Live In The Foly Of Love

Live In The Foly Of Love
perayaan penyambutan kelahiran baby twins



1 minggu kemudian


Aira sudah di perbolehkan pulang ke rumah, ibu mardiana dan ayah subrata memutuskan tinggal sementara di rumah dylan untuk membantu aira merawat kedua bayi aira dan dylan


“gimana persiapan acara selamatan bayi-bayi kamu ra?” Tanya ibu mardiana yang sedang membantu aira merapihkan pakaiannya ke dalam lemari pakaian


“katanya sudah hampir beres mah, aira belum Tanya lagi sama bang dylan bu” balas aira yang masih sibuk menyusui askar


“itu beneran nak tyo yang urus acara selamatan anak kamu?” Tanya ibu mardiana yang sempat mendengar acara selamatan anak aira di urus prastyo


“iya dia yang urus tapi tetap yang pilih detil-detilnya bang dylan, kata bang dylan aira gak boleh kecapean dan terima beres saja jadi mereka kerjasama buat ngurus acara selamatan baby twins” balas aira mengusap pipi baby askar


“askar lama banget yang nyusunya, untung adiknya si eila gak protes dan anteng nunggu giliran” ucap ibu mardiana melihat askar


masih belum selesai menyusu pada aira


“iya nih bu, dia kuat banget nyusunya bikin aira cepet laper” balas aira yang sering merasa cepat lapar akibat anaknya yang kuat minum asi


Setelah askar dan eila selesai di susui, mereka di mandikan dan di gendong ibu mardiana dan ayah subrata untuk dijemur di bawah sinar matahari, sedangkan aira memilih untuk membersihkan diri karena badannya yang terasa lengket karena belum sempat membersihkan diri semenjak bangun tidur


“aira” panggil dylan mencari keberadaan istri kesayangannya itu


Dylan berjalan kearah kamar mandi mengecek keberadaan istrinya “ceklek” aira keluar dari pintu dengan hanya menggunakan


handuk yang dililitkan sebatas dada


“ya ampun bang, bikin kaget saja” ucap aira mengusap dadanya karena terkejut akan kedatangan dylan yang tiba-tiba


Dylan juga ikut mengusap dadanya “kamu juga bikin dada abang deg-degan jantung abang rasanya mau lompat” sahut dylan melihat aira yang begitu seksi di mata dylan


“kenapa?” Tanya aira menautkan alisnya


“itu” dylan memajukan bibirnya menunjuk aira yang


hanya memakai handuk minim “ bikin batin abang meronta-ronta karena sedangpuasa “ ucap dylan mengerucutkan bibirnya karena dirinya yang sedang berpuasa karena aira sedang masa nifas


Aira terkekeh “aira gak ngapa-ngapain juga kok bang" aira


berjalan dengan santai mengambil pakaian di lemari, melepas handuknya begitu saja dan memakai pakaian di depan


dylan dengan santai, membuat dylan makin mengusap dadanya


“emang cobaan banget” gumam dylan menutup matanya


melihat aira yang sedang memakai pakaian setelah mandi


Setelah memakai baju aira menghampiri suaminya dan


duduk di samping dylan “gimana bang persiapan acara selamatan anak kita?’ Tanya aira


“sudah beres kok yang, tinggal nyelesaian dekorasi, mereka sudah mulai kerja kok” balas dylan memberitahu aira bahwa rumahnya sudah mulai di dekor


“terus mami sama papi gimana? Mereka belum sampai di


rumah loh dari kemarin?” Tanya aira lagi


“katanya sih tadi sudah di jalan, paling sore nanti sampai” balas dylan


***


Aira dan dylan berjalan beriringan  ke luar kamar mereka untuk melihat pekerjaan orang yang mendekorasi rumah mereka untuk acara pesta selamatan baby twins


“wah bagus banget dekornya bang” ucap aira takjub dengan dekor yang tengah mereka buat, padahal pekerjaan mereka belum selesai,


baru sekitar 50% tapi aira sudah menduga bagaimana jadinya


“tentu bagus sayang, abang menyesuaikan dengan


selera kamu, abang kan tahu banget selera kamu seperti apa” ucap dylan membanggakan dirinya yang sangat memahami selera istrinya


“terima kasih abang” aira mengecup pipi dylan dengan


gemas


Dylan kembali mengusap dadanya “ kamu seneng banget


sih goda abang ra” ucap dylan yang sedari kemarin menahan hasratnya untuk tidak


menyentuh aira karena aira yang sedang masa nifas


Aira memundurkan tubuhnya “ih aira ga goda abang kok”


balas aira tak merasa menggoda dylan sama sekali


Dylan mengabaikan aira dan berjalan menghampiri para pekerja untukmengecek pekerjaan  mereka


“kasian suamiku” gumam aira melihat punggung dylan


“aira” sapa  mami Diana menghampiri aira


“mami” aira memeluk mami Diana erat “papi” sapa aira bergantian memeluk papi gunawan


"kata abang, mami sama mami sampainya sore? kok sekarang sudah sampai" tanya aira yang melirik jam dinding rumahnya yang masih menunjukkan pukul 10 pagi


"iya ra, awalnya kita memang mau berangkat siangan jadi sampai nanti sore, tapi kok mami gak sabar pengen lihat cucu baru mami" balas mami diana


aira mengangguk paham “bukannya papi dan  mami sama om  bagas ya?” Tanya aira tak melihat keberadaan tuan bagas


“tadi di depan samperin anak-anak kamu, kalau mami nanti dulu kan harus bawa papi masuk kasihan dia kalau kepanasan” balas mami Dianayang masih memegang pegangan kursi roda papi gunawan


“maaf ya Diana, kamu jadi repot ngurus aku” ucap papi gunawan tak enak hati pada mami diana


“sudah lah mas” balas mami Diana tak ingin papi gunawan terus merasa bersalah pada mami diana yang mengurus papi gunawan semenjak sakit


Aira menoleh kearah dylan “bang, mami sama papi sudah pulang” ucap aira dengan suara agak lantang agar dylan bisa mendengar dengan jelas


Dylan menoleh  dan menghampiri kedua orang tuanya “mih, pih” ucap dylan memeluk kedua


orang tuanya secara bergantian


“lah, om bagas mana mih?” Tanya dylan


Mami Diana menoleh ke belakang “ tuh dia datang”


ucap mami Diana melihat tuan bagas sedang menggedong baby eila


“anak kamu lucu banget dylan” ucap tuan bagas gemas


melihat baby ila yang tengah ia gendong


“terima kasih om” balas dylan


“yu duduk dulu om “ ajak aira mengambil baby eila


Mami Diana mendorong kursi roda papi gunawan kea rah


sofa “ mau duduk di sofa?” Tanya papi gunawan


“iya” balas papi gunawan  mengangguk


Mami dian berniat membantu papi gunawan yang ingin


duduk, tapi dengan sigap tuan bagas datang menghampiri “biar aku saja” tuan


bagas menggeser tubuh mami Diana dan membantu papi gunawan untuk turun dari


kursi roda


Papi gunawan mencebikkan bibirnya “ kamu kenapa sih?


Emangnya kenapa kalau Diana yang bantu aku?” Tanya papi gunawan


Tuan bagas meletakkan tubuh papi gunawan di sofa “aku


gak mau ya kamu, curi-curi kesemepatan dekat-dekat dengan Diana” balas tuan


bagas


“emang kenapa? Toh Diana bukan kekasihmu” balas papi


gunawan


“tapi dia juga bukan istrimu lagi” timpal tuan bagas


Papi gunawan menghela nafas berat tak tahu lagi  harus berkata apalagi pada tuan bagas yang


selalu menyahuti kata-katanya dan tak mau kalah dengan papi gunawan


Dylan terkekeh melihat kedua orang yang sedang


berdebat “kalian gak sadar umur ya? Masa masih rebutan permpuan saja” ledek


dylan


“biarin!” jawab kompak papi gunawan dan tuan bagas


Aira hanya menggelengkan kepalanya “ makan dulu yuk


mih, kalian kan dari perjalanan jauh pasti lapar “ ucap aira mengajak untuk


sarapan, yang mungkin sudah kewat jam sarapan karena sudah pukul 10