Live In The Foly Of Love

Live In The Foly Of Love
Namanya penyakit?



"terus kalian berhubungan sebagai partner ranjang tanpa status?" tanya rino memutar bola matanya malas ke arah dokter ken


dokter ken tersenyum "ya begitu lah" balas dokter ken mengangkat bahunya tak malu sama sekali dengan pertanyaan rino yang terkesan frontal itu


"dasar dokter absurd" ejek rino


dokter ken terkekeh "yang penting aku hanya begitu dengan Riska saja, tidak dengan pasienku yang lain" balas dokter ken yang memang benar adanya hanya menjadikan riska saja sebagai partner ranjangnya


"tapi no, aku mohon maafin Riska ya, aku yakin dia tak ada niat menyakiti istrimu" pinta dokter ken


"nanti aku pikirkan" balas rino datar


"kalian sakit dengan alasan tersendiri dan aku sebagai dokter kalian hanya ingin kalian bisa sembuh atau setidaknya mengurangi sakit kalian" ucap dokter ken penuh pengharapan untuk kesembuhan penyakit pasiennya


rino menatap pria yang sudah berusia 47 tahun tapi masih terlihat gagah itu  "namanya penyakit? dok jadi kadang betah dan susah perginya" balas rino datar


***


dokter ken merapikan mejanya bersiap pulang ke rumahnya karena waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam


"brugh" dokter ken terkejut dengan sebuah tangan yang melingkar di pinggangnya yang ia kenal betul siapa tangan itu, karena wanita itu sudah lebih dari 20 tahun di sekitaran hidupnya


dokter ken berniat melepaskan pelukan perempuan itu tapi perempuan itu tak mau melepas tangannya dari pinggang dokter ken


"biarkan seperti ini sebentar saja" pinta wanita tersebut


dokter ken menghela nafas kasar mengusap tangan mulus yang melingkar di pinggangnya "kenapa keluar? kakimu belum sembuh?" tanya dokter ken lirih


riska makin mengeratkan pelukannya "apa aku keterlaluan?" tanya Riska tak menjawab pertanyaan dokter ken


dokter ken seolah paham apa yang dibicarakan riska "aku tak bilang kau salah sepenuhnya riska, tapi caramu yang salah. dari dulu dia sudah tak ada rasa apapun padamu tapi kau mengira dia sakit karena masih mencintaimu" balas dokter ken, mencoba meluruskan cara berpikir riska


"tapi dia sakit setelah aku menghianatinya" balas riska


dokter ken menghela nafas kasar memutar tubuhnya tanpa melepaskan pelukan riska dari tubuhnya


"Berapa kali aku bilang riska kalau dia sakit bukan karena kamu walaupun kau adalah salah satu pemicu dirinya sakit tapi bukan berarti kaulah penyebab sakitnya" dokter ken mengusap kepala riska lembut "penyakit itu datang padanya karena memang waktunya datang, semua orang tak ingin penyakit datang dan alasan penyakit itu datang adalah banyak faktor  jadi jangan terlalu menyalahkan dirimu sendiri" ucap dokter ken menenangkan hati riska agar jangan terus merasa bersalah


riska mengangguk mengeratkan pelukannya "tapi aku tetap merasa bersalah dan hal itu membuatku tak bisa tidur lagi jadi berikan aku obat lagi, obatku habis" balas riska yang mengatakan maksudnya datang untuk meminta obat pada dokter ken


"jangan terlalu mengandalkan obat riska" pinta dokter ken mengusap kepala riska


"ya terus aku harus apa? aku tak bisa tidur" balas riska menyembunyikan wajahnya di dada bidang dokter ken


"ya sudah aku temani kau tidur saja" balas dokter ken memberikan saran pada riska


karena biasanya riska bisa tidur dengan tenang jika ada dokter ken di sebelahnya


"benar" balas dokter ken mengangguk


"berarti nanti malam 4 ronde ya" pinta riska tanpa rasa malu pada dokter ken


"ya ampun riska, otakmu mesum sekali" balas dokter ken menggelengkan kepalanya tak percaya bahwa wanita di hadapannya selalu bicara blak-blkan dengannya


"ya kan dokter yang bilang aku gak boleh sama pria lain, dan aku butuh itu untuk menenangkan hatiku" balas riska mengerucutkan bibirnya


"baiklah, aku akan menemanimu sampai 4 ronde, tapi besok buatkan aku sarapan ya" pinta dokter ken


"itu mah gampang" balas riska tersenyum mengurai pelukannya dan  menggandeng lengan dokter ken


"untung kamu cantik dan bisa bikin juniorku on fire terus" *batin dokter ken melirik riska yang sangat semangat jika membahas urusan ranjang


dokter ken meminta kunci mobil riska agar ia yang mengendarainya, sedangkan mobilnya sengaja ia tinggal di klinik miliknya


"kemarin kakakmu ada menghubungiku" ucap dokter ken di sela-sela kegiatannya menyetir


"hmmm" balas riska acuh


"apa kau masih mau mengabaikan kakakmu?" tanya dokter ken


"aku malas bicara dengannya, karena setiap aku melihatnya aku jadi ingat kejadian dulu dan kau tahu apa yang akan terjadi padaku bukan" balas riska membuang mukanya ke arah jendela


riska akan gemetar dan berteriak histeris setiap ia mengingat pria yang ada di masa lalu dan hal-hal yang ada hubungan dengannya, biarpun itu kakaknya sendiri "ah terserah kau saja, dia cuma bilang padaku untuk menyampaikan padamu bahwa dia benar-benar menyesal akan kejadian dulu, karena dirinyalah kau hancur dan dia sangat menyesali itu" balas dokter ken menyampaikan pesan kakak riska


riska berdecih "kalau dia menyesal dia pasti membunuh pria itu atau setidaknya membuat pria itu cacat, mengingat bagaimana sifat kakakku itu tapi nyatanya mereka masih berhubungan sampai detik ini" balas riska tersenyum kecut mengingat kakakknya yang masih menjalin hubungan dengan prastyo


"kadang cinta bisa mengalahkan logika" balas dokter ken mencoba memahami perasaan jonas kakak riska


"logika macam apa, saat cinta menghancurkan cinta yang lain" balas riska tersenyum pahit mengongat kakaknya yang bilang menyayangi dirinya karena riska adalah saudari tersayangnya tapi malah menjalin hubungan dengan orang yang tega menghancurkan hidup adiknya


dokter ken menggenggam tangan riska "maafkan aku, aku tak akan membahas ini lagi" ucap dokter ken menyesali ucapannya


"aku sudah terbiasa dengan keluarga bobrok itu" dokter ken menepikan mobilnya membuat riska menoleh ke arah dokter ken "dengan tetap menyandang nama keluarga sialan itu saja melampau batas kemampuanku" riska bergetar tapi tak ada air mata yang mengalir


"aku terlalu muak dengan kepalsuan mereka" kesal riska mengingat bagaimana bobroknya keluarga yang di anggap sempurna oleh orang-orang


dokter ken memeluk riska "iya, jangan kembali ada aku yang menemanimu hmmmm" ucap dokter ken menenangkan riska


riska tersenyum kecut "itu hanya sampai kau belum menemukan cintamu saja, saat kau menemukannya aku yakin kau akan mendepakku bagai sampah" balas riksa yang sadar betul posisinya di hidup dokter ken


"setidaknya aku akan menjanjikan tak akan menjalin hubungan sebelum kau bertemu dengan seseorang yang bisa menjagamu. dan sampai kapanpun aku akan tetap jadi doktermu" balas dokter ken merengkuh tubuh riska erat mencoba menenangkan gejolak hati riska yang sedang berada di dasar kesedihan


riska membalas pelukan dokter ken "terima kasih, terima kasih kau jadi dokterku, terima kasih selama selama 21 tahun ini menemaniku" ucap riska dari dasar lubuk hatinya yang paling dalam