
askar sedang duduk santai di kursi tunggu bandara sembari memainkan ponselnya
"askar aku kangen" syakia langsung memeluk askar erat
"hmmm" sahut askar diam saja tanpa membalas pelukan syakia
syakia menautkan kedua alisnya "kamu gak kangen aku, kita dua bulan lebih gak ketemu loh askar? " tanya syakia
"kau pasti lelah, ayok pulang" askar mengurai pelukannya dan menarik koper syakia keluar area bandara membuat syakia diam melongo melihat punggung askar yang makin menjauh meninggalkan dirinya begitu saja
***
askar meminta pelayanan rumahnya untuk membawa koper syakia masuk ke dalam kamarnya
"mami" syakia memeluk mami aira
"kau pulang" sapa mami aira
"iya mih" balas syakia tersenyum
"oma" syakia memeluk oma diana
"kau pasti lelah istirahat saja" ucap oma diana mengurai pelukannya
"pih" syakia mencium punggung tangan papi dylan
"apa kau sudah jauh lebih baik? " tanya papi dylan ketus
"ha? " syakia tercengang dengan pertanyaan papi dylan yang terkesan ketus itu
"sudah semuanya, syakia pasti lelah" askar mengajak syakia naik ke lantai atas menuju kamar mereka berdua
"jenny mana askar, kok aku gak lihat dia? " tanya syakia
"dia tinggal di rumah orang tuanya mulai kemarin" balas askar
" kenapa? " tanya syakia
"dia gak mau bikin kamu gak nyaman, jadi dia minta tinggal di sana dan aku mengizinkannya" balas askar
mereka membuka pintu kamar "sekarang kamu semakin dekat dengan istri muda mu itu? " tanya syakia dengan sinis
"tentu, dia mengurusku dengan baik jadi tak ada alasan aku tidak dekat dengannya" balas askar
"aku juga bisa melakukan apa yang jenny lakukan, masak, nemenin kamu kerja, aku juga bisa itu semua yang jenny bisa" ucap syakia
"kau mengintai ku rupanya? " gumam askar terkekeh mengetahui dirinya dan jenny
syakia sadar kelepasan bicara "aku hanya peduli padamu askar" syakia berusaha meraih tangan askar tapi askar mundur beberapa langkah menghindari syakia
askar membuang mukanya "aku hanya izin setengah hari jadi aku harus kembali" askar berjalan menuju pintu
"istri kamu itu baru pulang askar kamu malah ninggalin dia begitu saja" cicit syakia tak Terima jika di tinggalkan begitu saja padahal ia baru kembali
"emang aku yang minta kamu pergi begitu lama? kamu dulu hanya minta izin padaku selama satu minggu syakia bukan dua bulan! " bentak askar bergegas pergi dari kamarnya
***
"sayang" sapa ara membuka pintu ruangan suaminya
"kok datang sih, nanti kecapean loh" viko mengusap perut ara yang sudah terlihat cukup besar walau baru 3 bulan karena ara yang sedang hamil anak kembar
"kangen" ucap ara memeluk viko
"duh istriku makin manja" kekeh viko membalas pelukan ara
"oh ya mas tadi waktu aku nitip Gilang ke rumah mami, katanya syakia mau pulang" ucap ara
"iya dia mau pulang, mungkin sekarang sudah sampai rumah" balas viko
"orang tua kamu belum tahu perihal syakia? " tanya ara
viko menggeleng "itu urusan askar sayang, kita sebaiknya gak ikut campur" balas viko
"ya sudah deh, gimana baiknya menurut mas saja" balas ara
***
jenny baru menyelesaikan ujian akhir semesternya dan ia begitu lelah karena kehamilannya
"duh pegalnya" jenny mengusap pinggangnya yang pegal keluar kelasnya
"sini aku bantu" bastian menghampiri jenny yang berjalan di lorong
jenny menghempaskan tangan bastian "apa sih jen, kakak cuma mau bantu kamu" balas bastian merasa tak salah apapun
"ayolah kak, aku ni sudah bersuami jadi jangan melewati batas" peringat jenny
"kamu minta cerai dari pria itu saja, dia cuma mau jadiin kamu pabrik anak doang karena istrinya gak bisa kasih dia anak" bastian sudah tahu jenny istri kedua dari Rafa yang tak sengaja berucap saat sedang mabuk
"jaga bicara kakak ya" bentak jenny
"aku bisa sayang sama anak kamu jen, jadi bercerai lah dan menikah dengan ku " ucap bastian meraih tangan jenny
jenny mundur beberapa langkah "kakak gila! " teriak jenny
Bastian memaksa menggenggam tangan jenny, membuat jenny ketakutan karena tak ada yang berani menyentuh tangannya selain anggota keluarganya dan askar suaminya "jangan macam-macam ya kak! " teriak jenny
"aku tuh cinta sama kamu jenny, aku gak rela kamu menikah dengan orang lain apalagi jadi istri kedua, kurangnya aku dari dia itu apa? dari segi harta aku juga gak kalah jauh, tampan aku juga jauh lebih tampan dan yang pasti aku single" cicit bastian mengutarakan pikirannya pada jenny
"lepas kak! " teriak jeni meronta minta di lepaskan
"enggak! aku gak mau melepaskan kamu" balas bastian
"bugh" Bastian langsung terpental jauh dari jenny
"jaga tangan kamu atau aku akan patahkan tangan kamu itu! " teriak askar langsung menghajar bastian
bastian mengusap sudut bibirnya yang berdarah "aku gak salah dong ingin merebut jenny dari kamu, kamu saja punya dua istri" cicit bastian tak takut sama sekali saat askar tahu bastian menginginkan istrinya
"kau" askar ingin kembali menghajar bastian tapi di tahan jenny dengan menggelengkan kepalanya ke arah askar
jenny menatap tajam bastian "jangan melewati batas kak. kakak pikir saat kakakku tahu perbuatan kakak ke aku kak Bastian akan selamat" jenny menggelengkan kepalanya
"harusnya kakak tahu seberapa sayangnya kakakku itu padaku, dalam hitungan detik pasti dia akan segera tahu dan akan membalas berkali lipat pada kakak" ucap jenny lantang
dan benar saja ponsel bastian langsung berdering dengan nyaringnya
mata bastian langsung membelalak lebar kala melihat nama yang tertera di ponselnya "kita belum selesai" bastian meninggalkan jenny dan askar dengan langkah cepat
"kau gak papa kan jen" askar memeriksa tubuh jenny
"aku gak papa" balas jenny memeluk tubuh suaminya agar suaminya tak khawatir lagi
*
askar membawa jenny masuk ke dalam ruangan kantornya
"kak aku pulang saja ya" pinta jeny merasakan tak enak berada di ruangan askar karena pasti syakia akan tak suka jika melihat jenny di ruangan suaminya
"nanti saja, kakak selesaikan pekerjaan kakak dulu terus antar kamu pulang" balas askar
"ceklek" pintu ruangan askar terbuka
"askar aku beliin kamu makan" ucap syakia menghampiri askar tak melihat ada jenny di sana
"aku gak lapar syakia, kamu tawari saja jenny" balas askar fokus pada komputernya
"jenny" syakia mengedarkan pandangannya "ngapain kamu di sini? " tanya syakia dengan nada tak suka pada jenny
askar langsung mendongak, ia tak suka dengan nada bicara syakia "kenapa emangnya? dia kan istriku jadi gak masalah dong" balas askar
"askar! " teriak syakia
"kak aku pulang saja ya" jeny merasa tak enak hati dengan syakia
askar menahan tangan jenny "jangan membantah ucapan suami kamu, kakak bilang apa tadi? " ucap askar dengan tetap menatap syakia tajam
"kamu sengaja seperti ini askar? kamu sengaja mau melukai aku? " tanya syakia
"melukai yang bagaimana? " tanya askar dengan nada sinis
syakia menunjuk jenny "ini kau membawanya di hadapanku, apa belum cukup aku memberikan waktu berduaan padamu selama dua bulan hah? " kesal syakia
"yang minta itu ke kamu siapa? " tanya askar
"aku tuh istri kamu askar, bagaimana bisa kamu tega membawa wanita lain di hadapanku" tangis syakia makin pecah
"kamu lupa kalau jenny itu juga istriku, dan aku menikah dengannya atas permintaanmu! " teriak askar menunjuk syakia
"kenapa kau jadi sekasar ini padaku askar" tanya syakia terisak
"kamu pikir saja sendiri" askar meraih tangan jenny meninggalkan syakia yang masih terisak