
Ara mengurai pelukannya dan menatap viko “tapi
beneran bapak gak cinta lagi sama tuh perempuan? Saya gak mau ya pak kalau kita
berhubungan tapi hati bapak masih sama wanita itu?” Tanya ara dengan tatapan penuh penuntutan
Viko tersenyum sambil membelah pipi mulus ara “tidak ara” balas viko
“tapi kenapa kemarin bapak diam saja waktu wanita itu bilang masih cinta bapak?” Tanya ara
“jadi kamu denger saat revina bilang masih cinta sama saya?” Tanya viko dengan nada lembut
“iya” ara mengangguk
“tapi kamu gak dengar sampai akhir kan?” tebak viko dan ara mengangguk membenarkan
“saya memang dulu mencintainya dan cukup terluka karena penghianatan yang dia lakukan" viko membawa ara ke dalam pelukannya "Dulu dia berusaha sangat keras untuk mendapatkan hati saya dan giliran saya sudah mulai menerimanya malah dia mengkhianati saya, dan itu rasanya
membuat saya sangat kecewa, kecewa karena setalah saya berusaha keras mencintainya tapi dia mengkhianati saya" viko mengusap kepala ara dengan lembut "saat itu Saya memang kecewa padanya karena dia mengkhianati cinta yang sudah lama kita jalin tapi bukan berarti saya ingin dia kembali pada saya"
viko menghela nafas panjang "Sebenarnya alasan saya malas kembali karena ini” viko menunjukan pesan-pesan berisi kata cinta yang dikirimkan revina lewat email pada viko
Ara menutup mulutnya tak percaya “saya tahu
mungkin pernikahan mereka tidak dalam rencana mereka, tapi anak itu benar adanya jadi bagaimana bisa saya menghancurkan keluarga seseorang. Revina terus bilang masih cinta ke saya, saya takut kalau saya kembali pernikahan mereka terancam gagal dan itu akan membawa dampak buruk bagi anaknya nanti. Saya tahu betul
bagaimana rasanya mempunyai orang tua yang berpisah” jelas viko
Ara mengernyitkan dahinya “dari mana anda tahu
rasanya? bukannya keluarga anda kan baik-baik saja tak ada masalah sepertinya” balas ara tak mengerti maksud ucapan viko
Viko tersenyum “papi dylan bukan ayah kandung
saya” ucap viko
“hah?” ara menganga tak percaya
“mungkin sulit dipercaya karena papi dylan sangat
menyayangi saya dan tak membedakan saya dengan kedua adik saya sehingga orang-orang tak akan tahu jika saya hanyalah anak mami aira dengan mantan suaminya dulu” jelas viko
“beneran gak kelihatan loh pak, om dylan
kelihatan banget kaya ayah kandung bapak, sayangnya ke bapak itu sama kaya ke askar dan eila” sahut ara
“itu kenapa saya berani membantah keinginannya
sama seperti anaknya yang lain" viko menoel hidung mancing ara gemas "Dan gara-gara kamu saya harus nurutin keinginan papi yang gak saya ingin” balas viko
ara menautkan kedua alisnya “kok jadi gara-gara ara sih pak?” Tanya ara
“karena saya minta bantuan papi untuk nemuin kamu dan sebagai imbalannya saya terpaksa menyetujui persyaratan dari papi” ucap viko
“Indonesia sama inggris kan jauh kok bisa om
dylan bisa nemuin ara segampang itu? ara baru sampai Inggris 3 hari loh pak" Tanya ara
“jangan remehkan keluarga saya, keluarga saya
punya cukup kemampuan besar di tambah kami punya keluarga-keluarga hebat di sekitar kami jadi masalah gampang kalau hanya mencari seseorang seperti kamu” ucap viko membanggakan keluarganya
“maksud bapk dengan keluarga-keluarga hebat itu siapa pak?” Tanya ara
“yang kamu ajak kumpul di rumah saat masak banyak itu” balas viko
ara menutup mulutnya dengan sebelah tangannya karena begitu terkejut“jadi mereka semua” ucap ara tak percaya
viko mengangguk membenarkan “makanya saya bilang menemukan ibumu juga masalah mudah jika kau mau” balas viko
Ara langsung merubah raut wajahnya menjadi tak
viko merasa ara merasa tak nyaman jika membahas perihal ibunya “ah, baiklah” viko hanya setuju saja takut menyinggung perasaan ara
Ara melirik jam tangannya “eh ara harus balik kerja lagi, bisa di omelin gara-gara kelamaan disini” ucap ara segera beranjak pergi
Viko langsung menahan tangan ara “saya sudah
minta izin sama atasanmu” ucap viko menatap manik hitam milik ara
“ih kok minta izin nanti gaji ara di kurangin dong” kesal ara yang akan mendapat potongan gaji jika tak masuk kerja
“saya akan mengganti waktu yang kamu habiskan
untuk saya” viko menarik ara ke dalam pelukannya dengan gerakan lembut
"saya masih merindukanmu ara, 3 hari terasa seperti tiga tahun untuk saya, jadi biarkan saya memelukmu lebih lama" ucap viko
wajah ara langsung bersemu merah mendengar kata-kata viko
“oh ya dimana kamu menyimpan tanda pengenal dan kartu keluargamu?” Tanya viko
ara mengernyitkan dahinya “di rumah, memang kenapa pak? ” Tanya ara
Viko langsung menghubungi seseorang “Arka
surat-suratnya ada di rumahnya kamu ambil, dan urus semuanya sekalian kamu urus mertua saya, ingat tidak lebih dari 2 jam” ucap viko langsung menutup telponnya
Ara mengernyitkan dahinya “siapa yang anda
telpon? Dan apa maksudnya mertua?" ara menatap tajam ke arah viko
"Anda sudah menikah? Anda bohongin saya?” ara
kembali menangis mengira viko sudah menikah karena memiliki mertua
Viko langsung memeluk ara kembali “tidak ara, saya tidak menikah dengan orang lain” ucap viko menenangkan
Ara terus meronta minta di lepaskan tapi viko sama sekali tak ingin melepas ara “terus itu apa?” kesal ara
“itu tadi asisten saya, saya minta dia ke
rumahmu dan ambil tanda pengenal serta Kartu Keluarga kamu dan juga bawa ayah kamu kembali
ke rumah sakit untuk melanjutkan perawatan” jelas viko
“terus kenapa anda bilang mertua, kita kan belum
menikah jadi ayah saya bukan mertua anda” sahut ara tak percaya dengan ucapan viko
“sekarang memang kamu bukan istri saya tapi dalam 2 jam Ke depan kamu akan jadi istri saya” jelas viko
Ara mendorong tubuh viko “hah?” ara makin bingung “maksudnya apa?” Tanya ara
“saya akan mendaftarkan pernikahan kita sekarang” ucap viko
Ara menyunggingkan senyumnya tapi ara coba
menutupinya sebisa mungkin “siapa yang mau jadi istri anda” ucap ara tergagap, membuang mukanya ke arah lain untuk menghindari tatapan viko yang membuatnya makin gugup
Viko melihat bahwa sebenarnya ara senang tapi ara berusaha menutupi semua itu darinya, viko langsung memeluk ara “kamu memang gak bilang mau tapi saya ingin memaksa kamu Karena
saya gak ingin kehilangan kamu” jelas viko
ara tersenyum tipis “kalau anda maksa, saya mau bilang apa” ara membalas pelukan viko sambil tersenyum bahagia
Viko tersenyum “ia saya maksa kamu untuk jadi istri saya, karena saya mencintai kamu” balas viko
dengan tetap tersenyum