Live In The Foly Of Love

Live In The Foly Of Love
Andai bukan seorang pengecut (season 2)



***


Eila memakai gaun panjang dengan belahan kaki panjang memperlihatkan kaki mulus eila yang putih bersih dan tanpa bulu itu


“mih, eila ada pesta di tempat teman. dia  salah satu pemilik galeri di Jakarta” pamit eila mengecup pipi mami aira


“kamu nanti pulangnya mau di jemput gak?" tawar papi dylan


“gak usah pih, papih lupa ya eila bisa bela diri sama kaya askar dan kak viko. lagian pasti nanti ada yang antar eila pulang pih” balas eila


“yakan kamu tetep perempuan sayang” sahut papi dylan


“nanti kalau sekiranya eila butuh di jemput, eila telpon papih deh” ucap eila mengecup pipi papi dylan


“jangan minum-minum ya sayang” pinta papi dylan


“iya pih, gak akan sampai satu botol kok” balas eila bergegas pergi agar tak mendapat ocehan papi dylan


“tuh anak, paling susah di kasih tahu” gerutu papi dylan


“itu Karena kamu yang terlalu manjain dia pih” sahut mami aira


“itu kan karena dia anak perempuan kita satu-satunya” balas papi dylan


*


Eila datang ke pesta milik temannya dengan langkah anggun “hai Antonio” sapa eila


“hei eila” Antonio memeluk eila sebagai salam “terima kasih sudah datang" ucap antonio


“it’s ok, kita kan teman” balas eila


“silahkan nikmati suguhan di tempatku ya” ucap Antonio


“oke” balas eila berjalan menuju tempat minuman dan mengambil jus jeruk


“hei eila” sapa Kevin


Eila mengerutkan keningnya “kau di sini Kevin?” Tanya eila


“iya, aku kan juga kenal Antonio, aku sudah menebak pasti kau datang. Gak salah memang kalau bela-belain kesini” ucap Kevin


eila menatap jengah  kevin yang pernah jadi mantan kekasihnya “ayolah Kevin, jangan kembali membahas masa lalu” pinta eila


“kenapa? Aku masih cinta sama kamu sampai detik ini eila” balas Kevin


“tapi aku gak cinta kamu Kevin” balas eila lirih


“itu karena kamu gak mau mencobanya” balas Kevin


Eila menajamkan matanya “bagimana bisa kita mencoba berhubungan intim dengan seseorang yang tak kita sukai” kesal eila bergegas meninggalkan Kevin


Kevin menahan tangan eila “apa salahnya kalau kita mencobanya kita kan sudah sama-sama dewasa, kalau kita gak cocok kita bisa lupakan hal itu” ucap Kevin tanpa rasa bersalah sama sekali


“aku memang tinggal diluar negeri selama 12 tahun kevin, tapi bukan berarti aku gak tahu moral ya” kesal eila


“ayolah eila, jangan munafik, bukankah kau selalu berganti-ganti pacar pasti ada di antara mereka yang sudah menyicipimu kan” ucap Kevin dengan nada mencibir


“jaga kata-katamu!” bentak eila menunjuk muka kevin


“alah, benarkan ucapanku” timpal Kevin


Eila mencoba menghindari Kevin karena tak ingin memunculkan perdebatan di pesta temannya “mau kemana kamu eila” ucap Kevin mencoba meraih tangan eila


“stop” tangan kevin di remas keras oleh seorang pria yang menahannya mengejar eila


“siapa kau?” Tanya Kevin tak mengenali siap yang mencengkeram tangannya kuat


“kamu gak perlu tahu siapa aku, yang harus kamu sadari jangan tidak sopan kepada seorang wanita” ucap pria yang tak lain adalah daren


Kevin tersenyum miring “ah kau pasti mantan kekasih eila juga kan? Kau juga pasti sama sepertiku yang belum menyicipi eila kan” tebak kevin


“jaga ucapanmu itu!” teriak daren


Teriakan daren menarik perhatian eila yang sudah berjalan cukup jauh. Eila menoleh dan melihat pertengkaran daren dan kevin


“kau” kevin ingin mencoba menghajar daren karena kesal


“stop!”teriak eila menghentikan ulah kevin yang berniat menghajar daren


kevin menatap eila kesal “dia duluan yang mulai” kesal kevin  menunjuk daren yang memukulnya


“emang apa yang dia lakuin?” Tanya eila


“dia hajar aku, padahal aku gak kenal dia" balas Kevin


“aku gak terima dia ngehina kamu eila” seru daren menunjuk kevin yang sudah lancang menghina eila


Eila menatap sinis daren “lah kamu siapa main, nonjok orang karena ngehina aku?” Tanya eila


“aku…” daren tak mampu menjawab pertaanyaan eila


“benerkan dia kurang ajar, aku hina kamu kenapa dia yang marah” sahut Kevin tanpa sadar


“cetak” eila menendang Kevin tepat di area terlarang milik kevin


“harusnya aku yang mukul kamu bukan dia ” eila menatap tajam Kevin “jangan pernah coba ngehina aku lagi” ucap eila dengan suara lantang


“kamu beraninya” Kevin menunjuk eila dengan memegang pusakanya yang masih berdenyut karena di tendang eila


“aku bisa menghancurkan perusahaanmu itu dengan gampangnya” ancam kevin  dengan amarah


“silahkan lakukan saja, kau pikir aku takut” tantang eila


Eila melihat jari-jari kukunya dengan angkuh “paling kalau keluarga besarku tahu, aku dihina dan dilecehkan seorang Kevin pamungkas, paling kau yang akan rugi” eila menatap Kevin dengan senyum seringai “kau tahu, uncle tyo sayang sekali padaku” eila berbisik di telinga kevin “bagaimana ya kia-kira  rasanya kemarahan uncle ku padamu" eila menatap kevin dengan tatapan menghina dan cibiran "dan kau pikir ayahmu akan berani melawan uncle tyo” lirih eila


"kau!" teriak kevin tapi tetap saja ia tak berani melawan setelah mendengar apa yang di ucapkan eila padanya


Eila berjalan ke arah Antonio yang ikut menonton acara perdebatan itu “maafkan ketidak nyamanan ini Antonio, aku pasti akan menggantinya” ucap eila menunduk


“ah, jangan sungkan eila, aku malah senang dapat tontonan gratis darimu” ucap Antonio yang merasa tidak tersinggung sama sekali atas keributan yang terjadi karena eila


“aku pamit Antonio” ucap eila membungkuk pada antonio


“terima kasih sudah datang” balas Antonio yang di balas senyuman oleh eila


Eila berjalan keluar gedung pesta dengan langkah lebar


“eila  tunggu" panggil daren


Eila menoleh ke belakang “ada apa?” Tanya eila ketus


“kamu kenapa pakaiannya gitu?” daren membuka jasnya menutupi tubuh eila yang hanya memakai gaun bertali spagheti yang memperlihatkan punggus mulus eila


“dan itu apa “ tunjuk daren pada kaki eila yang terlihat jelas dari belahan gaunnya


“bukan urusanmu” ketus eila mengembalikan jas daren dan  melangkahkan kakinya kembali menjauh



ihargailah diri kamu eila, kalau kau seperti ini terus akan ada banyak orang seperti pria tadi mencibirmu” ucap daren


Eila menoleh kembali “ itu sama sekali bukan urusanmu, dan satu lagi” eila mencoba mengatur nafasnya “orang yang paling tidak menghargaiku adalah kau, karena hanya kau yang menolakku dalam hidup ini padahal hanya kau orang aku sukai” kesal eila melangkahkan kakinya kembali meninggalkan daren


Kepergian eila membuat tubuh daren makin bergetar, ia berjalan dengan sekuat tenaga menuju mobilnya, daren membuka dasbor mobilnya mencari sesuatu. Setelah menemukan sebuah tabung kecil, daren mengambil isinya dengan tangan bergetar dan menenggaknya dengan cepat tak lupa ia minum dari botol minum yang ada di mobilnya


“huuuuuuuuhhhhhh” daren mengatur nafasnya agar lebih tenang


Daren memandangi langit malam dari balik jendela “andai aku bukan pengecut” gumam daren