Live In The Foly Of Love

Live In The Foly Of Love
Satu masalah pergi, datang masalah lain



Aira membawa kotak berisi makanan yang ia masak menuju kantor Dylan


“permisi” sapa aira ramah “ apa Dylan Mahardika ada?” tanya aira pada pria yang pertama ia temui


pria tersebut melirik aira dari bawah sampai ke atas “ada, mari saya antarkan ke ruangannya” balas salah satu kolega Dylan dengan ramah


Kolega Dylan membawa aira masuk menuju ruangan Dylan “kalau boleh tahu ada perlu apa ya?” tanya kolega Dylan yang bernama ryan


aira mengangkat rantang yang ia bawa “saya bawain makan malam untuk bang Dylan pak” balas aira sopan


ryan menarik sebelah alisnya ke atas “repot-repot amat sih, bawain Dylan makan. Dia juga bisa beli di luar sendiri gak perlu repot-repot di anterin makanan ” balas ryan terkekeh karena ada yang begitu peduli pada dylan padahal biasanya tidak ada


Mereka sampai di depan ruangan Dylan, ryan pun membukakan  pintu untuk aira  “kalau istrinya bisa masak kenapa harus beli di luar” ucap aira mengedarkan pandangannya mencari keberadaan suaminya di sana


“oh“ balas ryan mengangguk


“abang” teriak aira segera menghampiri Dylan setelah melihat di mana keberadaan dylan


Ryan tersadar dengan sesuatu “apa?!” teriak ryan tak menyangka Dylan sudah menikah


“apaan sih kamu ryan, teriak-teriak gitu” ucap raka mengusap telinganya yang tak nyaman dengan teriakan ryan yang begitu tiba-tiba


Ryan berlari menghampiri raka “dia tadi” tunjuk ryan pada aira yang berada di depan dylan “bilang kalau


istrinya Dylan” ryan menatap para rekan kerja Dylan yang berada di divisi kriminal “ sejak kapan dia menikah?!” tanya ryan menunjuk Dylan


“plak” dino memukul ryan keras “ kamu saja yang kudet, semua kantor juga tahu kali kalau Dylan udah nikah, kamu saja yang gak tahu gara-gara sibuk di luar dan jarang ke kantor” balas dino


Ryan menggaruk tengkuknya yang tak gatal “udah pada tahu ya?” tanya ryan pada orang


yang ada di ruangan dan di jawab dengan anggukan


Aira terkekeh “salam kenal, saya aira istri abang Dylan” sapa aira menunduk pada


ryan


Ryan balas mengangguk “salam kenal juga, saya ryan teman kerja Dylan”


Aira kembali menatap Dylan “ nih makan malam buat abang” ucap aira menyerahkan rantang berisi makanan pada Dylan suaminya


Dylan menerima rantang tersebut “terima kasih ya sayang” balas Dylan


“ya sudah aira pulang dulu ya bang, takut ganggu kerjaan abang” ucap aira berniat pamit pulang


Dylan menahan tangan aira “temenin abang makan dulu napa?” tanya Dylan tak rela melepaskan aira pergi


aira menautkan kedua alisnya “tapi kana bang masih kerja”  aira mencondongkan tubuhnya ke arah dylan untuk berbisik "gak enak bang, malu" bisik aira


“abis makan kan bisa lanjut kerja lagi” balas Dylan, merasa tak oerlu malu, aira kan istrinya, jadi gak ada masalah dong


Aira tersenyum “ya udah” aira membuka rantang makananya dan menyajikan di piring lalu menyerahkan piring tersebut pada Dylan “ nih makan bang” ucap aira


dylan melirik piring yang diberikan aira tak menerimanya “suapin”pinta Dylan dengan suara manjanya


Aira melirik sekeliling yang banyak teman kerja dylan sedang lembur “ih malu kali bang, masa segede gini minta di suapin” ucap aira


“gak papa sih, sekali-kali” pinta Dylan menunjukkan senyum termanisnya


aira menghela nafas “ya sudah” aira menyuapi Dylan sampai suapan terakhir


“abang mau tambah?” tanya aira melirik piring berisi makanan Dylan sudah habis


Dylan menggeleng “abang sudah kenyang” Dylan mengelus perut buncitnya


Aira tersenyum merapihkan rantang makanan yang ia bawa  “ya sudah aira pulang ya” pamit aira mencium tangan Dylan


“iya, hati-hati ya” pinta Dylan melepas kepergian aira sambil melambaikan tangannya


Aira berjalan menyusuri lorong menuju halaman tempat mobilnya terparkir “fer pulang yuk” ucap aira mengedarkan pandangannya kesekeliling “ah itu dia” aira melihat ferdy yang sedang mengobrol di pos jaga


Aira berniat menghampiri ferdy “aira” panggil seorang wanita paruh baya


wanita paruh baya tersebut berjalan mendekati aira “apa kabar nak?” tanya mama rania orang tua razi


Aira tersenyum sopan “aira baik ma” balas aira mencium punggung tangan mama rania sopan


Mata mama rania berkaca-kaca “kamu gak benci mama?” tanya mama rania


Aira menggeleng “kenapa aira harus benci mama?” tanya aira


“anak mama sudah melukaimu, bukan cuma sekali atau dua kali tapi berkali-kali ” balas mama rania mulai menjatuhkan cairan bening dari sudut matanya


“yang melukai aira kan anak mama, bukan mama jadi untuk apa aira membenci mama” balas aira


“kamu memang anak baik nak” mama rania mengelus pundak aira lembut


Aira menggeleng “aira Cuma anak biasa yang punya banyak kekurangan” balas aira


Mama rania memeluk aira “ maafkan anak mama ya ra, dia bisa seperti itu karena perceraian mama dan ayahnya dulu, apalagi ayahnya yang menikah lagi dan tak begitu peduli pada razi” ucap mama rania


“aira ngerti ma” balas aira


Mama rania mengurai pelukannya “mama akan bawa razi berobat ke Australia dan mungkin gak akan kembali lagi. Mama titip viko padamu ya nak” ucap mama rania


Aira mengangguk “iya mah” balas aira


“ya sudah mama pamit ya, mau ngurus izin kepergian razi” pamit mama rania


***


Pagi-pagi sekali aira bersiap berangkat kerja, sebelum kesekolah aira menyempatkan mengantar sarapan dan baju ganti untuk Dylan yang semalam bekerja lembur dikantor tak tertidur di sana karena kelelahan


Aira menyetir dengan kecepatan rata-rata menuju sekolah tempat ia bekerja “viko,nanti kamu pulang ke rumah om dino ya” ucap aira


viko menautkan alisnya menatap aira “kenapa?” tanya viko


“kakek sama nenek mau ke acara reuni dan mungkin menginap, jadi kamu ke rumah om dino saja . Mami sudah siapkan baju ganti buat kamu”balas aira


“emang om ferdy sama om haris gak jagain kita lagi?” tanya viko


“masih sayang, tapi mereka lagi bantu papi sama tugasnya di kepolisian jadi untuk sementara mereka gak datang”aira mengusap lembut kepala viko


***


jam pulang sekolah sudah berbunyi. Aira mengantar viko ke gerbang bertemu dengan kak dino yang sudah menjemput viko


“kak nitip viko dulu ya” pinta aira menyerahkan tas berisi perlengkapan sekolah serta baju ganti viko


“gak masalah. Besok kakak yang akan antar viko sekolah jadi kamu gak perlu repot bolak-balik jemput viko” balas kak dino


Aira tersenyum “terima kasih kakakku sayang” aira melambaikan tangannya melepas kepergian viko anaknya dan kak dino


Aira berjalan menuju kantornya untuk beristirahat, karena masih jam istirahat bagi


kelas aira


“viko sudah pulang?” tanya bu meri guru kelas 4 sama seperti aira


Aira mengangguk “tadi sudah di jemput kak dino”


“aira kamu di panggil pak arfan” ucap pak rosi


Aira menyipitkan matanya “ada apa?” tanya aira


Bu rosi mengedikkan bahunya “tak tahu” balas bu rosi


Aira berjalan menuju ruangan pak arfan mengetuk pintu sopan “bapak nyari saya?” tanya aira menghampiri kepala sekolah


pak arfan melirik aira dengan tatapan serba salah“gini aira” ucap pak arfan dengan gugup


Aira melirik orang yang di belakang pak arfan “kita ketemu lagi “ ucap seorang wanita dengan senyum smerknya menatap aira