Live In The Foly Of Love

Live In The Foly Of Love
Ujian



***


Viko yang baru selesai mandi


mengelap rambutnya yang basah dengan handuk kecil


“sini aku bantu keringin” tawar


rio


“ogah” viko menghindari tangan


rio yang akan mengambil handuknya


“ya sudah kalau gak mau, aku kan


Cuma berniat baik sama kamu, biasanya mami kamu kan yang bantu keringin rambut kamu"


ucap rio


“ya gak juga harus kamu yang


keringin kalau mami gak ada” kesal viko


“yakan mami sama papi kamu nitip


aku jaga kamu” Rio mendengus kesal dengan penuturan viko


daren membenarkan posisi duduknya menatap viko dan Rio yang memang kebetulan mereka bertiga sekamar “oh ya, ngomong-ngomong kalian


tahu gak kalau revina dan chloe suka kalian?” Tanya daren penasaran


“tahu”viko dan rio menjawab


serempak


“sejak kapan?” Tanya daren yang


jiwa keponya mulai keluar


“sejak dia masuk klub kita. Dulu


dia pernah di tawari dan menolak mentah-mentah, tapi giliran kita masuk mereka


berdua langsung bilang tertarik” balas rio yang pernah melihat bagaimana rio


menghina kakak tingkat yang di hina karena membrikan selebaran klub pada


revina, chloe dan tia


“terus kalian gak tertarik apa


sama mereka, secara mereka cantik dan orang kaya loh?” Tanya daren


“kalau cantik dan kaya zaskia


juga punya semua kali” balas rio


“tapi kita benar-benar gak ingin


pacaran dulu ya” viko menatap rio meminta pembenaran “iya kita bertiga sepakat


mau kejar cita-cita kita dulu baru fikirin pacaran” sahut rio


“oh” daren mengangguk


***


Sita sedang sarapan dengan


keluarganya “sita nanti mau pergi sama opa?” Tanya tuan bagaskara


“apaan sih dad” sahut david


“dia sudah di rumah saja 3 bulan


ini david,, biarin dia keluar sama daddy, daddy Cuma ajak dia ke rumah dylan


buat ketemu Diana dan gunawan kok” balas tuan bagas


“enggak” sahut david menolak


tegas


“biarin opa kalau daddy masih


takut sita ketemu sama om tyo di luar” sahut sita santai menyantap makanannya


“pagi om” sapa seorang pria


memasuki rumah keluarga wiraatmadja


David menoleh “wah Chandra” david


sangat senang menyambut kedatangan Chandra


“masuk Chandra, sarapan dulu yuk”


ajak david meminta Chandra duduk di samping sita


sita memutar bola matanya


malas  “sita sudah kenyang, mau mandi”


ucap sita beranjak dari kursinya


“kamu siap-siap setelah mandi,


Chandra akan mengajak kamu jalan-jalan” ucap david


“apa?” sita menatap tak percaya


pada daddynya


“dad” lina mengguncang lengan


david


“kamu jalan sama Chandra hari


ini” pinta david


“malas” balas sita


“kalau dalam sebulan kau masih


tetap memutuskan bersama dengannya maka daddy akan izinin kamu ketemu


dengannya” ucap david


Sita menoleh kea rah david “aku


pegang ucapan daddy” sita berjalan dengan semangat berjalan lalu menghentikan


langkahnya dan menoleh jika daddy melanggar “maka akan sita pastikan keluar


dari rumah walaupun om tyo tak setuju” ancam sita


Sita menuju kamarnya untuk


membersihkan diri dan berganti pakaian


“hanya sebatas ini om bantu kamu,


kalau dia tetep kekeh memilih pria itu, om gak bisa berucap lagi” ucap david


yang menjadikan Chandra sebagai ujian terakhir untuk sita dan prastyo


Lina baru sadar maksud suaminya


itu “kamu bisa menerimanya?” Tanya lina


“kita lihat saja nanti” balas


david


“akan Chandra pastikan sita lebih


***


Sita mengambil ponselnya untuk


menghubungi prastyo


“hai om” sapa sita melambaikan


tangannya


Prastyo melirik tampilan sita


“kamu rapih banget, mau pergi?” Tanya prastyo


“iya, daddy suruh aku pergi sama


seseorang” balas sita mencebikkan bibirnya


“dengan laki-laki ya?” Tanya


prastyo


“iya, kok om tahu?” Tanya sita


“maaf ya sayang, om suruh orang


ngawasin kamu jadi bisa minta orang kirim foto kamu setiap hari jika kangen


kamu makanya om tahu kalau ada tamu di rumahmu sekarang” balas prastyo yang


memang selalu jujur pada sita


“iya gak papa kok om. Sita


sebenarnya telpon mau minta maaf sama om kalau sita pergi sama cwok lain, tapi


yakin deh om sita kaya gini Cuma demi om sja’ bals sita


“maksudnya?” Tanya prastyo


“daddy sudah janji sama sita


kalau sebulan ini sita masih tetap sama om, daddy akan izinin kita bisa ketemu


dengan bebas”  balas sita dengan


tersenyum


Prastyo pun balas tersenyum “ iya


sayang syukur deh, tapi gak papa kan kalau orang-orang om tetap ikutin kamu


dari jauh” balas prastyo


“tentu saja om, malah kalau ada orang-orang


om sita jadi lebih ngerasa aman, felling sita agak kurang bagus sama pria itu.


Tatapannya itu “sita bergidik ngerri “ngeri” gumam sita


“ya sudah, jangan cantik-cantik


tapi keluarnya” ucap prastyo mengerucutkan bibirnya


“cantik gimana om? Sita oakai


bedak saja enggak, Cuma pakai pelembab bibir doing” balas sita yang memang


hanya memakai pelembab bibir tanpa make up sama sekali dan memakai pakain


casual santai


“itu karena kamu memang cantik


tanpa memakai apapun, ingin rasanya om simpan kamu di dompet om saja biar gak


ada yang lirik bidadri cantik o mini” sahut prastyo


“ah om bisa saja” wajah sita


sudah merona karena gombalan recehan prastyo


“ya sudah om, sita pergi ya”


gumam sita


Sita turun ke lantai bawah untuk


menghampiri kedua orang tuanya dan Chandra yang sudah menunggu


“ayok” ajak sita


“saya pamit ya om tante” ucap


Chandra berpamitan pada david dan lina


“iya, titip anak om” balas david


Chandra mengajak sita ke sebuah


pantai “ngapain kamu ajak aku kesini?” Tanya sita


“kan kamu sudah lama di rumah


jadi aku mau ajak kamu seneng-seneng saja” balas Chandra


“oh” sita berjalan menyusuri


pantai dan Chandra mengikutinya “kau tidak ingin lanjut kuliah lagi?” Tanya


Chandra


“ingin sih, tapi daddy masih


larang aku keluar rumah, ini sjaa karena di ajak kamu jadi bisa keluar rumah


sahut” sita


“kalau kau ingin kuliah, kita


pacaran saja nanti orang tuamu izinin kamu kuliah” balas Chandra


“tidak” balas sita


“kita pura-pura saja dulu, dengan


kamu sering jalan sama aku orang tuamu pasti tidak melarangmu” balas Chandra


“maaf ya chan, aku gak sama


sekali ada niat main tipu-tipu daddy, aku lebih suka lawan daddy ketimbang


bohongin dia. Dan satu lagi yang perlu aku ingetkan ke kamu kalau orang yang


aku cintai Cuma satu dan dia hanya prastyo jefri no more” jelas sita


“bagaimana kamu bisa bilang


seperti itu? Kita saja belom mencoba?” Tanya Chandra


Sita menoleh kea rah Chandra


“karena aku jatuh cinta padanya sejak aku melihat matanya dn tak berubah sampai


detik ini, dan untukmu taka da rasa apapun” sahut sita


“aku pasti akan membuatmu


berpaling” seru Chandra


“terserah” sahut sita kembali melanjutkan


langkahnya