Live In The Foly Of Love

Live In The Foly Of Love
Tak sesuai Harapan



Dylan melirik mami Diana “terus apa rencana mami selanjutnya?” Tanya dylan datar


mami diana mengerutkan keningnya “rencana apa?” Tanya mami Diana balik


dylan merubah wajahnya menjadi serius “apa mami mau menikah lagi?” Tanya dylan dengan wajah serius


mami diana menautkan kedua alisnya “apa-apaan sih dylan? Kok nanya gitu ke mami? usia mami sudah berapa? masa mau nikah lagi?” balas mami Diana risih dengan pertanyaan dylan


Dylan menghela nafas panjang “dylan hanya ingin tahu saja rencana mami, soalnya mama tiba-tiba memutuskan bercerai setelah sekian tahun kalian sudah pisah rumah?” Tanya dylan memastikan rencana mami Diana setelah perceraiannya dengan papi gunawan


“mami gak ada rencana apapun dylan, mami hanya ingin hidup tenang saja” balas mami Diana


“ya sudah terserah mami saja” balas dylan berjalan meninggalkan ruang keluarga dan bergegas menuju kamarnya


Mami Diana melirik dylan yang makin menjauh  “suami kamu kenapa sih ra?” Tanya mami Diana pada Aira


“dia mungkin masih  terkejut mi, saat mami sama papi memutuskan bercerai setelah sekian tahun. biar gimanapun seorang anak pasti akan sedih saat orang tua mereka berpisah” balas aira mencoba memahami perasaan dylan


“tapi bukannya dulu dia yang selalu minta mami bercerai sama papinya ” balas mami Diana


“iya sih mi, tapi sekarang posisinya agak berbeda mih. Soalnya sekarang papi sakit cukup parah tapi dia gak mau berobat dan bang dylan tahu hal itu belum lama ini” balas aira


mami diana mengerutkan keningnya “mas gunawan sakit? Sakit apa? Kok mami gak tahu?” Tanya mami Diana


“aira juga gak tahu betul sakitnya apa mih, bang dylan gak mau cerita ke aira dan gak ngebolehin aira Tanya ke papih jadi aira gak tahu penyakit papi apa” balas aira mengedikkan bahunya


***


Dylan sudah mulai mendapatkan bukti-bukti kejahatan Kendra “gimana, apa ini sudah bisa di pakai untuk menangkapnya?” Tanya dylan pada rekan-rekan  kerjanya yang sedang berkumpul di ruang rapat


“sabar dylan, kalau dengan bukti segini pasti dia akan mudah lolos” sahut rasta temankerja dylan


dylan melirik bukti-bukti yang sudah ia kumpulkan yang berada di hadapannya “aku tahu itu, tapi aku mulai tak nyaman dengan kehadirannya di kehidupanku setelah melihat kejahatanya” balas dylan dengan wajah khawatir


“aku tahu, kau pasti cemas dengan keluargamu karena tahu tabiat Kendra dan apa yang sanggup kendra lakukan untuk mendapatkan keinginannya,  tapi kita tidak boleh terburu-buru dan harus berpikir matang jika tak ingin dia mudah lolos dari balik  jeruji besi” ucap rasta menasehati dylan


Dylan mengangguk paham” iya rasta, aku paham”balas dylan


***


Mami Diana duduk di tepi ranjang mengambil ponselnya dan mengusap ponselnya meletakkannya di pipi “halo” sapa mami Diana saat panggilannya tersambung


“halo Diana” balas papi gunawan


“mas dimana?” Tanya mami Diana


“di rumah” balas papi gunawan


“maksud Diana, di rumah mana?” jelas mami Diana yang memang tak tahu dimana papi gunawan tinggal sekarang


“untuk apa kau bertanya” Tanya balik papi gunawan


Mami Diana menghela nafas panjang “aku dengar kamu sakit dari aira” ucap mami diana


“hmmm, iya aku sakit” balas papi gunawan tak ingin berbohong pada mami diana


“kalau tau sakit kenapa tidak ke rumah sakit?” Tanya mami Diana


“aku hanya ingin bersantai Diana, lagian penyakitku ini sudah tidak bisa di obati lagi jadi biarkan saja seperti ini” balas papi gunawan


“kalau tak bisa di obati kenapa malah tinggal sendiri? atau setidaknya ke luar negeri saja mas dan berobat disana ” Tanya mami Diana


“Aku tak ingin menghabiskan waktuku untuk berobat ke luar negeri . lagian aku tidak sendiri Diana, aku sudah menyewa perawat dan ada kenzi juga, jadi aku baik-baik saja” balas papi gunawan


“apa tanggapan dylan saat tahu tentang penyakit mas?” Tanya mami Diana


“tak ada tanggapan apa-apa, lagian yang cerita ke dylan juga kenzi, jadi aku tak tahu bagaimana reaksi dylan saat aku sakit” balas papi gunawan


“apa perlu aku datang dan merawatmu” tawar mami Diana


“tidak perlu diana , aku masih bisa mengurus diriku sendiri. Toh aku masih ada perawat yang aku sewa dan ada kenzi yang menemaniku” balas papi gunawan


papi gunawana menautkan kedua alisnya “maaf untuk apa?” Tanya papi gunawan


“harusnya dylan bisa menjagamu sebagai seorang anak, tapi karena kondisi kita jadi….” Ucap mami diana menggantungkan ucapannya


“sudahlah Diana, aku tak apa, toh aku masih bisa berjalan tanpa bantuan orang lain. Kalau terjadi sesuatu yang buruk aku juga pasti mengabarimu dan dylan” balas papi gunawawan


“ya sudah mas, kabari aku jika terjadi apa-apa ya” pinta mami Diana


“iya” balas papi gunawan menutup panggilannya


Papi gunawan melihat layar ponselnya, menyunggingkan senyumnya “ tuan yakin tak mau


mengabari tuan muda tentang kondisi tuan?” Tanya kenzi


Papi gunawan membenarkan posisi duduknya “aku tak ingin jadi beban mereka, jadi jangan pernah mengabari mereka” pinta papi gunawan


“tapi tuan “ kenzi melihat sedih kondisi papi gunawan yang terbaring lemah di atas


ranjang dan terpasang selang infus di tanggannya


“kau cukup awasi dylan dan keluarganya, Kendra pasti sudah mulai gelisah karena rino


sudah mengurangi kekuasaanya di perusahaan” pinta papi gunawan


“baik tuan” balas kenzi mengangguk


“kau istirahat saja, aku ingin sendiri” pinta papi gunawan


Kenzi berjalan keluar kamar papi gunawan dan menutup pintu perlahan


Papi gunawan mengangkat sebelah tangannya yang terpasang selang infus di sana “aku


merindukanmu, Diana” gumam papi gunawan lirih "duluaku bertekad akan mempertahankamu sampai maut yang memisahkan kita" papigunawan terkekeh "tapi baru akan di jemput maut aku sudah melepaskanmu" gumam papai gunawan tertawa tapi cairan bening turun bebas dari susut matanya


***


Rino berjalan ke ruangannya dengan langkah percaya diri “tuan” panggil andre saat


rino memegang kenop pintu


Rinomenoleh “ada apa?” Tanya rino


Andre menunjuk ruangan rino “di dalam ada pak Kendra” ucap andre lirih


“aku tahu” balas rino menepuk bahu andre dan masuk dalam ruangan


“ceklek”


rino membuka pintu ruangannya


“datang juga kau” ucap Kendra menatap tajam kearah rino


“ada apa?” Tanya rino berjalan menuju kursi kebesarannya


“kau menghentikan proyek-proyekku?” Tanya Kendra yang baru mengetahui beberapa proyek dibawah kepemimpinannya di batalkan


Rino berdecih “sepertinya kau salah paham akan sesuatu” ucap rino


“salah paham apa!” teriak Kendra


“aku memang CEO perusahaan ini, tapi yang memutuskan proyek itu berjalan atau tidak adalah departemen keuangan dan bagian managemen perusahaan. Jadi jangan kau limpahkan kesalahan ketidak mampuanmu padaku, karena bukan aku yang membuat proyekmu diberhentikan” balas rino


“tapi tetap saja kau yang memegang keputusan akhirnya” balas Kendra


Rino merubah raut wajahnya menjadi serius “kalau kau ingin proyekmu kembali berjalan maka buktikan kemampuanmu jangan hanya mengancam atau mengeluh pada seseorang” balas rino denga suara tinggi


Kendra menunjuk rino “kau pasti akan menyesali ini” ancam Kendra meninggalkan ruangan


rino dengan raut wajah kesal