Live In The Foly Of Love

Live In The Foly Of Love
berusaha mengejar cintanya



"apa kau mau membantuku? " tanya aira penuh harap


"bantu apa? " karina terheran memundurkan tubuhnya sedikit ke belakang menatap aira penuh tanya


" bantu aku berkenalan dengannya" pinta aira mantap


"bukannya kamu sudah kenal dengannya? buktinya kamu tahu siapa namanya sebelum aku memberitahumu " balas karina


"aku memang pernah berkenalan dengannya waktu itu tapi sepertinya dia melupakanku" balas aira sedih


"pria bongkahan gunung es itu emang gak punya hati tau, kok ya kamu bisa suka sama dia" ucap karina


"kalau dia bongkahan gunung es aku akan jadi lilin yang yang menghangatkan nya dan mengubahnya perlahan menjadi orang yang hangat" balas aira tersenyum dengan percaya dirinya


karina bergidik ngeri melihat aira " emang cinta bisa membutakan segalanya" gumam karina


aira mulai menjalani ospek di kampusnya dengan baik ia juga mulai beradaptasi dengan kehidupan barunya sebagai seorang mahasiswa


*


hari ini aira menjalani kuliah sampai sore hari, aira berjalan menengadahkan wajahnya menatap langit ia menikmati terpaan angin dengan wajah tersenyum


aira tak menyadari ada orang yang sedang mengamatinya dari belakang karena terlalu konsen dengan kegiatannya " kau masih cantik seperti dulu aira, masih sama seperti pertama kali kita bertemu" batin pria tersebut memandangi punggung aira yang makin menjauh


saat cukup jauh berjalan wajah pria tersebut mendadak berubah sedih "apa kau masih kecewa padaku? ah tentu saja kau saja masih kesal, aku saja kesal pada diriku sendiri karena tak memberi kabar apapun padamu waktu itu dan meninggalkanmu begitu saja" batin pria tersebut


tak terasa aira sudah dan sampai di depan rumah kostnya lalu masuk rumahnya dan mengunci pintu. pria itupun meninggalkan lingkungan rumah aira dengan wajah sendunya


"aku masih sangat mencintaimu aira apa kau masih mencintaiku? " gumam pria tersebut menerawang setiap masa bersama aira semasa SMA dulu


aira menghabiskan waktu untuk berkuliah dan rutin mengunjungi karina di gedung fakultas hukum dan itu berlangsung selama hampir 1 tahun


"karina" panggil aira melongok kelas karina mencari keberadaan sahabatnya


"hei kamu datang" balas karina senang melihat kedatangan aira


semua orang begitu takjub dengan kecantikan aira, dan tak jarang banyak yang mengajak aira untuk berkenalan, aira selalu mau diajak berkenalan tapi jika diminta nomor ponsel ia selalu beralasan karena ia pikir jika memberikan nomor ponsel berarti memberi kesempatan mereka untuk mendekat


"karina kelas kak razi dimana? " tanya aira melihat sekeliling


"kamu masih belum menyerah ra ? mengejar cinta bongkahan gunung es itu" tanya karina


"saat ini belum " balas aira tersenyum


"dia itu terkenal gak punya hati tau ra, emang kamu gak lelah? melirik kamu saja gak padahal semua laki laki di Fakultas Hukum tertarik sama kamu tapi gunung es itu gak perduli sama sekali sama kamu ra" ucap karina


" entahlah apakah aku harus menyerah atau tidak, aku hanya ingin mengusahakan perasaanku kalau memang dia masih mengabaikan ku berarti dia bukan jodohku" balas aira datar


karina hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sahabatnya itu " dia itu bongkahan gunung es ra yang bikin keadaan sekitar dingin beku. semoga kamu cepat sadar dan menyerah" ucap karina


aira hanya membalas ucapan karina dengan senyuman


keesokan hari aira tak berkunjung ke gedung karina karena kuliahnya yang dipadatkan, jadi aira kuliah sampai jam 5 sore. setelah kelasnya selesai, ia bergegas pulang, karena takut kemalaman sampai rumah


aira berjalan melewati salah satu taman di kampusnya yang terdapat bunga bungur.


bunga bungur yang ada di sepanjang jalan taman sedang bermekaran. melihat indahnya bunga itu aira memilih duduk di bangku taman untuk menikmatinya "indah sekali" gumam aira menikmati hembusan angin


angin mulai berhembus kencang membuat bunga bungur itu berguguran karena terpaan angin. aira menutup matanya lalu mengangkat satu tangan ke atas merasakan bunga berjatuhan menimpa tangan dan wajahnya karena terpaan angin


" cantik sekali" batin razi merasa hatinya bergetar melihat aira diterpa bunga yang berguguran membuat aira begitu cantik di mata razi


"ceklek" tanpa terasa razi mengambil ponselnya dan memotret aira


"ah apa yang aku lakukan" gumam razi bergegas pergi meninggalkan aira


hari berganti hari aira masih seperti biasa bolak balik gedung fakultas hukum. perbedaanya dulu razi tak pernah menggubris aira tapi kali ini razi menjawab setiap sapaan aira walaupun masih menampakkan wajah dinginnya


hari ini adalah hari ujian skripsi razi. aira pun menonton acara sidang skripsi razi dengan antusias


"kak gimana ujiannya? lancar? " tanya aira menghampiri razi yang sudah selesai ujian dan sedang membereskan barang bawaannya


razi tersenyum sekilas " baik, tentu saja berjalan dengan baik" balas razi menampilkan wajah dinginnya kembali


"mau aku bantu kak? " tanya aira melihat bawaan razi yang begitu banyak


" tidak, aku bisa sendiri" balas razi bergegas pergi meninggalkan aira


selama 2 minggu ini razi tengah disibukkan dengan revisi yang harus ia lakukan pasca ujian skripsinya. setelah selesai ia bergegas pulang karena langit yang sudah terlihat mendung tapi saat ia sampai di depan gedung hujan mulai turun.


awalnya razi berniat mengambil payung di tas ranselnya bergegas pulang karena dia sudah sangat lelah


saat ia berjalan ia tak sengaja melewati gedung perkuliahan aira. di sana terlihat aira sedang menunggu hujan reda karena tak membawa payung. razi berjalan menghampiri aira


aira menengadahkan tangannya ke langit "kapan berhenti hujannya? " tanya aira pada dirinya sendiri


"apa aku trabas saja ya? " gumam aira menutupi kepalanya dengan tas berniat akan berlari menerjang hujan agar cepat sampai rumah


saat aira mencoba melangkah ada tubuh yang menghalanginya, aira pun melihat siapa gerangan yang ada di hadapannya" kakak" ucap aira terkejut


" ayo aku antar pulang" ajak razi mendekatkan payungnya ke arah aira


"ah, emangnya kakak gak repot kalau harus ngantar aira pulang dulu" tanya aira


"kamu gak lihat warna mendung kali ini, pertanda akan lama hujannya emangnya kamu mau kehujanan sampai rumah dan sakit" balas razi menarik tangan aira untuk pulang bersama


aira melihat tangan razi yang memegang pundak aira "jangan salah paham, ini agar kau tak terlalu jauh dari payung dan tidak kehujanan" ucap razi melihat Arah pandangan mata aira


"ah, iya kak" balas aira tergagap


mereka berjalan perlahan menuju komplek rumah aira "dimana rumahmu? " tanya razi datar


" di dekat situ" tunjuk aira ke arah gang menuju rumahnya


melihat pundak aira yang masih terkena hujan razi merapatkan pegangannya " jangan salah paham, aku lihat pundak mu masih terkena hujan jadi aku membuatnya lebih dekat saja" balas razi


"baiklah" balas aira tersenyum


tak berapa lama mereka pun sampai depan rumah kost aira "ini rumahnya kak" ucap aira berdiri depan pintu rumahnya,  razi  berniat bergegas pergi


"kakak gak mau mampir dulu, minum teh atau kopi, hari masih hujan kak" balas aira


"tidak" balas razi datar


baru melangkahkan kakinya razi berhenti sejenak " besok aku akan menjemputmu untuk ke kampus bersama " ucap razi tanpa berbalik dan bergegas pergi dari pelataran rumah kost aira