
***
Andre mengantar pulang bela sampai ke apartemen milik bela “terima kasih ya ndre antar aku pulang” ucap bela
“iya” balas andre
Bela keluar mobil dan melambaikan tangannya kearah andre, andre pun melajukan mobilnya meninggalkan apartemen bela
Andre memukul-mukul setir mobilnya “kenapa bisa aku kalah, sebelum mencoba?” kesal andre mengingat dirinya yang baru saja mengetahui kalau zeta sudah menikah
“baru juga suka sama sesorang, langsung patah hati” gumam andre tertunduk lesu
***
“abang” panggil aira
“iya sayang” balas dylan berlari menuju kamarnya karena panggilan aira
“abang besok aira ikut jenguk papi ya” pinta aira
“ih jangan sayang, papi tinggal di puncak, jalannya agak sulit kesana. Kamu di rumah saja ya” balas dylan
“tapi aira pengen lihat keadaan papi bang” ucap aira
“kamu sedang hamil besar ra, kasihan kalau kamu harus melewati jalan bergelombang" balas dylan mengusap perut aira yang sudah makin membesar, karena aira sudah hamil 6 bulan
“mami pengen ikut, boleh?” Tanya aira
“boleh saja sih tapi papi pasti gak nyaman kalau lihat ada mami” balas dylan ragu
“kali ini biarin mami ikut ya bang, kali aja mami bisa bujuk papi buat berobat” pinta aira
“iya ra” balas dylan
“tapi kamu janji sama abang, gak boleh jauh dari ferdy ataupun haris ya” pinta dylan
“iya bang, pasti viko sama aira gak akan jauh-jauh dari mereka” balas aira
***
Zeta tengah membuatkan kopi untuk rino di pantry khusus lantai CEO
“kamu lagi bikini kopi buat tuan rino?” Tanya bela yang juga sedang membuat kopi untuk dirinya
“iya mba bela”balas zeta
“eh ta, kamu tahu gak kalau pak rino sudah menikah?” Tanya bela
“uhuk uhuk uhuk” zeta terbatuk karena saking terkejutnya
“kamu saking terkejutnya ya bel, aku juga semalam terkejut banget waktu tahu tuan rino sudah menikah” bela menepuk pundah zeta pelan
zeta menautkan alisnya “mba tahu dari mana kalau pak rino sudah menikah?” Tanya zeta
“dari pak yama, tapi pak yama gak mau kasih tahu siapa istrinya Cuma bilang gak lama juga aku tahu katanya” balas bela
Bela melirik zeta “kamu tahu siapa istrinya? Secara kamu kan sering ketemu adiknya saat laporan ke pemilik perusahaan?” Tanya bela
“tahu” balas zeta lirih
“siapa?” Tanya bela semangat
Zeta menunjukkan cincinya “kamu lihat cincin ini?” Tanya zeta
“iya, itu cincin nikahmu kan?” Tanya bela bingung
“bukannya ini sama dengan yang dipakai pak rino?” Tanya zeta
Bela Nampak mencerna ucapan zeta “jadi kau istrinya?” Tanya bela menutup mulutnya saking terkejutnya
Zeta mengangguk “iya, dia suamiku” balas zeta
“kok kalian main petak umpet sih?” Tanya bela
“maaf ya bel, aku memang yang pengen menyembunyikan pernikahanku, aku waktu itu takut memberitahu statusku yang istri CEO saat baru pertama kali kerja” balas zeta
“sekarang gak takut lagi?” Tanya bela
“enggak, soalnya aku ada rencana mengundurkan diri dalam waktu dekat” balas zeta
“kenapa mengundurkan diri?” Tanya bela
“aku mau konsen ngurus suamiku di rumah, dan juga aku ada rencana tinggal dengan orang tua mas rino buat jaga orang tua suamiku”
balas zeta
“wah kamu sayang sama keluarganya ya?” Tanya bela
“iya, aku sayang sama semua keluarga mas rino karena
keluarganya sangat baik padaku dan menyayangiku sama seperti mas rino yang
sayang aku” balas zeta
“syukur deh kalau kamu bahagia menikah dengan tuan
rino” ucap bela mengusap bahu zeta
“ya sudah, aku antar kopinya dulu” ucap zeta membawa kopi yang sudah ia buat
Zeta mengetuk pintu “tok tok tok”
“masuk” ucap rino
Zeta berjalan kearah meja kerja rino “nih kopinya mas” zeta menyerahkan kopi yang ia buat pada rino
“terima kasih sayang” ucap rino saat menerima kopi buatan istrinya
“aku keluar dulu ya mas” pamit zeta
Rino menahan tangan zeta “nanti dulu kenapa?” Tanya rino
“Cuma kangen saja, pengen berduaan” balas rino
“ya ampun mas, kita kan bareng terus masa sudah kangen?” Tanya zeta tak percaya
“iya lah kangen, secara kamu ngelarang kita buat kasih tahu orang kantor kalau kita suami istri” balas rino
Zeta terkekeh “tadi zeta sudah cerita sama mba bela kalau kita suami istri” ucap zeta
“kamu cerita? “ Tanya rino senang “tapi kenapa tiba-tiba?” Tanya rino bingung
“seperti yang zeta bilang tempo hari, kalau zeta ada rencana mengundurkan diri jadi sepertinya gak masalah deh kalau orang kantor tahu hubungan kita” balas zeta
“kamu yakin mau keluar kerja, mas gak ngelarang kamu kerja loh?” Tanya rino
“ya mas keberatan gak kalau zeta Cuma bisa minta uang sama mas rino dan gak cari duit sendiri?” Tanya zeta balik
“tentu saja gak keberatan, kamu istri mas tanggung jawab mas memenuhi segala kebutuhan kamu dan membahagiakan kamu” balas rino
Zeta tersenyum “nah itu juga yang zeta rasakan mas,zeta pengen bahagiain mas, mengurus mas lebih baik, dan kita kana da rencana mau pindah tempat ibu dan ayah” balas zeta
“mas gak pengen kamu direpotin loh sayang, dengan tinggal di rumah orang tua mas” ucap rino
“zeta gak masalah atau direpotkan mas, malah zeta seneng saat ibu ngajak tinggal bareng, zeta merasa punya ibu dan ayah yang sesungguhnya, orang tua yang sayang zeta” balas zeta
Rino mengusap kepala zeta “mas ikut apapun keinginan kamu sayang. Tapi jangan ragu meminta sesuatu yang kau inginkan” pinta rino
“iya mas” balas zeta
“brak” terdengar suara pintu di buka dengan kasar
“maaf nona jangan masuk” pinta bela mengikuti seorang wanita berpenampilan seksi memasuki ruangan rino dengan kasar
“diam kamu, saya mau ketemu bos kamu” jawab wanita tersebut dengan suara lantang
“apa-apaan kamu!”teriak rino kesal
“sayang” sapa riska dengan suara manja menghampiri rino
Rino yang mendapat panggilan itu melirik zeta takut akan reaksi zeta “aku gak ada apa-apa sama dia “ ucap rino menjelaskan
Zeta hanya diam saja tak menjawab membuat rino makin gugup “uhhhh kenapadulu aku gak terima saran aira ya” batin rino
Riska berjalan menghampiri rino yang sedang berhadapan dengan zeta “pergi sana” riska langsung mendorong tubuh zeta dengan kasar
Rino yang memang berada takjauh dari zeta dengan refleks menahan tubuh zeta agar tak terjatuh “kamu gak papa?” Tanya rino mengecek keadaan zeta
“apaan sih kamu no?” Tanya riska menarik tangan rino yang memegang zeta
Rino menatap tajam riska “kamu yang apa-apaan! Di tempat kerjaku!”teriak Rino
Riska langsung memeluk rino “aku kangen sama kamu sayang” ucap riska
Rino melepaskan pegangannya dan mendorong tubuh riska kasar “jangan kebanyakan ulah kamu ya! Pergi dari sini atau aku panggil satpam!” teriak rino
Riska menatap tajam rino “jadi bener kata yama kalau kamu sudah nikah?” Tanya riska
“itu kamu tahu” balas rino datar
“kamu gak bisa nikah dengan orang lain! Kamu Cuma milik aku!” teriak riska
“diam kau!” ucap rino tak kalah berteriak
Kepala zeta mulai berdenyut melihat hal di depannya, dia begitu terkejut akan suaminya yang berteriak dan kasar tak seperti suami yang biasa ia lihat setiap hari, tatapan mata suaminya begitu tajam walaupun hal itu bukan dituju untuk dirinya
“kalian lanjut saja berdebatnya, aku keluar dulu” ucap zeta yang mulai berkunang-kunang
“tunggu zeta” pinta rino menahan tangan zeta
Riska yang melihat itu jadi kesal “jangan sentuh wanita lain di hadapanku!” teriak riska mendorong tubuh zeta kasar
“akhhh” teriak zeta yang terjatuh ke lantai
“beraninya kamu!” bentak rino
Bela langsung menghampiri zeta “kamu gak papa kan zeta?” Tanya bela
“sakit mba” ucap zeta lirih memegang perutnya yang sakit
“sakit?” bela melirik paha zeta yang berdarah
“tuan!” teriak bela
Rino langsung menoleh kearah zeta “darah!” seru bela meliriik paha zeta
“ya ampun zeta” teriak rino panic
“kamu gak apa sayang?” Tanya rino
“sakit mas” zeta terus memegang perutnya
“sudah tuan langsung bawa ke rumah sakit saja” pinta bela
“iya” rino langsung mengangkat tubuh zeta
“tunggu sayang, jangan pergi, masa kamu ngabaikan aku” kesal riska yang tak ada rasa bersalah sedikitpun
“minggir kau! Atau kau akan menyesali hal ini seumur hidupmu!” bentak rino
“gak mau” balas riska kekeh
“bela, panggil andre” pinta rino
Bela langsung menghampiri andre sesuai permintaan rino
“cepat minggir” rino mendorong tubuh riska kasar agar cepat membawa zeta ke rumah sakit
Andre berlari ke ruangan rino “ada apa tuan?” Tanya andre
“kamu bawa mobil, kita ke rumah sakit sekarang” seru rino begegas membawa zeta