
kebiasaan setiap pagi keluarga arsello menyempatkan untuk sarapan bersama di meja makan kelaurga agar makin mempererat keakraban mereka
"cucu oma, ayo berjemur dulu" cicit mommy riska ingin membawa raditya jalan-jalan setelah sarapan
"makasih ya mom" jenny melirik mommy riska yang menggendong raditya
mommy riska berhenti tepat di samping meja makan "sudah layani suamimu makan dulu" ucap mommy riska
jenny mengambilkan makan untuk askar dengan telatennya " nih kak makannya" jenny menyerahkan piring yang sudah iya isi makanan
"terima kasih sayang" askar menerima pemberian istrinya dengan senang hati
daddy ken melirik jenny "kamu sudah pasang KB belum? jangan sampai nanti kamu kaya ara. ingat kamu masih mahasiswa semester akhir" ucap daddy ken mengingatkan jenny agar tak hamil dulu karena jenny yang masih kuliah dan raditya yang masih berusia 3 bulan, dan nanti pasti akan sangat merepotkan jika jenny hamil lagi
"sudah dad, kemaren kakak antar jenny buat pasang KB implan " balas jenny
rafa menyodorkan piring kosongnya pada zifana "apa?" tanya zifana
rafa hanya melirik ke arah meja makan membuat zifana menghela nafas dan mengambilkan makanan untuk rafa "nih" zifana menyerahkan piring yang sudah di isi makanan
mata rafa membelalak lebar "buset, emang kakak mau perang!" rafa begitu terkejut dengan banyaknya makanan yang di ambil zifana untuknya, yang lebih mirip sebuah gunung nasi itu
"salah sendiri manja" ketus zifana
daddy ken melirik anak sulungnya "kamu juga ngapain minta zifana yang ambilin, ngambil sendiri kan bisa. tanganmu kan masih berfungsi dengan baik" kesal daddy ken
"latihan jadi istri" kekeh rafa yang langsung mendapat lirikan tajam semua orang yang ada di meja makan
rafa mengangkat kedua tangannya "maksudnya untuk calon suaminya nanti" kekeh rafa lagi
*
rafa sudah memarkirkan mobilnya di halaman sekolahan zifana "kamu nanti pulang jam berapa?" tanya rafa
"paling sekitar jam 7 malam deh kayanya" balas zifana
"buset malam amat, sekolah apaan tuh" kaget rafa yang mendengar jam pulang zifana jam 7 malam padahal zifana kan masih SD
rafa selalu lupa bahwa zifana sekolah di sekolah internasional yang memakai sistem full day, jadi pasti pulang sore dan jika ada tambahan kegiatan bisa pulang malam
"aslinya pulang jam 5 kak, tapi kan hari ini jadwal ngaji kelas zifana jadi zifana pulang malam" balas zifana
"oh" rafa mengangguk paham
"ya sudah kakak jemput jam 7 ya" ucap rafa mengacak rambut zifana
"oke" zifana langsung turun dari mobil dan bergegas masuk ke kelasnya
*
tepat jam 7 malam gadis berusia 10 tahun itu sedang menunggu rafa datang untuk menjemputnya di halaman sekolahnya
"kemana sih nih kak rafa lama banget" gumam zifana memainkan kakinya menggusar tanah di hadapannya
20 menit menunggu mobil rafa akhirnya datang dan berhenti di hadapan zifana
"lama banget sih kakak" kesal zifana langsung membuka pintu mobil di kursi depan
"ceklek" zifana membulatkan matanya menatap tajam wanita yang duduk tepat di samping rafa
zifana menggeser kepalanya agar bisa bersitatap dengan rafa "siapa dia!" tunjuk zifana tak suka pada wanita berpakaian minim itu
"teman" kekeh rafa
"hah?" wanita cantik tersebut hanya melongo mendapat perintah dari zifana yang jelas ia lihat hanyalah seorang anak kecil
zifana kembali melirik rafa sembari tetap menunjuk wanita seksi di hadapannhya "suruh dia pindah, atau aku telfon aunty untuk antar sopir ke sini" ancam zifana
rafa menelan salivanya kasar mendengar nama mommy nya di sebut "pindah cepat" rafa meminta pada wanita berpakaian kurang bahan itu untuk pindah
"apaan sih rafa" rengek wanita tersebut karena malah dirinya yang harus pindah
"pindah!" rafa menatap tajam wanita tersebut membuat wanita tersebut terpaksa turun untuk pindah ke kursi belakang
zifana duduk dengan santai di kursi samping rafa "siapa dia?" tanya zifana pada rafa yang sedang menyetir mobilnya
wanita berpenampilan seksi yang bernama Diandra itu menatap tak suka ke arah zifana "apa urusannya denganmu, setahuku adik rafa hanya jenny jadi kayanya kamu gak punya hak untuk ikut campur urusan rafa deh" kesal diandra
"jelas ini urusanku, aunty nitip kakak sama aku untuk basmi hama pengganggu di hidup kakak" zifana menoleh ke belakang melirik diandra dari atas sampai bawah "gak punya uang ya? sampai beli pakaian kurang bahan kaya gitu" ucap zifana dengan polosnya
diandra langsung memberengut "anak kecil kaya kamu mana tahu mode" tunjuk diandra pada pakaian pres nody miliknya yang menampilkan dengan jelas lekuk tubuhnya itu
"tante yang ngerusak mataku karena pakaian tante itu" kesal zifana merasa pakaian di hadapannya itu tak jelas sama sekali
"hei!" teriak diandra dengan nada tinggi beberapa oktaf tak terima pada ucapan zifana
"ckiiitttt!" rafa langsung menghentikan mobilnya dengan gerakan cepat setelah mendengar teriakan diandra pada zifana yang terlalu keras
"apaan sih rafa ngerem mendadak gitu" kesal diandra memegang kepalanya yang sempat terbentur kursi dudukan di depannya
rafa melirik zifana "bawa earphone kamu?" tanya rafa
zifana mengangguk "bawa" balas zifana
"pasang di volume yang paling kenceng" pinta rafa
zifana langsung menuruti perintah rafa jika sudah melihat wajah rafa dengan mode serius itu
rafa menoleh ke belakang menatap tajam diandra "siapa kamu berani membentaknya" ucap rafa penuh dengan penekanan
diandra jadi gemetar melihat tatapan rafa "dia yang mulai raf" cicit diandra
"bukan berarti kamu bisa membentaknya. orang tuanya saja tak pernah memakai nada tinggi padanya aku pun begitu jadi siapa kau sampai berani berteriak!" bentak rafa tak terima jika ada yang membentak zifana apalagi ini di depannya
diandra begitu ketakutan dengan bentakan rafa "aku gak maksud gitu rafa" diandra mencoba meraih tangan rafa tapi di tangkis rafa
"turun!" pinta rafa dengan tatapan tajamnya
"tapi raf" elak diandra
"turun!" ulang rafa
diandra terpaksa turun dari mobil rafa, rafa ikut turun dari mobil berjalan ke belakang menghampiri diandra "kamu gak jadi nurunin aku kan" diandra begitu senang melihat rafa yang menghampirinya
"ini tas kamu" rafa memberikan tas diandra dan kembali masuk mobil
rafa melajukan mobilnya menuju rumahnya dengan tatapan kesal menahan amarah karena perbuatan diandra yang menurutnya kurang ajar dan kelewatan
zifana yang melihat rafa kembali melajukan mobilnya melirik kebelakang, mendapati tak ada wanita kurang bahan itu di belakang zifana membuka earphone nya dan menatap rafa "wanita ngeselein itu mana kak?" tanya zifana
rafa menghela nafas mengontrol emosinya yang sempat meledak "sudah turun tadi" balas rafa dengan nada lirih
zifana mengangguk paham "lain kali jangan bawa cewek aneh lagi ya kak, nanti aku laporin loh" tunjuk zifana ke arah rafa
rafa mengusap kepala zifana "iya" kekeh rafa