Live In The Foly Of Love

Live In The Foly Of Love
Jalan-jalan berdua



"nih ra pakaian buat kamu" dylan memberikan paper bag berisi baju santai kaos berwarna putih dan celana jeans yang senada dengan pakaian miliknya


aira membuka papaer bag tersebut untuk melihat isinya "apa aira harus pakai ini? " tanya aira merasa pakaian yang diberikan dylan kurang nyaman dipakai aira


dylan mengernyitkan dahinya "iya, memang kenapa? " tanya dylan heran


" abang lihat deh lengan aira" tunjuk aira pada dylan lengannya yang pernah patah dan terdapat bekas luka di sana


melihat bekas luka di lengan aira yang cukup panjang ada rasa tertusuk di hati dylan


"kurang nyaman ya ra bajunya? ya sudah nanti pakai kardigan saja" balas dylan memegang tangan aira yang terdapat goresan cukup panjang palu mengamatinya cukup lama


"apa ini sakit? " tanya dylan dengan mata berkaca-kaca


ada rasa malu di hati aira karena tubuh aira yang penuh dengan bekas luka jelas terlihat di hadapan suaminya


"udahlah bang, jangan dilihat, tangan aira banyak banget lukanya, waktu itu aira gak operasi karena sudah malas operasi" balas aira menarik tangannya yang digenggam dylan


dylan menahan tangan aira lalu mengecup di bagian yang terdapat luka goresan panjang itu


"maafin abang ya ra kalau dulu abang tetap selalu mengawasi kamu dari jauh mungkin gak akan jadi seperti ini" balas dylan yang tak sanggup menahan air matanya sehingga lolos begitu saja


aira membelalakkan matanya lebar " maksud abang? " tanya aira


dylan tersadar dengan ucapannya dan merasa gugup sendiri karena kelepasan bicara "apa maksud abang ngomong kaya gitu?" ulang aira


dylan menatap lekat aira "maafin abang ya ra, sebenarnya sewaktu abang pulang dari Jerman, abang selalu datang melihatmu, mulai dari saat kelulusan mu saat kamu SMA atau saat kamu masuk kuliah, dan saat kamu pulang kuliah, abang selalu menyempatkan untuk melihatmu walaupun cuma sebentar karena abang terlalu merindukanmu dan sulit menahannya" balas dylan merasa tak enak pada aira


" sampai kapan? sampai kapan abang sering melihat aira dari kejauhan" aira begitu terkejut akan pernyataan dylan


" abang mulai berhenti mengamatimu saat kau pulang ke rumah setelah selesai berkuliah dan minta izin kepada orang tuamu untuk menikah dengannya. abang ngerasa abang yang salah karena ninggalin kamu jadi abang berusaha untuk tidak terlalu sering melihatmu karena abang takut akan membuatmu dalam masalah kalau abang terus melakukannya" balas dylan


aira memeluk dylan " apa sakit? " tanya aira


"sakit apa? " balas dylan bingung


"sakit karena melihat aira menikah dengannya?" balas aira


dylan mengangguk" tentu saja" ucap dylan menangis sesenggukan


aira memeluk dylan mengusap punggung dylan pelan


"aira akan berusaha jadi istri yang baik dan menyayangi abang sepenuh hati " ucap aira


" Terima kasih sayang" balas dylan mulai mengusap air matanya


aira mengambil tisu membantu dylan mengusap air matanya


"yuk bang katanya kita mau jalan-jalan" ajak aira


mereka berganti baju santai yang senada dan membuat mereka terlihat serasi


mereka pun menyusuri jalanan pegunungan disekitar hotel dengan berjalan kaki


"maaf ya ra cuma ngajak kamu bulan madu ke puncak dan cuma berapa hari saja" ucap dylan


aira tersenyum " aira seneng kok bang kesini sama abang, disini udaranya sejuk dan cukup tenang" balas aira


"tapi dulu kan kamu bulan madu ke Jepang sama razi sekarang sama abang malah cuma di ajak ke puncak" balas dylan


"jangan pernah membandingkan dirinya dengan abang, karena dia berbeda dengan abang" balas aira dengan tatapan tajamnya


" maaf ya ra, harusnya abang gak buat kamu ingat tentang dia" ucap dylan tak enak hati.


" perlu abang tahu walaupun kita hanya jalan-jalan ke puncak dan bukannya ke luar negeri tapi kali ini rasanya jauh lebih membahagiakan" ucap aira tersenyum


"benarkah? " tanya dylan


"tentu saja, karena abang adalah orang yang bisa membuat aira banyak tersenyum dengan lepas dan tanpa beban" balas aira


dylan menggandeng tangan aira " semoga kita selalu merasa seperti ini ya ra" ucap dylan


"iya bang semoga" balas aira memeluk lengan dylan lalu bersandar di bahu dylan sambil menyusuri pemandangan alam puncak


dylan melihat anak yang menjual bunga sedang menjajakan bunga ke orang-orang


setelah membeli semua bunga dylan kembali ke aira dengan seikat bunga mawar merah


"bunga cantik untuk wanita tercantik" ucap dylan memberikan bunga pada aira


" makasih ya bang" balas aira tersenyum menerima bunga dari suaminya


mereka berjalan sampai puncak bukit, lalu duduk di bangku yang ada disitu sambil menunggu matahari terbenam


"bukankah terlihat indah" ucap dylan memandang matahari terbenam


" iya indah" balas aira


dylan menarik satu tangan aira lalu mengecupnya " tapi tak seindah dirimu" ucap dylan


"abang sekarang suka menggombal ya" ucap aira terkekeh


" apa seperti itu" balas dylan menarik pinggang aira lalu mengecup benda kenyal milik aira


"ih kita lagi di luar bang banyak orang pula, malu" ucap aira melirik sekeliling yang memang cukup ramai


" berati kalau di tempat sepi boleh ya? " tanya dylan mengedipkan sebelah matanya


"ya gak gitu juga bang" balas aira malu-malu


"ya sudah yuk balik ke hotel aja sambil nyari makan pas jalan pulang" ucap dylan menggandeng tangan aira


cukup lama mereka berjalan mereka menemukan penjual makanan seafood dan es kelapa muda


"bang kita makan itu saja" ucap aira menunjuk kios berupa tenda di arah jalan pulang mereka menuju hotel


"ya sudah " balas dylan menggandeng tangan aira masuk ke dalam tenda penjual makanan seafood tersebut


" mau pesan apa ra? " tanya dylan


"abang saja yang pesan aira gak pilih-pilih kok soal makanan" balas aira


"baiklah" dylan menuju penjual makanan lalu memesan banyak makanan untuk aira


setelah makanan datang mereka pun mulai menyantap makanan yang ada di meja sambil bercanda gurau


"oh ya bang, tadi mami kirim pesan, kalau dia sudah sampai dan sudah di rawat di rumah sakit" ucap aira


"kalau begitu kita akan telfon mami saat dia akan operasi" balas dylan


" iya bang" balas aira


setelah selesai makan mereka memutuskan berjalan kaki untuk kembali ke hotel agar bisa menikmati waktu lebih lama sambil bergandengan tangan


sesampainya di kamar aira langsung berbaring di ranjang "ra mandi dulu, kan kita abis dari luar dan kotor" ucap dylan mengingatkan


"aira capek bang" aira makin meringsek di kasur karena memang dirinya merasa begitu lelah


" ya sudah kamu istirahat dulu, biar abang yang mandi dulu baru kamu mandi" ucap dylan


setelah dylan selesai gantian aira masuk kamar mandi untuk membersihkan diri


aira keluar kamar mandi lalu melihat suaminya yang sudah berbaring diranjang aira pun ikut masuk dalam selimut lalu memeluk dylan


"abang lagi apa sih serius banget liatnya" tanya aira yang melihat dylan melihat ponselnya dengan cukup serius


" ah, cuma lihat laporan saja" balas dylan menutupi ponselnya lalu balas memeluk aira


" abang" panggil aira lirih


"iya sayang" balas dylan mengecup kening aira


" boleh aira tanya? " tanya aira


" tanya apa? " balas dylan sambil memainkan rambut aira


" tentang papinya  abang" ucap aira


dylan membelalakkan matanya lebar " kenapa kamu tiba-tiba bertanya tentang dia" balas dylan terlihat kesal mendengar ayahnya di sebut-sebut