Live In The Foly Of Love

Live In The Foly Of Love
Bonus chapter 9



Rafa duduk bersandar kan pintu kamar zifana dengan suara sesenggukan


"mau denger sesuatu dari kakak" ucap Rafa yang tak di jawab sama sekali oleh zifana


"kakak akui, kakak adalah orang berengsek, dan mungkin paling jahat yang pernah kamu temui " umpat Rafa untuk dirinya sendiri


"bagaimana bisa kakak dulu memperdaya kamu, yang masih muda" Rafa menggengam erat jemarinya berusaha kuat untuk mengutarakan perasaannya  "walaupun kita segera sadar salah dan langsung berhenti tapi tetap saja kakak bersalah padamu karena berbuat kurang ajar padamu. harusnya kakak yang lebih dewasa bisa menjagamu yang masih belum mengerti apapun" ucap Rafa


"zifa gak butuh kata maaf kakak! " teriak zifana dari balik pintu


"iya kakak salah karena serumah. dengan wanita itu dulu padahal masalah kita saja nelum selesai, bahkan kakak selalu menghindari pembahasan itu. tapi kakak benar-benar tak bisa tenang setelah itu. sekembalinya kakak dari Jerman hati kakak selalu tak tenang. kakak mencari berbagai cara untuk menenangkan hati kakak yang kacau balau. rasa berdosa kakak serasa menggunung tinggi" Rafa mengusap pintu kamar zifa dengan pelan


"kakak mencoba berubah menjadi lebih baik, kakak selalu mengingat setiap ucapan kamu untuk menjadi lebih baik sampai akhirnya kakak mencoba menjadi mualaf. sungguh kakak berusaha menjadi lebih baik zifa" rafa makin terisak


"tolong bantu kakak berubah jadi lebih baik" pinta Rafa dengan suara lirih


"kalau kakak ingin berubah, harusnya dari diri kakak sendiri bukan dari orang lain" sahut zifana merasa berubah itu harusnya datang dari sendiri masing-masing bukan karena orang lain karena biasanya jika datang dari orang lain itu hanya akan bersifat sementara saja, dan bisa saja mereka akan kembali ke jalan yang sempat mereka hindari


Rafa meresapi ucapan zivana " iya, harusnya kita berubah untuk diri kita bukan untuk orang lain" rafa tersenyum miris


"kakak waktu itu teringat kamu yang sedang melantunkan ayat suci saat merindukan ibumu" pikiran rafa kembali menelisik ke masa lalu "kamu begitu tenang dengan lantunan itu, dan itu begitu menenangkan hati kakak setiap mengingatnya " zifana kembali diam


"kakak meminta izin pada orang tua kakak saat mengambil langkah ini" terdengar helaan nafas yang panjang dari mulut rafa


"awalnya mereka tidak setuju dengan keinginan kakak ini, karena mereka takut kakak tak bersungguh-sungguh dalam mengambil keputusan ini. tapi setelah mereka melihat kakak jauh lebih tenang saat kakak mulai belajar sholat akhirnya mereka mengikhlaskannya" rafa kembali mengusap pintu zifa seolah zifa yang sedang ada di sana dan zifa lah yang ia sentuh


"kakak tahu, dosa kakak yang menggunung dan cara hidup kakak dulu yang kurang baik membuatmu tak percaya bahwa kakak benar-benar ingin berubah untuk jadi lebih baik karena diri kakak sendiri yang menginginkannya" rafa tentu sadar bagaimana liarnya kehidupannya dulu sampai membuat zifana tak percaya padanya


"kakak sadar kakak salah, mungkin kamu juga benci sama kakak dan gak ingin melihat kakak lagi sampai-samapai kamu menjauhi semua orang. Harusnya kakak sadar itu" rafa mencoba sekuat tenaga menahan sesak di dadanya "kalau gitu kakak gak akan ganggu kamu lagi, jadi kembalilah zifa, kakak akan sekuat tenaga mengindari pertemuan kita "  Rafa beranjak bangun dari duduknya


Rafa berjalan dengan menyeret kakinya meninggalkan zifana dengan berat hati, hatinya tentu tak ingin meninggalkan zifa tapi akal sehatnya berkata sebaliknya, ia harus pergi demi zifa


hujan masih turun dengan derasnya, tapi rafa tetap membuka pintu depan vila milik zifana "maaf zifa" gumam rafa berjalan meninggalkan vila


zifana makin terisak mendengar kepergian rafa, bagaimana pria itu pergi semudah itu, apa dia tak bisa berjuang lebih keras padanya atau paksa saja dia


***


saat malam hujan sudah berhenti, zifana duduk di tepian teras memandang langit malam yang begitu sepi tak ada bintang, gelap seperti hatinya yang merasa gelap dan sepi


"tin tin tin" bunyi klakson mobil yang baru berada di halaman vila miliknya


zifana mengernyitkan dahinya. siapa yang datang? apa rafa kembali ke sini untuknya, itu kata pertama yang muncul dalam benak zifana saat melihat mobil itu terparkir di halaman vila miliknya, yang sangat jelas ia lihat karena jarak teras dan halaman begitu dekat


"zifa" panggil seorang wanita paruh baya


"sayang, anak ibu" zaskia mengusap kepala zifana lembut


"aku kangen ibu" zifana terisak kencang, belum hilang bengkak di sekitar matanya akibat tangisaannya tadi  sekarang ia kembali menangis di pelukan ibunya, mencurahkan beban berat yang ia tahan selama ini seorang diri


"ibu sudah sembuh?" tanya zifana mengurai pelukannya menatap sang ibu


zaskia mengangguk "iya sayang, ibu sudah lebih baik, dan cukup sehat. maafkan ibu sudah meninggalkan  kamu terlalu lama" ucap zaskia


zifana menggelengkan kepalanya di pelukan zaskia "yang salah itu zifana karena gak nemenin ibu di saat ibu sedang sakit. bahkan zifana gak ada saat ayah di makamkan" balas zifana


"maafin ibu sayang" zaskia makin terisak mengingat mendiang suaminya "ayah di makamkan di jepang, di tempat asal kakek kamu" balas zaskia menceritakan di mana ayahnya di makamkan


"iya bu, zifa tahu" zifa tentu tahu itu karena sejak lima tahun lalu ia mencari tahu tentang ayah dan ibunya


***


kedatangan zaskia kali ini bukan sekedar ingin bertemu dengan putrinya yang sudah lama tak ia temui tapi juga ingin mendengar cerita hubungan anaknya  bersama rafa dari mulut zifana sendiri sebelum mengambil keputusan untuk anaknya


ternyata kejadian dulu benar-benar tak seperti apa yanga ada di dalam benak zaskia, walaupun itu tak akan pernah membenarkan perbuatan rafa dan zifana yang sudah kelepasan dalam berdekatan


"jadi waktu itu, rafa langsung menyudahi perbuatannya setelah kamu bilang sakit?" zaskia mendengar cerita zifana perihal kesalahannya waktu itu karena mereka hanya berdua saja saat itu tapi rafa langsung tersadar ketika tahu itu salah, makanya ia berusaha keras menghindari zifana sebisa mungkin


"maaf ibu" ucap zifana lirih


zifana serasa berdosa besar apalagi pada ibunya, ibu yang selalu mendidik dia dengan selalu mengingat nama tuhan


"apa dia pernah menyentuhmu lagi setelah itu?" tanya zaskia


zifana menggeleng "tidak bu, kakak selalu membatasi diri dari zifa" balas zifa


"lalu kenapa kamu pergi?" tanya zaskia


zifana menunduk takut, takut berkata jujur pada ibunya, tapi tetap saja ia harus jujur pada sang ibu "zifa takut bu, zifa takut tambah cinta sama kakak. kan ibu bilang kita sebaiknya menikah dengan orang yang seiman dengan kita. ayah saja dulu masuk agama ibu waktu kalian nikah, nenek dulu juga gitu waktu nikah sama kakek" balas zifana


zaskia menghela nafas panjang "ibu sudah mengamati rafa beberapa bulan ini, dan sepertinya dia memang bersungguh-sungguh untuk berubah" zifana menatap ibunya lekat mendengar pernyataan ibunya


'kamu sayang ibu kan?" tanya zaskia


"tentu bu" balas zifana


"kalau gitu menikahlah dengan rafa, dia pasti akan menjagamu dengan baik. lagi pula dia juga orang yang pertama menyentuhmu jadi dia harus bertanggung jawab padamu" ucap zaskia memutuskan anaknya harus menikah dengan rafa, karena rafa harus bertanggung jawab pada putrinya


zifana hanya diam menatap ibunya lekat, beribu pikiran di kepalanya berkecamuk hebat di sana. apa ia dia harus menikah dengan rafa? atau menolaknya saja, walaupun sebenarnya ia mencintai rafa tapi rasa kecewa, sakit hati dan tidak percaya pada rafa lebih dominan ia rasakan