Live In The Foly Of Love

Live In The Foly Of Love
Mantan hadir (season2)



***


Ara dan eila turun berbarengan menuruni anak tangga kediaman Mahardika


“kak lihat deh pacar kakak” ucap eila meminta atensi viko agar melirik ara yang tepat ada di sebelahnya


Viko menoleh ke arah ara dan menatap takjub dengan penampilan ara, ia memakai gaun toska yang sempat viko pilih dan ternyata saat di dandani eila makin memperlihatkan kecantikan yang di miliki ara


eila menatap viko kesal “sebenarnya eila suka ara pakai gaun merah itu, terlihat bagus di tubuh ara. tapi kata ara gak di bolehin kak viko pakai kan percuma juga di beli” ucap eila memberengut karena usulnya di tolak akibat kakaknya yang tak suka


"aku beliin baju ara bukan untuk di jadikan tontonan orang banyak" viko menatap tajam eila dan eila hanya berdecih menanggapi kelakuan kakaknya yang terlalu over posesif menurut eila


"ya terus ngapain juga di beli" kesal eila


"ya suka-suka kakak, kan itu uang kakak terserah kakak dong mau di habisin buat apa" balas viko tak mau mengalah pada adiknya


mami aira menggelengkan kepalanya melihat viko dan eila yang saling lempar tatapan tak mengenakkan “tetap cantik kok ara” sahut mami aira ingin menghentikan perdebatan eila dan viko


“iya ara tetap cantik” ucap eila tersenyum pada ara


"Terima kasih" balas ara


viko menghampiri ara “sudah yuk” ajak viko menggandeng tangan ara dan meninggalkan keluarganya begitu saja


“cih ketemu pacarnya kita di tinggalin” kekeh askar melirik kakaknya yang berjalan dengan santainya melewati keluarganya dan bergegas menuju mobilnya yang berada di halaman


"sudah gak papa, toh kita cuma berempat karena oma kalian gak ikut jadi satu mobil sudah cukup, biarin kakakmu berdua sama ara, lagian kalau ada yang ikut mereka nanti cuma jadi obat nyamuk doang" ucap papi dylan


Askar dan kedua orang tuanya berada dalam satu mobil, sedangkan viko dan ara memakai mobil sendiri, untuk oma Diana memilih tak hadir dengan alasan sudah tua dan mudah lelah


“pak” panggil ara


“iya” balas viko tetap konsen pada jalanan


“ada ketentuan tidak? Saat ara di sana?” Tanya ara


“tidak ada ara, biarkan mengalir saja. jadilah dirimu sendiri saya gak ingin merubahmu menjadi orang lain” balas viko tak ingin memberikan batasan pada ara


“oke pak kalau gitu” balas ara tersenyum


Ara mengalihkan pandangannya ke arah jendela dengan berjuta pikiran yang hanya dirinya dan author yang tahu


Rombongan keluarga mahardika sampai di tempat acara pesta yang terletak di salah satu gedung hotel milik keluarga Mahardika, papi dylan dan mami aira ada di barisan paling depan dengan diikuti ketiga anaknya sesuai dengan urutan


usia mereka


“wah rame ya mas” gumam ara takjub akan pesta perusahaan keluarga viko


“hmmm” viko hanya membalas singkat


Acara ulang tahun perusahaan Mahardika Group terbilang cukup meriah dan di hadiri oleh banyak kalangan atas dan pemilik perusahaan besar, hal itu di karenakan kini perusahaan itu cukup besar bahkan sudah sebanding dengan perusahaan keluarga Arsello dan wiraatmadja


viko mengikuti langkah orang tuanya dengan tetap menggandeng tangan ara, mereka di perkenalkan sebagai calon penerus dan calon pasangan sangat penerus, bahkan beberapa surat kabar mungkin sudah menerbitkan artikel perihal ara dan viko


“mas ara ke toilet ya” ucap ara di sela-sela obrolan viko bersama kenalannya


“iya” balas viko


Viko menyesap minuman beralkohol ringan di sebuah


balkon sembari menikmati udara malam “ hai viko” sapa seorang wanita


Mengenal suara siapa yang ia dengar viko ingin bergegas pergi untuk menghindar “apa kau harus menghindari ku terus viko, ini sudah lima tahun. Apa kau masih membenciku” ucap revina menghentikan langkah viko


viko membalikan tubuhnya menatap revina “lalu aku harus bersikap manis denganmu begitu?” Tanya viko


Viko berniat berbalik kembali “aku masih sangat mencintaimu viko” ucap revina menghentikan langkah viko lagi


“aku masih sangat-sangat mencintaimu” viko diam


mematung, jujur hatinya masih ada rasa wanita itu walaupun itu tidak jelas rasa suka atau hanya sebatas rasa sebagai kenalan lama. luka yang sudah wanita itu berikan begitu membekas dalam di hati viko


“jangan menjauhiku seperti ini viko” pinta revina dengan nada lirih


Tanpa mereka sadari ara ada di sana mendengar semua ucapan revina dan bagaimana reaksi viko yang hanya diam saja tak menyanggah kata-kata revina sama sekali. Sakit rasanya mendengar itu tapi dia bisa apa, dia bukan siapa-siapa viko, semuanya hanya palsu dia tak ada hak marah ataupun tak suka dengan sikap viko


“ha ha ha” ara tertawa kecut dengan suara lirih dan terbata, matanya sudah berembun, ia berulang kali menengadah ke atas dan mengibaskan tangannya ke arah matanya agar air mata itu tak jatuh


Ara menoleh memilih pergi menjauh dari tempat yang membuatnya sesak dan sakit


“kenapa kau tak menghampirinya?” Tanya joff yang juga mendengar pernyataan revina pada viko yang masih mencintai viko, mantan kekasih istrinya dan ibu dari anaknya


Ara menatap tajam joff “kalau anda ingin menarik istri anda dari sana silahkan saja, untuk urusanku dan viko itu adalah urusan kami berdua jadi jangan coba ikut campur” ucap ara bergegas meninggalkan tempat itu


Melihat kepergian ara, askar yang kebetulan mendengar obrolan itu walaupun tak secara lengkap, mencoba mengejar ara


“ara tunggu” panggil askar tapi ara tak mau berhenti


“ara” panggil askar lagi dengan lebih kencang agar ara berhenti


Ara menghentikan langkahnya  dan menoleh ke belakang “tolong biarkan aku sendiri” ucap


ara dengan nada lirih


“tapi ara” balas askar tak tega meninggalkan ara seorang diri karena ia tahu pasti ara begitu terluka, terluka saat kekasihnya hanya diam saja tak menghindari mantan kekasih viko


ara mengerti kekhawatiran askar pada dirinya “jangan khawatir aku tak akan pergi tanpa pesan, aku hanya ingin mencari udara saja” sahut ara meminta pengertian askar


“baiklah” balas askar memberikan jasnya untuk ara pakai karena udara malam yang cukup dingin dan ara hanya memakai gaun sepanjang di bawah lutut dan berlengan pendek


“di luar dingin” ucap askar


“terima kasih” balas ara


melihat langkah kaki ara, Askar memutuskan kembali ke dalam gedung, sedangkan ara memilih berjalan keluar gedung, dia benar-benar butuh angin untuk membawa perasaannya yang sedang kalut


"sebenarnya apa yang aku pikirkan dan harapkan" gumam ara "jangan menyimpulkan sesuatu yang tak bisa kau simpulkan ara" ucap ara dengan memejamkan mata