Live In The Foly Of Love

Live In The Foly Of Love
Kebahagiaan menyambut lahirnya Baby Twins



***


Dylan dan aira sudah berada dalam mobil ambulans menuju rumah sakit. Dylan menghendong bayi perempuannya sedang bayi laki-laki dylan dan aira digendong oleh salah satu perawat yang ikut berada dalam mobil ambulance


“anak papi” ucap dylan mengajak bicara putri kecilnya yang terus menggeliat walaupun matanya  masih terpejam karena belum bisa membuka mata dengan bebas


Dylan menatap lekat aira yang ada di hadapannya “terima kasih ya sayang sudah memberikan abang harta terindah dalam hidup abang” ucap dylan dari dasar lubuk hatinya, berterima kasih pada aira istrinya yang telah memberikan sepasang anak untuk dirinya


aira tersenyum hangat ke arah dylan “sama-sama abang, terima kasih juga sudah membantu aira melahirkan” balas aira tak menghilang senyum yang ada di wajahnya


“oh ya bang, gimana sama kak Kendra?” Tanya aira yang tiba-tiba teringat kendra yang menculiknya dan menyebabkan ia harus melahirkan di tengah hutan dan dalam keadaan yang ekstrim, tapi sedari tadi ia tak melihat batang hidungnya sama sekali


“ah tadi dia di bawa prastyo, katanya sih biar dia yang urus Kendra, karena abang lagi sibuk sama kamu dan kedua anak kita, ya sudah abang iyain aja” dylan mengedikkan kedua bahunya "dan entah si kendra di apain sama dia" balas dylan


Aira mengerutkan keningnya merasa ngilu dengan hal yang ada di pikirannya, karena tahu betul bagaimana sifat prastyo yang sangat mengerikan saat mode devilnya keluar


“gak kebayang aku bang, kak Kendra jadi apa nanti kalau di tangan kak prastyo “ cicit aira merinding


“biarin saja ra, salah sendiri dia ganggu adik kesayangannya” balas dylan mencolek pipi aira


“tapi beneran loh bang, kak prastyo itu gak akan nanggung-nanggung loh bikin pelajaran buat kak Kendra. Waktu dia balas dendam sama mas razi yang sempet bikin aira koma saja, dia bikin mas razi sempet koma juga sebulan padahal aira kan gak koma selama itu” ucap aira menceritakan balas dendam yang dilakukan prastyo untuk dirinya pada ayah kandung viko


“biarin saja lah ra, yang penting abang sudah ingatkan prastyo untuk jangan membunuhnya, biar dia bisa mendekam di penjara sampai lama untuk memberinya pelajaran” balas dylan


“iya bang” balas aira mengangguk


***


Aira sedang melakukan inisiasi asi pertama untuk anak-anaknya dengan di dampingi dylan yang mengamati dengan takjub bagaimana proses seorang bayi mencari sumber kehidupannya “ya ampun gemesnya” gumam dylan melihat anaknya yang sedang mencari sumber kehidupan dari ibunya


Aira menoleh kearah dylan dan terkekeh “semua hal abang bilang lucu tentang anak abang ini” gumam aira menggelengkan kepalanya melihat raut wajah bahagia suaminya


“oh ya, abang sudah kasih kabar sama viko kan kalau aira sudah melahirkan” Tanya aira


“tadi abang sudah titip pesan ke ibu, soalnya waktu abang telfon, viko masih tidur, secara kita pulang dari sana jam 4 pagi” balas dylan melirik jam tangannya “tapi mungkin mereka sedang dalam perjalanan ke sini” ungkap dylan yang melihat sudah pukul 8 pagi


“ya sudah bang, yang penting keluarga sudah tahu kalau aira sudah melahirkan” balas aira


Setelah aira selesai menyusui anak-anaknya, dylan membopong baby twins ke boks tidur mereka dengan sangat berhati-hati "selamat tidur anak-anak papi" ucap dylan menyelimuti anak-anaknya sebatas dada


“mami” panggil viko lantang saat membuka pintu ruang rawat aira


"hussst" aira meletakkan telunjuknya ke arah viko “jangan keras-keras sayang, adikmu baru tidur” ucap aira mengingatkan viko agar tak mengeluarkan suara keras


Viko menggaruk tengkuknya yang tak gatal “maaf mih, abis viko seneng banget denger adik viko sudah lahir” balas viko terkekeh


“sini sayang lihat adik-adikmu dulu” dylan melambaikan tangannya memanggil viko untuk mendekat agar bisa melihat kedua adiknya yang sedang tertidur pulas setelah makan


Keluarga besar aira mulai memasuki ruang rawat aira, untung saja dylan memesan kamar VVIP yang cukup besar jadi semua keluarga aira bisa masuk untuk menjenguk dan tidak harus bergantian


“selamat ya aira, punya anak kembar” ucap kakak-kakaknya yang begitu takjub melihat bayi kembar


ya karena di keluarga aira tak ada yang mempunyai bayi kembar, karena mungkin tak ada hen pembawanya, tapi kali ini adik bungsu mereka mempunyai anak kembar


“tapi ngomong-ngomong kamu dapat gen dari mana sih


punya anak kembar?” Tanya kak dino yang pernah mendengar bahwa mempunyai anak


kembar pasti ada gen pembawanya


“itu dari orang tua papi kak, kakek papi kembar tapi karena kakek dylan sudah meninggal dan kembarannya yang menetap di luar negeri kalian gak ada yang tahu” ucap dylan mewakili menjawab pertanyaan kak dino


“oh” balas kak dino mengangguk


dylan menoleh ke arah ibu mertuanya yang berada tak jauh dari tempat tidur aira"oh ya bu, boleh minta tolong gak?” Tanya dylan


ibu mardiana mendongak menatap dylan “tolong apa dylan?” Tanya ibu mardiana balik


“untuk sementara tinggal dulu di rumah dylan sampai dylan dapat baby sitter yang cocok buat adik-adik viko, soalnya mami kan sedang sibuk urus papi yang sakit jadi walaupun mereka pulang pasti gak bisa bantu jaga” jelas dylan


ibu mardiana tersenyum menanggapi permintaan dylan “tenang saja dylan, ibu akan tinggal di rumah kamu buat bantu urus baby twins” balas ibu mardiana


“terus ayah gimana?” Tanya ayah subrata menunjuk dirinya


“ya ayah ikut saja tinggal di rumah dylan" sahut dylan


Ayah subrata mengangguk senang, ayah subrata menoleh kearah rino “jangan lupa jaga istrimu dengan baik selama kami gak di rumah”


ucap ayah subrata memperingati rino


“iya yah” balas rino mengangguk


Senyumnya langsung terbit mengingat kini dirinya hanya berdua saja dengan istri tercintanya “asyik bisa manja-manjaan dan gak


ada yang ganggu” gumam rino yang masih terdengar jelas di telinga kakak-kakaknya


yang masih ada di sana


“ya ampun rino, ingat istrimu sedang hamil besar jangan kelewatan kamu” ucap kak fahri mengingatkan adik laki-lakinya yang suka lupa kontrol


Rino menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena malu


“iya kak” balas rino terkekeh


“kamu sudah siapin nama belum untuk anak kamu?” Tanya ayah subrata


“sudah yah, namanya Yashaskar Virendra Mahardika dan  Raina Eila Mahardika “ ucap dylan memberitahukan nama anak yang sudah ia siapkan


“wah bagus sekali namanya” balas ibu mardiana


"iya dylan, kamu pinter cari nama" tambah ayah subrata


dylan tersenyum bahagia melirik kedua anaknya


"selamat datang di keluarga besar mahardika, adik-adik kak viko" viko mengusap pipi kedua adiknya secara bergantian " adik askar dan adik eila" ucap viko dengan senyum mengembang