
Keadaan rumah papi gunawan sudah tak terlihat jelas lagi karena ulah tante siska yang kesal dan memecahkan barang-barang di rumah papi gunawan
papi gunawan hanya diam saja tak menghiraukan perbuatan tante siska “apa begini caramu membalasku? Setelah 15 tahun yang kita lalui bersama?” tanya tante siska menatap tajam papi gunawan
Papi gunawan berdecih "apa aku yang memintamu untuk tinggal disini? apa aku memaksamu? "papi gunawan menyipitkan matanya ke arah tante siska
“aku sudah membalas perbuatan ku padamu, aku tak mengusir mu menjauh selama 15 tahun ini. Aku juga menyekolahkan kedua anakmu sampai selesai . Membiarkan mereka mengurus perusahaan. Bahkan aku mentolerir sikap mereka yang sudah kelewatan!” balas papi gunawan mulai emosi pada tante siska
papi gunawan berdiri menatap tajam ke arah tante siska “berapa kali ku bilang, semua yang kumiliki adalah hak anakku, bukan hak mu ataupun anak-anak kamu itu!” balas papi gunawan penuh dengan penekanan
tante Siska merubah raut wajahnya memelas “mereka juga anakmu sayang” balas tante siska menggenggam tangan papi gunawan
papi gunwan menampik tangan tante riska “apa pernah mereka menghormati ku?” papi gunawan menggeleng “apa mereka memanggilku ayah?” papi gunawan kembali menggeleng “tidak, yang ada mereka membenciku karena aku yang bermain dengan mamanya di belakang ayahnya, membuat ayah mereka meragukan kelahiran mereka” balas papi gunawan mengingat tante siska yang diceraikan dan di tinggalkan begitu saja oleh mantan suaminya dan kedua anak siska tak di yakini sebagai anak kandung mantan suaminya
“tapi kau janji akan menebus perbuatan mu padaku?” tanya tante siska
“aku sudah menebusnya, aku selalu mentolerir apapun yang kau lakukan selama 15 tahun ini, berapa banyak uang yang kau habiskan dalam sehari, membuatku harus pontang-panting selama 15 tahun. Tapi kali ini sudah cukup siska, anakmu sudah besar, tak butuh dana dariku lagi. Aku sudah menyerah padamu, aku lelah” balas papi gunawan
“kau tidak bisa seperti ini! Kau sudah menghancurkan hidupku” balas tante siska tak terima
“apa kau fikir aku tak hancur, aku berpisah dengan wanita yang paling aku cintai seumur hidupku" papi gunawan menatap nanar tante siska "aku berpisah dengannya selama 15 tahun karena mu!” balas papi gunawan tak kalah berteriak
Papi gunawan bergegas melangkah meninggalkan tante siska “aku sudah melakukan lebih dari yang seharusnya untukmu, sekarang bersandarlah pada anak-anakmu. Jangan melibatkan aku lagi dalam hidupmu. 1 kesalahanku sudah ku tebus selama 15 tahun ” ucap papi gunawan
***
Sepanjang perjalanan Dylan hanya diam saja dengan raut wajah kesal. Sampai rumah pun masih seperti itu
“bang” panggil aira
“iya”Dylan menoleh ke arah aira
“laper” rengek aira yang memang kelaparan karena awalnya mereka akan makan setelah ke dokter tapi nyatanya harus bertemu papi gunawan
Dylan menepuk jidatnya “ya ampun, abang ampe lupa kalau kamu belum makan, pasti lapar ya? Abang beli di luar dulu ya” ucap Dylan berniat pergi dari rumah
Aira menahan tangan suaminya “ kalau beli di luar keburu lapar, masakin nasi goreng aja” balas aira lirih
“ya sudah, abang masakin ya” Dylan bergegas menuju dapur
Dylan menyiapkan bahan-bahan untuk memasak nasi goreng pesanan aira “bang, masaknya dengan wajah senyum ya, kalau mukanya masam gitu, nanti masakannya jadi gak enak loh” ucap aira
Dylan mendongak ke arah h istrinya “maaf ya ra” pinta Dylan
“kenapa abang malah minta maaf?” tanya aira
“karena kamu melihat kemelut keluarga abang” balas Dylan
Aira menggenggam satu tangan Dylan “kan aira sudah bilang, keluarga abang itu keluarga aira juga. Lagian abang juga sudah pernah liat hancurnya keluarga aira jadi, ini bukan masalah bang, yang penting abang ceritakan saja kegundahan hati abang ke aira, jangan memendamnya seorang diri” ucap aira
Dylan menghampiri aira lalu memeluknya erat “aira” aira mengelus punggung Dylan
“abang harus bagaimana? Abang tahu betul keadaan perusahaan itu sekarang, tapi abang
gak mau ninggalin pekerjaan abang” ucap Dylan menceritakan kegelisahannya
“abang percaya sama aira enggak?” tanya aira
Dylan melonggarkan pelukannya, menatap aira bingung “abang lupa ya? Aira itu murid cerdas”
balas aira menepuk dadanya
“tapi maksudnya apa? Abang gak ngerti” balas Dylan
“nanti aira jelaskan. Sekarang abang selesaikan masaknya dulu, aira laper. Anak abang
protes terus tuh” tunjuk aira pada perut ratanya dengan matanya
Dylan tersenyum “iya ra, abang lanjutin masaknya dulu ya” Dylan memasak nasi gorrng g dengan cekatan dan cepat
Setelah selesai memasak, Dylan membawa aira makan di ruang keluarga sambil menonton TV
“nih makan ra” Dylan menyuapi aira yang sedang menonton tv
Aira menerima suapan Dylan sambil tetap focus pada acara drama di hadapannya “bagus
dramanya ya bang” tanya aira
“abang mana tahu tontonan begitu” balas Dylan
Aira terkekeh “oh ya, abang kan gak pernah nonton ini ya” balas aira
“enak kok bang, lagian aira juga sudah laper banget dari tadi” balas aira
“maaf ya sayang, bikin kamu kelaperan saat hamil pula” balas Dylan mengusap perut Aira
“iya” balas aira
Setelah makan, Dylan membereskan piring sisa
makan aira dan dirinya di dapur, lalu bergegas menghampiri aira
“tadi kamu ngomong apa ra, abang masih penasaran nih?” tanya Dylan ingin melanjutkan pembicaraan saat ia memasak
"abang percaya Aira gak? " tanya Aira
"tentu saja" balas Dylan
Aira membenarkan posisi duduknya “gini bang, kak rino kan kerja di bidang yang sama
dengan perusahaan abang, abang tarik dia saja, untuk bekerja di perusahaan abang” usul aira
Dylan mengangguk “boleh juga idemu” balas Dylan
“kalau untuk keuangan, nanti aira akan bantu periksa kebetulan minggu depan sekolah
kan libur pertengahan semester” balas aira
Dylan menautkan kedua alisnya “emang kamu ngerti urusan keuangan?” tanya Dylan
“ngerti dong, lebih ngerti dari pada abang yang gak pernah nyentuh begitu sama sekali. Kan aira sering bantu perusahaan cabang kak david jadi aira ngerti betul urusan begituan” aira memang sering membantu perusahaan kak david di sela aktivitas mengajarnya dan saat dulu ia masih berkulilah
“abang kan masih di kepolisian jadi sebaiknya jangan turun langsung ke perusahaan takut ada masalah di belakang dengan urusan pekerjaan. Besok abang ketemu sama pengacara papi untuk bikin surat kuasa, minta limpahkan tugas operasional pada kak rino saja. Sedangkan kita bantu lewat belakang aja. Pekerjaan kita gak cocok untuk terjun langsung di perusahaan ” usul aira
“iya ra” balas Dylan mengerti maksud aira yang mengatakan dirinya dan aira tak cocok terjun bekerja di perusahaan
***
2 minggu kemudian
Kak rino berjalan dengan langkah besar menuju rumahnya
“aira!” teriak kak rino yang sudah tahu adik bungsunya ada di rumah
“hai kakak” sapa aira melambaikan tangannya dengan santai ke arah kakaknya
Kak rino menunjuk aira dengan kesal “berani kamu ya ra, main asal pindahin tempat kerja kakak!” teriak kak rino yang baru mendapat pemberitahuan perusahaan ia bekerja bahwa ia diberhentikan. dan yang lebih membuat kak rino terkejut karena atasannya memberi selamat jabatan kak rino yang baru
Aira terkekeh “maaf ya kak, tapi aira sudah gak tahu lagi harus minta bantuan siapa?” balas aira
“jangan marah-marah rino, bicara baik-baik dengan adikmu” nasehat ibu mardiana mengelus lengan putranya itu
“ya gimana rino gak kesel coba bu, rino itu Cuma manager di kantor, sekarang rino di suruh jadi CEO pula. Apa gak salah coba?” kesal kak rino menceritakan masalahnya pada ibunya
“tapi aira tahu betul kemampuan kakak kok, kakak pasti bisa” balas aira mengepalkan tangannya pada kakaknya itu untuk tetap semangat
“ tapi gak gitu juga caranya ra? Kamu tahu masalah apa yang nanti akan kakak hadapi kalau bekerja di sana, bawahan yang sama sekali gak kakak kenal, dan kondisi yang seperti apa, kakak juga gak tahu” balas kak rino
“kalau untuk itu abang jangan khawatir, aira gak main asal tari-tarik abang dari perusahaan itu seenaknya dong. Aira kemarin sudah inspeksi ke perusahaan. Sudah minta semua laporan keuangan dan kerjasama perusahaan. Aira juga sudah memilahnya dan memberi tanda kesalahannya. Ada notes di setiap berkasnya, untuk pratinjau langkah abang selanjutnya” aira mengambil laptop dari dalam tasnya
“ini juga aira sudah membuat beberapa langkah untuk mengatasi masalah perusahaan” aira
membuka laptopnya menunjukkan pada kakaknya file-file rencana bisnis Aira
“kamu sudah menyiapkan semua ini dalam jangka waktu 2 minggu?” tanya kak rino gak percaya bahwa adiknya sehebat itu
“abang lupa ya, semenjak kuliah kan aira sering bantu perusahaan kak david, walaupun melalui jalan belakang sih. Tapi aira paham betul kondisi perusahaan seperti milik bang Dylan” jelas aira
“kenapa gak kamu aja yang handel perusahaan?” tanya kak rino
“plak” ibu mardiana memukul kepala kak rino dengan sebuah map
“adikmu itu sedang hamil rino, dia juga mengajar. Bisa drop kalau handel perusahaan. Jangan lupa gimana baiknya Dylan sama adikmu jadi bantu dia” pinta ibu mardiana yang lebih terkesan suatu perintah
Aira terkekeh dengan pembelaan ibunya “yang jadi masalah sekarang, adalah anak-anak tante siska, kalau untuk kak johan, gak terlalu masalah, karena dia focus di kantor cabang dan gak terlalu ikut campur dengan managemen. Yang jadi masalah adalah Kendra yang menjabat direktur pelaksana, terlalu banyak kerjasama perusahaan yang melibatkan dia, jadi kakak harus ekstra mengurusnya” balas aira
Kak rino menghela nafas kasar “baiklah, demi pejuang Negara seperti kalian , kakak rela deh lewatin medan perang buat kalian” ucap kak rino terpaksa menuruti keinginan aira
“terima kasih kakak” balas aira memeluk kak rino, menciumi pipi kakaknya gemas