tiap hari
syakia langsung memeluk askar "Terima kasih sayang" ucap syakia
askar membalas pelukan syakia "iya sayang" balas askar
***
" wah kecil banget adiku" gumam ara melihat adiknya yang baru saja di lahirkan
" adiku laki-laki ya bu? " tanya ara pada ibu ralins
"iya sayang" balas ibu ralins
ara mendekat ke arah ibunya " pasti melelahkan ya melahirkan di usia ibu yang sudah 43 tahun" ucap ara
"lumayan sayang, tapi sebanding dengan raut bahagia ayah kamu" balas ibu ralins melirik ayah damians yang begitu bahagia melihat putra kecilnya
ara melirik ayahnya " tentu ayah bahagia, dari dulu kan ayah pengennya anak laki-laki tapi malah keluarnya perempuan" ucap ara
ayah damians menoleh ke arah ara "jangan gitu ngomongnya sayang, ada kamu tentu ayah sangat bahagia kamu adalah putri ayah yang paling ayah sayang" ucap ayah damians
"kamu ninggalin Gilang lama gak papa? " tanya ibu ralins yang melihat ara datang sendiri tanpa buah hatinya
"enggak bu, stok asi ara masih banyak di rumah mami. hilang di sana malah mami sama papi seneng banget. aku gak pulang juga gak bakal di tanya" kekeh ara
"ibu seneng banget mereka sayang kamu" ucap ibu ralins
"iya bu, keluarga suamiku memang sangat baik" balas ara
"oh ya, maaf ya kalau suami ara gka datang dia lagi di Jerman, seminggu paling baru pulang" ucap ara
"iya ara, ibu ngerti kok kalau suami kamu sibuk" balas ayah damians