
selesai merayakan ulang tahun viko, aira menitipkan viko pada keluarganya
sesampainya di rumah, aira mengambil ponselnya lalu menelfon razi suaminya
10 kali aira menelfon tapi tak kunjung di angkat, akhirnya ia memilih mengirim pesan pada suaminya
"kamu dimana" isi pesan aira
5 menit menunggu tak ada tanda pesan dibaca
"kapan mas pulang" aira mengirim pesan lagi
"mas lupa ulang tahun anak kita? " tanya aira
" mas bisa gak sih, sedikit saja peduli dengan aku dan viko" pesan ke empat aira
"aku sudah bilang, aku tak suka anak itu, jangan mengirimiku pesan lagi aku sibuk" balas razi
" aku akan menunggu kakak pulang, kita harus bicara" pesan aira
aira memilih bertanya pada teman kerja razi untuk tahu kapan razi pulang
"halo Rama" sapa aira
"halo ra, tumben kamu nelpon aku, ada apa? biasanya kamu kan paling takut suamimu itu marah lalau nelpon cowok" ucap Rama teman satu SMA aira yang kebetulan satu kantor dengan razi
"Rama, suamiku kerja sampai jam berapa? " tanya aira
rama mengerutkan keningnya "hari ini dia cuma nangani 1 kasus, dan dia sudah pulang dari jam 11 tadi. ada apa ra? " balas Rama
"engga papa, nanya saja. ya sudah ya ram, Terima kasih" balas aira
" lagi dan lagi kamu mengabaikan keluarga kita" gumam aira melirik ponselnya
kali ini aira mengetikkan pesan pada sahabatnya
"apa suamiku datang ke tempatmu bekerja" tanya aira pada temannya yang kebetulan bekerja di salah satu bar yang sering di kunjungi razi
" iya ra, tuh mereka lagi pada mabuk" balas pesan teman aira yaitu mayang
"Terima kasih ya mayang" balas aira
aira duduk di ruang tamu dengan tatapan kosong,aira menatap pintu menunggu kedatangan razi
jam dinding menunjukkan pukul 12 malam, suara mobil razi terdengar sedang parkir
"ceklek" suara pintu terbuka
"mas baru pulang? " tanya aira mengagetkan razi
" astaga! bisa gak sih gak ngagetin hah" bentak razi
"kakak ganti baju dulu saja, lalu kita bicara" ucap aira
"bicara apa sih ra? " tanya razi kesal
" mas ganti saja, kakak lelah kan? " balas aira yang mengutamakan kenyamanan suaminya walaupun sebenarnya hatinya sudah dongkol sekali dengan razi
20 menit berlalu razi keluar sudah mandi dan berganti baju dengan baju santai
"mukamu serius amat sih ra" ucap razi berniat mencium aira
aira menahan mulut razi " kakak bau alkohol" balas aira
"masa sih" ucap razi mencium bau tubuhnya
"apa mas cinta aira? " tanya aira dengan mata berkaca-kaca
" tentu saja cinta lah ra, kalau gak cinta mana mungkin kakak nikahin kamu" balas razi datar
"apa mas bisa merubah sikap kakak ke aira? " tanya aira
" emangnya sikap kakak kenapa? " tanya razi pura-pura tak tahu
razi duduk di sofa dan di ikuti aira "kakak itu kasar, coba kakak hitung berapa kali kakak mukul aira selama kita nikah" tanya aira
razi diam tak bisa menjawab pertanyaan aira karena nyatanya ia tak bisa mengingatnya karena terlalu banyak bahkan hampir setiap hari razi selalu kasar dengan aira
"gak bisa jawab kan? iya lah kakak gak bisa jawab karena hampir setiap hari kakak pukul aira" balas aira yang tak kuat menahan air matanya, dan sekarang air mata aira mengalir dengan derasnya
" ya itu karena kamu yang belain viko terus" balas razi tak merasa bersalah
" ya kakak yang terlalu kejam sama anak sendiri" kesal aira
"dia bukan anakku! " bentak razi
"lalu anak siapa dia? " tanya aira
"anakmu! " balas razi
"apa kau fikir aku bisa membuatnya seorang diri. jelas-jelas benih kakak yang membuat viko ada " balas aira kesal
" kau berani membentak ku! " balas razi
" kakak itu aneh, bagaimana bisa cemburu berlebihan dengan anakmu sendiri sampai tega melukaiku berkali kali" ucap aira tak mengerti dengan sikap razi yang di luar kewajaran
" ini kenapa aku tak suka punya anak, kau lebih memilihnya ketimbang aku" balas razi menajamkan matanya
"kau emang sakit kak" aira berdiri menatap razi tajam
" ayo kita cerai, aku sudah tak tahan lagi hidup dengan orang kasar dan pencemburu sepertimu" balas aira
"berani kau sekarang hah! " bentak razi
razi bergegas menuju dapur, aira mulai panik melihat kemarahan razi, ia bergegas menuju pintu
"berhenti kamu! siapa yang izinin kamu pergi" bentak razi
aira yang melihat razi membawa linggis ketakutan, ia bergegas membuka pintu mencoba lari
tapi baru keluar dari pintu razi menarik kaki aira
" sudah berapa kali aku bilang aku tak akan menceraikan mu, tapi kalau kau bersikukuh berpisah dariku, baik akan aku kabulkan. kita akan berpisah dalam keadaan kau yang sudah mati" ucap razi tersenyum devil
tetangga aira mendengarnya tapi tak ada yang berani bertindak karena razi memegang linggis, akhirnya tetangga aira menelfon kak rino, kakak aira
tetangga aira cukup lama menelfon karena mungkin rino yang sudah tidur
"tut tut tut tut" tetangga aira berkali kali menelfon
akhirnya rino pun mengangkat " siapa sih malem -malem telfon ganggu orang tidur aja" ucap rino saat mengangkat telfon
" lama amat sih angkatnya! cepat mas kesini aira dipukuli pakai linggis, dia bisa mati kalau mas gak kesini sekarang" ucap tetangga aira berteriak panik
"apa! " teriak rino langsung berlari
rino langsung membuka pintu kamar orang tuanya tanpa permisi "ayah bangun cepat ke rumah aira sekarang" teriak kak rino sambil berlari tak peduli dengan kebingungan ayah dan ibunya yang tak paham maksud rino sama sekali
"itu suara rino kan bu? " tanya ayah subrata yang baru bangun mendengar teriakan rino
"iya yah, katanya suruh ke rumah aira sekarang" balas ibu mardiana yang juga ikut terbangun
mereka saling membelalakkan matanya lebar "cepat kesana yah, takut ada apa-apa sama aira sampai rino teriak gitu" ucap sang ibu khawatir
ayah subrata langsung bergegas menuju rumah aira dengan berlari, memang kebetulan rumah aira tak terlalu jauh hanya terpisah 2 blok saja
aira dipukuli habis-habisan sampai mengeluarkan banyak darah, tubuhnya sudah banyak luka dan kulit tubuhnya yang sobek, kepalanya pun penuh dengan luka
"a a ampun kak" ucap aira lirih, suaranya tercekat dan lemas karena terus berteriak dan darah yang terus mengalir dari tubuhnya
" kan kamu yang bilang sendiri mau pisah, aku nurutin kamu loh" ucap razi berniat memukul aira lagi
"stop! " teriak kak rino dari depan pintu, karena memang pintu rumah aira yang terbuka lebar sehingga memudahkan rino masuk ke rumah adiknya
mukanya memerah dan bergetar karena amarah melihat adiknya terkapar dengan penuh banyak luka dan darah yang berserakan dilantai
kak rino mengambil pot lalu melemparnya ke arah razi " prang" lemparan itu tepat sasaran membuat linggis yang dipegang razi terjatuh
kak rino langsung berlari ke arah razi "berani kamu menyakiti adikku hah! " teriak kak rino menendang razi tepat di mukanya, membuat razi terpental jauh dan menabrak dinding
"sakit kak" rintih aira yang begitu kesakitan
kak rino menghampiri aira " ya ampun ra, kenapa kamu jadi gini" ucap kak rino menangis tapi tak sanggup menyentuh aira karena tubuh aira sudah penuh darah, tangan kak rino bergetar hebat
warga sekitar masuk dan memegang razi bersama-sama agar mencegah razi berbuat lebih jauh
" mas tadi saya sudah telfon ambulans, paling bentar lagi datang, mas urus saja mba aira biar mas razi kita yang urus" ucap salah satu warga
kak rino menatap tajam razi "apa salah adikku hah! sampai kau tega melukainya!" tanya razi dengan penuh amarah
" tentu saja dia salah karena minta cerai dariku, dia yang minta kita berpisah jadi ya dia harus mati kalau mau berpisah" ucap razi
"apa? " ucap kak rino tak percaya
"adikku memang bodoh, dia bodoh sekali karena mencintaimu dan menjadikanmu orang terpenting dalam hidupnya. dia bodoh karena mencintaimu dalam hidupnya! " teriak kak rino meluapkan amarahnya
"sakit, sakit sekali kak" aira mengigau
"sabar ya dek, bentar lagi ambulance datang" balas Kak rino dengan isak tangis bercampur cemas
ayah subrata Sampai di rumah aira dengan suara terengah-engah karena berlari. ia kebingungan karena rumah aira yang begitu ramai membuat hati ayah subrata makin cemas tak karuan
" minggir ya, saya mau lewat" ucap ayah subrata agar dibiarkan lewat
saat ia memasuki rumah ia begitu terkejut dengan pemandangan di hadapannya
razi sedang di pegang oleh 6 orang, sedangkan ada orang berlumuran darah di hadapan kak rino
"rino ada apa ini? " tanya ayah subrata yang baru masuk rumah aira
"ayah" ucap kak rino sedikit menggeser tubuhnya
"siapa itu nak? " kenapa begitu banyak darah" tanya ayah subrata gemetaran
ayahnya tentu itu siapa, tapi hatinya menolak bahwa itu adalah putrinya, putri kesayangannya "adikku yah" jawab kak rino menangis sesenggukan
"tidak.. tidak! tidak mungkin! " teriak ayah subrata jatuh terduduk
warga yang lain membantu ayah subrata berdiri
ayah subrata menatap tajam razi " apa kau yang melukai anakku hah! " teriak ayah subrata
ayah subrata berniat memukul razi tapi terdengar suara sirine ambulance dan mobil kepolisian
" ayah tenang dulu, ayah antar aira ke rumah sakit biar rino yang urus disini dan nanti akan rino kabari kakak yang lain perihal aira" ucap kak rino