
***
Viko menelpon rio sahabatnya untuk bertemu di salah satu bar yang ada di Jakarta
Rio celingukan mencari viko di tengah kerumunan pengunjung, walaupun waktu terbilang masih sore tapi keadaan bar sudah cukup ramai karena memang bara tersebut terletak di tempat cukup strategis
rio berjalan menghampiri viko yang sedang duduk di depan bartender, dan duduk di samping viko “ngapain kamu ajak aku ke tempat kaya gini?” Tanya rio kesal menghampiri viko yang sedang menyesap minuman beralkohol di tempat yang tak suka ia singgahi
Viko terkekeh ke arah Rio “ah lupa kalau kau sudah taubat karena sudah menikah” ucap viko terus menenggak minumannya
Rio sudah menikah sejak 1 tahun lalu bersama kekasihnya yang ia temui di tempat kerjanya. Rio awalnya juga tak menyangka akan menikah dengan seorang wanita berhijab, tapi apalah daya kalau cinta sudah melekat, tembok penghalang langsung disingkirkan dengan segala upaya.
Rio memilih pindah agama dan meminta bantuan uncle yama untuk belajar shalat dan mengaji agar tidak memalukan diri saat menikahi wanita pujaan hatinya, pindah agamanya Rio juga di ikuti kedua orang tuanya karena melihat keadaan yama yang jauh lebih tenang saat menjadi muslim
“itu tahu kalau aku sudah taubat, bisa di anggurin seminggu aku kalau istriku tahu aku ada disini” ucap rio dengan suara tinggi
istrinya adalah muslim yang taat, tentu ia akan kena semprot jika datang ke tempat penuh maksiat seperti itu
“aku hanya gak tahu siapa yang bisa aku hubungi Rio, dan kebetulan aku hanya punya dirimu. teman baikku sejak dulu” ucap viko dengan tersenyum ke arah Rio
"sekarang saja baru inget aku itu sahabatmu, kamu kemana saja? saat aku minta kamu pulang untuk hadir di pernikahanku" kesal Rio mengingat viko yang kekeh tak mau pulang padahal itu adalah hari pernikahan Rio, pernikahan sahabatnya
viko terkekeh "aku gak mau ketemu dia Rio, dia berisik dan begitu menggangguku" balas viko dengan suara khas mabuknya
Rio menahan gelas viko “sudah minumnya, kamu sudah terlalu banyak minum viko, kau sudah cukup mabuk” ucap rio mengingatkan agar viko berhenti minum karena terlihat sekali kalau viko sudah mabuk
“belum cukup” viko kembali menenggak minuman tak berfaedah tersebut
Rio hanya menghela nafas panjang “kamu ada masalah apa sebenarnya?” Tanya rio paham jika sahabatnya pasti ada masalah. rio paham betul kalau viko bukanlah seorang pemabuk jadi dia tak mungkin minum tanpa alasan yang jelas
Viko menggelengkan kepalanya dan terus menenggak minumannya "aku tidak ada masalah" balas viko masih tak ingin buka suara
Rio menatap tak tega ke arah viko “jangan terbiasa memendam semua seorang diri viko, gak semua orang bisa tahu apa isi hatimu” tunjuk rio pada dada bidang viko "terkadang kita juga butuh bicara jika ingin orang lain peduli pada kita" seru Rio
viko mulai terisak “dia ingin meninggalkanku rio” gumam viko
Rio mengernyitkan dahinya “siapa?” Tanya rio yang memang belum tahu perihal ara yang datang ke Indonesia bersama viko
“apa kau masih memikirkan revina?” Tanya Rio penuh selidik
“untuk apa aku memikirkan orang munafik macam dia” balas viko dengan tatapan tak suka
“terus siapa?” Tanya rio lirih
“ara” balas viko dengan menampilkan senyum termanis nya
“ara. Ara itu siapa?” Tanya rio menautkan kedua alisnya
“kekasihku" viko mengucap kata kekasih sambil menepuk dada bidangnya tersenyum bangga
" iya aku sudah punya kekasih Rio" viko menatap Rio sambil tersenyum " kekasih bohongan ku” gumam viko terus menenggak minuman beralkohol yang ada dalam gelas di hadapannya
Rio mengernyitkan dahinya “kalau dia hanya kekasih bohongan kamu ya wajar lah kalau dia pergi. Namanya bohongan pasti akan tetap kembali ke kenyataan viko” ucap rio ingin menyadarkan viko
“tapi aku gak ingin dia meninggalkanku rio, aku ingin dia selalu ada di dekatku” viko kembali menepuk dadanya "rasanya sakit sekali waktu di bilang mau kembali ke Inggris meninggalkanku" viko menarik-narik kerah baju Rio "dan kau tahu? rasanya jauh lebih menyakitkan dari saat aku melihat dia menikah di hadapanku" viko memegang dadanya, mencengkeramnya kuat seolah merasakan sakit begitu teramat sangat
“kalau itu mah gampang viko, tinggal kamu jadiin dia kekasih
beneran kamu saja, bila perlu nikahin dia saja kan gak mungkin dia ninggalin kamu apalagi kalau dia jadi istri kamu. dia gak akan ada alasan untuk menjauh darimu” usul rio
Viko menghentikan isak tangisnya, menatap rio lekat “emangnya dia mau menikah denganku?” Tanya viko
Rio terkekeh “kenapa coba dia gak mau nikah denganmu, lihat diri
kamu viko" Rio menunjuk visual viko yang ada di hadapannya "kamu tampan, pintar dan seorang pewaris perusahaan besar jadi gak ada alasan juga wanita itu menolak kamu” ucap Rio
“benarkah?” Tanya viko semangat
“ya iya lah” jawab rio membenarkan
viko bangkit dari duduknya “kalau gitu aku akan langsung lamar dia saja” ucap viko dengan tubuh sempoyongan
Rio beranjak dari duduknya, menjaga viko agar tak terjatuh ke lantai “sadarin diri kamu dulu viko, baru kamu lamar anak orang” ucap rio menggelengkan kepalanya melihat kelakuan mabuk sahabatnya
“aku mau lamar dia!”teriak viko mengundang tatapan penuh arti ke arah viko
Rio melihat tatapan para pengunjung bar, Rio pun menunduk untuk meminta maaf “ih, bikin malu saja” kesal rio
Rio membawa pulang viko yang sudah mabuk berat, tak lupa ia juga menyampaikan racuan tak jelas viko pada askar sehingga semua keluarga viko tahu apa yang sebenarnya terjadi antara ara dan viko
*
askar, eila dan kedua orang tuanya sedang berdiri di depan pintu kamar viko, melirik viko yang sedang terbaring tidur karena pengaruh alkohol
“sudah benar tadi aku antar ara ke bandara untuk pulang” ucap eila sambil melirik viko
“gak boleh gitu eila, biar gimana pun dia tetap kakak kita, ya walaupun dia salah sih” balas askar
“abis aku kesel sama kakak kok tega bener jadiin ara pacar bohongan nya. Aku tuh tahu bener ara sayang banget sama kak viko tapi kak viko nya aja yang gak nyadar” kesal eila
“ya sudah" mami aira mengingatkan anak kembarnya untuk tidak berdebat
mami aira melirik viko "untuk kali ini mami juga setuju sama eila sih, viko salah karena mempermainkan hati ara” mami aira menatap tajam anggota keluarganya “jangan ada yang kasih tahu kalau eila sudah pulang ke inggris” ucap mami aira penuh peringatan
“iya mih” balas kedua anak serta suaminya