
***
Aira dan dylan menggendong baby aila dan askar juga di ikuti viko yang berdiri di samping dylan
“terima kasih semua sudah hadir di acara selamatan kelahairan anak-anak kami yang bernama Yashaskar Virendra Mahardika dan Raina Eila Mahardika. Semoga anak kami tumbuh menjadi anak yang sehat dan memberikan hal-hal yang positif bagi sekitarnya dan juga tumbuh jadi anak yang selalu berbahagia” ucap dylan
“anak kamu di panggil apa?” Tanya yama di sela acara sambutan yang diberikan dylan
dylan tersenyum “untuk yang laki-laki di panggil askar yang perempuan di panggil eila” balas dylan ramah
“dylan” panggil yama lagi
“apa?” Tanya dylan masih bersikap biasa saja
“boleh gak aku daftar jadi calon menantumu? aku ingin lamar Raina Eila mahardika jadi istriku nanti” Tanya
yama tanpa rasa bersalah ataupun canggung
semua orang menatap bingung ke arah yama, tapi yama hanya tersenyum tak merasa canggung sama sekali “apa?!” Tanya dylan tak percaya pertanyaan yama
“yakan anak kamu cantik banget, berhubung aku belum punya kekasih aku tunggu saja anakmu sampai besar biar aku persunting jadi istriku” jawab yama dengan santainya
Ingin rasanya dylan melempar apapun yang ada di dekatnya tapi ruangnya terbatas karena ada eila yang ada dalam gendongannya “mimpi saja kamu!” bentak dylan
“oke, aku akan mimpiin eila jadi istriku nanti” balas yama dengan senyum mengembang
Semua orang menggelengkan kepalanya mendapati pernyataan yama yang terkesan gila!, ya gimana tidak gila seorang pria dewasa melamar seorang bayi yang baru berusia beberapa hari
Aira mengusap dada dylan yang sudah kembang kempis tak karuan karena menahan amarah pada yama yang melamar anaknya di usia anaknya yang baru berusia 14 hari hari ini “ tenang bang, mungkin kak yama hanya ingin sekedar bercanda saja” ucap aira menenangkan hati dylan
“ya gimana abang gak kesel ra, dia ngajakin anak kita nikah padahal usia anak kita masih 14 hari sayang, apa gak ngaca apa dia
kalau sekarang usianya sudah 32 tahun, termasuk sudah tua karena belum menikah, itu artinya saat anak kita usia 18 tahun dia sudah setengah abad!” kesal dylan membayangkan seberapa tua yama nanti saat anaknya remaja
“tenang bang” ucap aira mengingatkan dylan
***
Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tak terasa sekarang baby askar dan eila sudah masuk bangku sekolah dasar, sedangkan sang kakak viko duduk di bangku kelas 1 SMA. Ya waktu tak terasa
cepat berlalu menjadi 7 tahun yang akan datang, dimana sudah banyak yang berubah
“mami” teriak askar memanggil aira yang sedang sibuk mengambil camilan malam kedua anak kembar aira dan dylan di dapur
“ada apa sayang?” Tanya aira menghampiri askar yang ada di ruang keluarga belajar bersama eila
“eila gak mau bantu askar ngerjain tugas” adu askar mengerucutkan bibirnya menunjuk ke arah eila
eila memang lebih terlihat pintar di bading askar saudara kembarnya. hanya terlihat ya.... sebenarnya mereka sama-sama katagori cerdas untuk anak seusianya tapi karena eila yang selalu fokus dan tanggung jawad dengan perkerjaannya tak seperti askar yang selalu menunda pekerjaan dan terkesan malas membuat eila terlihat lebih mampu di bandingkan askar yang selalu malas-malasan dalam mengerjakan suatu hal
Aira memandang eila seolah bertanya tentang hal yang sedang di adukan askar padanya
Eila menghela nafas “aku tidak bilang gak mau bantu kamu mengerjakan tugas kak, Tapi aku juga gak mau jadi orang yang mengerjakan tugasmu, karena itu tugas sekolahmu dan jadi tanggungjawabmu untuk mengerjakannya” balas eila menatap askar dengan wajah datarnya
“ya memangnya kenapa jika kamu yang menggambarnya, itu kan hanya tugas menggambar saja, guru kita juga tak akan tahu kalau itu hasil gambarmu, kan gambar kita goresannya hampir mirip dan orang yang bisa membedakan hasil gambar kita hanya mami sama kak viko saja” balas askar jujur, karena memang goresan tangan askar dan eila memang terkesan mirip dan sejauh ini hanya viko dan aira yang bisa membaedakan gambar milik siapa di antara kedua anak kembar itu
duduk menunggu eila bicara apa pada askar
“guru kita memang tidak akan tahu, karena hasil tangan kita mirip tapi bukan berarti kau bisa seenaknya saja menggunakanku untuk kepentinganmu. Kita memang saudara kembar dan kita selalu mendapat porsi
sama dari keluarga kita tapi bukan berarti kita harus sama di mata orang lain” eila menatap askar dengan tatapan tajam “ apa yang kita dapatkan adalah hasil kerja kita bukan hasil kerja orang lain” tambah eila penuh dengan penekanan
Aira tersenyum mendapati jawaban putrinya yang memang selalu membuat orang tercengah karena pemikiran dewasa darinya, padahal ia masih berusia 7 tahun, tapi terkadang cara pandangnya seperti orang dewasa
pada umumnya. Dylan saja selalu di buat kalah saat berdebat dengan putri kecilnya yang selalu bisa menjawab pertanyaan ataupun menyanggah ucapan dylan dengan balasan yang logis dan masuk akal bagi semua orang
Aira mengusap kepala askar “yang di katakan adikmu benar sayang, semua yang kita dapatkan adalah hasil kerja kita bukan hasil kerja orang lain” ucap aira mengingatkan
“mami bohong” balas askar
“kenapa kamu bisa bilang seperti itu sayang?” Tanya aira
“buktinya papi yang kaya padahal om Rino yang kerja, papi yang gak pernah kerja dikantor tapi papi selalu dapat hasil keuntungan perusahaan mahardika group” balas askar dengan polosnya
Aira tersenyum menanggapi sifat kritis anaknya “siapa nama belakangmu?” Tanya aira
“Mahardika” balas askar
“lalu apa nama perusahaan yang dipimpin om rino?” Tanya aira lagi
“mahardika group” balas askar
“apakah keduanya punya kesamaan?” Tanya aira lagi
askar nampak berpikir “sama-sama mahardika” balas askar mengerutkan keningnya menggaruk pelipisnya yang berdenyut
“yang bekerja memang om rino sayang, tapi perusahaan itu milik papimu, otomatis papimu adalah bos perusahaan tempat om rino bekerja, makanya semua keuntungan perusahaan diberikan pada papi” jelas aira agar di pahami askar
“ah pusing” balas askar kembali duduk di meja belajarnya untuk melanjutkan tugas menggambarnya
Eila hanya menggelengkan kepalany melihat sifat kakaknya yang masih kekanak-kanakan. Eitssss emang masih anak-anak ya..., eila saja yang terlalu dewasa
terdengar suara langkah memasuki kediaman keluarga mahardika “malam sayang” sapa dylan mengecup pipi aira
“malam bang” balas aira
Dylan melihat wajah askar yang tertekuk “ kenapa lagi sih askar?” Tanya dylan
“biasa bang” balas aira
Dylan mengangguk paham, karena memang askar terbiasa kesal hanya karena hal-hal sepele menurut dylan “oh ya syang, besok abang resmi di angkat kepala kepolisian, dan acara peresmiannya jam 10, kamu datang
ya” ucap dylan
“selamat ya bang” aira memeluk dylan “aira pasti datang, tapi aira ke sekolah dulu kasih tugas buat murid-murid aira baru ke kantor abang ya” balas aira
“iya sayang” balas dylan