Live In The Foly Of Love

Live In The Foly Of Love
Tahu alasan sebenarnya (season 2)



***


“eila” panggil mami aira


“iya mih ada apa?” Tanya eila yang sedang sibuk membantu omanya berkebun di kebun belakang rumahnya


“bantuin om rino ambil obat di klinik dokter ken sayang” pinta mami aira


“sih jeremy kemana? Itu kan tugas Jeremy” sahut eila


“ayolah eila bantu om kamu, si Jeremy kabur entah kemana sudah dua hari, om kamu kan gak boleh telat minum obat, tante kamu lagi bantu urus kakekmu yang sedang sakit, masa kamu tega” ucap mami aira


“ya sudah deh mih, eila yang ambil obatnya” balas eila


Eila berjalan dengan langkah malas menuju lantai atas di mana kamarnya berada untuk


berganti pakaian


*


Eila menuju klinik milik dokter ken dan mengambil resep dari dokter ken untuk om nya “dokter” sapa eila


“hai eila” sapa balik dokter ken


Eila meletakan ponselnya di nakas dan memeluk dokter ken “kau mau ambil obat om kamu ya?” Tanya dokter ken


“iya dokter” balas eila


“ya sudah nih, ambil di apotek ya” ucap dokter ken menyodorkan secarik kertas untuk eila


“eila ambil dulu ya dok” balas eila bergegas pergi


Setelah kepergian eila dokter ken melirik mejanya “ponsel siapa ini” gumam dokter ken memeriksa ponsel yang ada di atas mejanya


“ah punya eila” gumam dokter ken saat  melihat foto eila di sana “ah nanti juga dia balik lagi” gumam dokter ken kembali duduk, karena dia masih harus menangani para pasiennya


Setelah mengambil obat, eila berjalan menuju parkiran “eh lupa, nanya di anter kemana obatnya” gumam eila berniat mengambil ponselnya


“eh dimana?” eila mencari di dalam tasnya


“aduh, ketinggalan di meja dokter ken” eila menyadari dirinya meletakan ponselnya di meja kerja dokter ken saat mengambil resep obat


Eila memutuskan kembali ke ruangan dokter ken untuk mengambil ponselnya, ia berjalan dengan langkah santai “eh, itu daren ya” gumam eila kala melihat wajah mirip daren


Ara berjalan mengikuti daren tanpa terasa “ini bukannya ruangan dokter ken” gumam eila melihat pintu suatu ruangan yang tertulis nama dokter ken di sana


Eila berjalan mendekat tapi tak berani masuk walupun otaknya sedang bertanya-tanya kenapa ada daren disini


“selamat siang dok” sapa daren


“siang daren” balas dokter ken ramah


“gimana kabar kamu?” Tanya dokter ken


“masih gini saja dok” balas daren


“obatmu sudah habis?” Tanya dokter ken


“iya dok, akhir-akhir ini aku sering gemetaran, apalagi saat bertemu dengannya” balas daren


“deg” hati eila seakan di remas saat mendengar pernyataan daren, eila bisa mendengar obrolan daren dengan baik Karena memang pintu ruangan dokter ken tidak tertutup rapat, dan entah karena apa eila makin penasaran dengan obrolan daren.


untung saja hari itu sedang sepi dan tak banyak pengunjung jadi tak ada yang mengganggu kegiatan eila untuk menguping


“apa wanita yang kau ceritakan kemarin?” Tanya dokter ken


“iya dok, dia” balas daren


“kenapa kamu tak mencoba belajar menerimanya” usul dokter ken


“bagaimana aku bisa dok? Aku saja sakit seperti ini” balas daren


“ayolah daren, kamu hanya punya gangguan kecemasan berlebih bukan tahap scizofrenia” balas dokter ken


“tetap saja aku tak sanggup dok. Dia wanita yang begitu sempurna, cantik, pintar dan dari keluarga terhormat” balas daren


“jangan pesimis sebelum mecoba, coba kau tadi datang lebih awal akan aku kenalkan pada kenalanku, pamannya juga sakit lebih parah darimu tapi istrinya bisa menerima dia dengan baik dan pernikahan mereka sudah bertahan 20 tahun lebih, bahkan anak mereka tak mempermasalahkan keadaan ayahnya” balas dokter ken


"mungkin aku yang pengecut dokter” balas daren


“aku sama sekali tak pantas mencintainya” balas daren


“yang aku Tanya apa kau mencintainya?” ulang dokter ken


“tentu saja, tentu saja aku mencintai eila ku, tapi aku yang terlalu takut” balas daren


Eila menutup mulutnya terkejut dengan ucapan daren “apa aku salah dengar” gumam eila


“ya sudah, kau ambil obatmu di apotik ya” ucap dokter ken menyerahkan secarik kertas pada daren


Mendengar daren yang akan keluar, eila langsung bersembunyi agar daren tak melihat keberadaannya


Daren berjalan ke arah apotik tanpa tahu eila melihat punggungnya yang makin menjauh.


Setelah punggung daren tak terlihat eila langsung masuk kembali ke ruangan dokter ken


“dokter” eila membuka kasar pintu ruangan dokter ken


“astaga eila, untung saya gak ada penyakit jantung, usia dokter sudah tua eila sudah kepala 7” ungkap dokter ken mengingatkan eila perihal usianya


“maaf dok” ucap eila tak enak hati


“kau pasti mau ambil ponselmu ya” dokter ken menyerahkan ponsel eila


“eila emang mau ambil ponsel, tapi ada yang lebih penting” ucap eila


“apa?” Tanya dokter ken


“bisa kasih tahu eila penyakit orang yang tadi baru masuk?”Tanya eila


Dokter ken mengernyitkan dahinya “ jangan sembarangan bertanya eila, dokter terikat sumpah tak sembarang menyebar info  tentang pasien” sahut dokter ken


“ayolah dokter, kau tahu kan dia hanya hidup sebatang kara, aku hanya ingin membantunya” balas eila


“kau tahu daren?” Tanya dokter ken


“iya dokter, tadi aku tak sengaja melihatnya” balas eila


Dokter ken menghela nafas panjang dan duduk di kursi miliknya “dia punya gangguan kecemasan berlebih, kalau menurut rekam medisnya itu sejak usianya 12 tahun kalau saya sih menjadi dokternya baru 8 tahun ini” balas dokter ken


“12 tahun, berarti semenjak kematian orang tuanya?” Tanya eila


“wah kau tahu banyak rupanya” dokter ken tak menyangka eila tahu banyak perihal daren


“ah, aku ingat dia selalu bilang eilaku, berarti itu kamu” tebak dokter ken yang memang benar


“iya dok, itu eila” balas eila


“sejauh apa yang kau tahu tentangnya?” Tanya dokter ken


“orang tua nya meninggal karena kecelakaan setelah berdebat karena mengetahui mereka sama-sama selingkuh dan daren selalu gak percaya dengan namanya hubungan percintaan” balas eila


“lalu?” Tanya dokter ken


“dia terlalu penakut, aku hanya sejauh itu tahu tentangnya” ucap eila


“sebenarnya hal yang paling membayangi pikiran daren adalah saat ayahnya yang saat itu sedang membawa selingkuhannya pulang ke rumah melihat ibunya sedang bersetubuh dengan sopirnya dan daren melihat dengan mata kepalanya sendiri.


saat itu terjadi pertengkaran hebat antara kedua orang tuanya dan saling melempar tanggung jawab mengurus daren jika berpisah. Daren melihat dengan mata kepalanya sendiri perdebatan itu dan karena tak ada ujungnya orang tua daren berkendara ke rumah orang tua dari ayah daren untuk meminta mereka yang mengurus


daren, tapi naasnya terjadi kecelakaan maut itu, dan parahnya lagi orang tua ayah daren ikut meninggal karena saking terkejutnya sedangkan mama daren yang orang tuanya juga sudah meninggal membuat daren hanya hidup seorang diri, dulu ia di asuh om jauh daren yang berada di berlin.


Gangguan kecemasan daren sebenarnya terjadi sejak orang tuanya meninggal tapi makin parah sebelum kepulangan daren ke Indonesia, tantenya selingkuh dari omnya dan berakhir saling baku hantam membuat om nya harus di rawat di rumah sakit cukup lama karena di hajar kekasih tantenya ” jelas dokter ken


“sakit sekali rasanya” cicit eila mendengar kisah daren


“dia punya ketakutan tersendiri eila, makanya dia gak berani menjalin cinta, mungkin dia takut di khianati” tambah dokter ken


“biasanya gimana ciri-ciri saat dia kambuh dan bagaimana mengatasinya?” Tanya eila


“kamu yakin mau tetap terlibat dengannya?” Tanya dokter ken memastikan


“kalau sudah Tanya sama dokter ken itu artinya siap dong” balas eila


Dokter ken menghela nafas” baiklah” dokter ken mulai menjelaskan setiap kondisi daren dan bagamana mengatasi kondisi daren saat kambuh