Live In The Foly Of Love

Live In The Foly Of Love
Bonus chapter 6



zifana mulai bersekolah di salah satu desa terpencil, bahkan sekolahnya hanya memiliki 15 murid dalam satu kelas walaupun sekolah zifana merupakan sekolah negeri, tetapi karena banyak dari penduduk di sana memilih bersekolah di tempat yang lebih ramai membuat sekolah itu cukup sepi


hanya anak dengan keuangan minim saja yang bersekolah di sana


zifana menatap jendela memandangi hamparan sawah yang bisa terlihat jelas dari jendela kelasnya


"zifa, yuk main" ajak seorang wanita bernama desi, ia teman sekelas zifana


zifa tersenyum menanggapi ajakan desi teman sekelasnya


"tidak des, aku sedang ingin beristirahat" balas zifana menolak secara halus


"ya sudah aku main sama yang lain ya" desi bercanda gurau dengan teman sekelasnya bersama teman-teman yang lain di halaman sekolah


zifana kembali melihat ke arah jendela dengan menopang dagunya menggunakan satu tangan


zifana sudah sekolah di sekolah itu selama 2 bulan, dan tak ada tanda-tanda orang mencarinya di sana


***


Rafa sedang membereskan barang-barang miliknya "kamu yakin mau pulang Rafa? " tanya perempuan cantik dan berpakaian seksi bernama clarissa


"aku sudah dua bulan tak mendengar kabar apapun dari zifana, aku harus mengecek sendiri keadaannya" balas Rafa


clarissa langsung memberengut sebal "Lagi-lagi dia" kesal clarissa langsung berdiri menatap tak suka ke arah Rafa "kamu masih saja lebih memperdulikan dia ketimbang aku yang calon istri kamu" kesal clarissa


Rafa menatap tajam clarissa " sudah berapa kali aku bilang, fokusku untuk menjaga zifana sampai dia menikah nanti" Rafa meletakkan barang-barang yang sempat ia bereskan dan menatap tak suka ke arah clarissa


"dan aku sama sekali tak menjanjikan pernikahan denganmu" Rafa menunjuk ke arah clarissa


clarissa langsung merubah raut wajahnya " jangan bicara seperti itu sayang, orang tua kita sudah tahu dengan kedekatan kita jadi bagaimana mungkin kita tidak menikah setelah tidur bersama setiap hari" ucap clarissa dengan raut ketakutan


"dulu aku membiarkanmu mengatakan kau calon istriku karena menghormatimu tapi ingat aku sama sekali tak pernah menjanjikan pernikahan itu padamu" jelas rafa


"tapi raf, aku tuh cinta sama kamu" clarissa menahan tangan rafa


Rafa menepis tangan clarissa "apa yang kita lakukan adalah atas dasar suka sama suka, aku tak pernah memaksamu atau menjanjikan apapun padamu" Rafa langsung mengambil barangnya dan bergegas meninggalkan clarissa


***


"mom, dad" panggil Rafa dengan suara lantang


"gak usah teriak-teriak Rafa, kami gak tuli" mommy Riska menghampiri Rafa dengan mendorong daddy ken yang sudah di kursi roda karena usia rentanya yang sudah memasuki usia 70 tahun membuat daddy ken terpaksa memakai kursi roda untuk beraktivitas karena kondisi tubuhnya yang makin hari makin memburuk


"maaf mom, dad" Rafa memeluk mommy dan daddy nya bergantian


"mom, zifa kemana? tadi aku ke rumahnya kok sepi, gak ada orang bahkan kaya rumah gak di huni lama" tanya Rafa


mommy Riska mengerutkan keningnya "zifa gak kasih tahu kamu kalau dia pindah sekolah? " mommy Riska heran kenapa Rafa tidak tahu, bukannya zifa mengatakan sudah mengabari Rafa sebelumnya


Rafa membelalakkan matanya lebar "kapan? kok gak ada yang kasih tahu Rafa? " tanya Rafa dengan suara agak meninggi


"loh, waktu dia mau pamitan untuk pindah, kami lihat sendiri zifa mengirim pesan ke kamu, karena kamu gak kunjung angkat telpon dia" balas mommy Riska


"kok anak buah aku gak ada yang kasih tahu aku? " kesal Rafa yang tak mendapati laporan apapun


"calon istrimu itu tahu kok perihal zifa pindah sekolah. bahkan dia yang minta para orang suruhan kamu untuk berhenti mengikuti zifa " ucap mommy Riska


Rafa mengernyitkan dahinya "calon istri? siapa? " tanya Rafa merasa tak pernah mengatakan memiliki calon istri pada kedua orang tuanya


"loh kok siapa? kamu dua bulan di Jerman bukannya tinggal serumah dengan clarissa, itu artinya kamu akan menikah dengannya" balas daddy ken


"aku gak pernah bilang akan menikah dengannya" Rafa berjalan menjauh dari kedua orang tuanya untuk menghubungi seseorang yang di perintahkan menjaga zifana


"kenapa kalian tidak mengabariku perihal zifana yang pergi hah! " teriak Rafa lantang saat telponnya tersambung


dokter ken dan mommy Riska saling pandang melihat reaksi Rafa yang begitu marah akan kepergian zifana


"maaf tuan, kami sudah nelpon ke ponsel tuan, dan wanita yang mengatakan sebagai calon istri anda untuk tidak mengikuti nona zifana lagi" balas orang di seberang telpon


"kurang ajar! " umpat Rafa


"sekarang kamu cari zifa sampai dapat, awas kalau kalian gak bisa mencarinya. aku habisi kalian! " teriak Rafa mengakhiri panggilannya


"Rafa, segitunya kamu kelabakan nyari zifa. dia baik-baik saja kok" ucap mommy Riska


"zifa menghubungi mommy? " tanya Rafa penuh selidik


"iya, terakhir waktu kita kumpul di rumah mertua adikmu, dia menghubungi kami dan bilang betah tinggal di sana" balas mommy Riska


"di mana dia sekarang? " tanya Rafa


"mommy gak tahu Rafa, zifa gak kasih tahu tepatnya di mana, dia cuma bilang akan datang kalau akan masuk kuliah" ucap mommy Riska


Rafa mengacak rambutnya frustasi " hubungi saja dia, tanyakan di mana" usul mommy Riska


"kalau aku bisa menghubunginya, mana mungkin aku kembali sekarang padahal kerjaan di sana belum selesai" balas Rafa dengan rasa frustasi


"sebenarnya ada apa sih dengan kalian? " tanya mommy Riska


"aku cari dia dulu mom, nanti aku ceritain" Rafa bergegas pergi dari rumahnya untuk mencari keberadaan zifana


"anak kita kenapa dad" mommy Riska bertanya pada suaminya yang di jawab dengan mengedikkan bahunya "entah lah" balas daddy ken


***


ponsel Rafa terus berdering namun Rafa abaikan karena nama yang tertera di ponselnya.


berkali-kali berdering membuat Rafa jengah dan terpaksa mengangkatnya " ada apa? " tanya Rafa


"kau memblokir kartuku? " tanya clarissa


"sekarang aku tak akan memberikan sepeserpun uangku padamu. aku tak sudih lagi" umpat Rafa kesal akan sikap clarissa


"kenapa? " tanya clarissa


"masih berani tanya kenapa? " Rafa berdecak kesal


"siapa yang memberimu izin memakai nama calon istriku sembarangan  hah! " teriak Rafa


"itu.... " suara clarissa tercekat akan teriakan Rafa tak mampu berucap


"aku selama ini gak mempermaslahkan kau memakai calon istriku di luaran sana, tapi berani-beraninya kau memakai itu pada orang tuaku, dan juga padanya hah!" teriak rafa


"aku hanya ingin membantumu melepaskannya raf, bukannya kamu bilang gak mungkin bersamanya karena perbedaan kalian" balas clarissa mencoba membela diri


"sampai aku kehilangannya, aku pasti aku menghabisimu dan keluargamu itu akan bangkrut karena memancing amarahku! " teriak Rafa langsung menutup panggilannya secara sepihak


rafa merebahkan kepalanya di meja kerjanya "aku harus cari kamu kemana lagi, apa kau marah sama kakak" gumam rafa