
seperti hari-hari biasa rafa menunggu kepulangan zifana di depan sekolahnya dengan santai
rafa berdiri menyandarkan tubuhnya di badan mobil sembari memainkan ponselnya. ketampanan rafa tentu mengundang banyak orang menatap kagum pada sosok pemuda tampan itu
"abang lagi nungguin adiknya atau anaknya? " tanya seorang wanita yang terlihat ibu muda dengan senyum malu-malu bertanya pada rafa
rafa mendongak dan tetap menatap dingin pada ibu muda itu "saya gak harus jawab pertanyaan anda bukan" rafa kembali konsen dengan ponselnya untuk mengecek email masuk di sana
"kakak" panggil zifana setengah berteriak sembari melambaikan tangan ke arah rafa
"Hai" rafa balas melambaikan tangannya sembari tersenyum manis ke arah zifana
para ibu-ibu muda yang menunggu untuk menjemput anaknya tertawa girang karena yang di tunggu rafa memanggilnya kakak
"tuh kan nunggu adiknya" bisik-bisik para ibu muda sambil tersenyum bahagia
padahal untuk apa juga mereka bahagia, mereka kan sudah punya keluarga masih saja bahagia melihat pria tampan yang masih lajang
rafa mengabaikan para ibu-ibu dan berjalan menghampiri zifana "sudah selesai sekolah" rafa mengambil tas zifana
muka zifana tertunduk lesu "iya sudah kak, lelah sekali hari ini" zifana tertunduk lesu karena memang dirinya yang lelah karena hari ini merupakan hari senin, hari yang berat menurut zifana karena begitu banyak tugas yang ia kumpulkan di hari itu dan banyak pula yang harus di bahas
rafa mengacak rambut zifana "sudah ayo pulang" ajak rafa mendorong pelan punggung zifana agar lebih cepat sampai mobilnya
setelah melihat zifana duduk dan memasang sabuk pengaman, rafa melakukan mobilnya
"kakak gak capek anter jemput zifa? " tanya zifana
rafa mengernyitkan dahinya "tumben amat kamu nanya gitu ke kakak? " tanya rafa heran mengapa juga zifana bertanya seperti itu setelah berbulan-bulan mengantar jemput zifana, bahkan sampai zifana sudah memasuki kelas 6, masa akhir sekolah dasarnya
"secara kakak kan sudah berbulan-bulan antar jemput zifa" balas zifa
"habis kamu kalau sama sopir baru pasti sopir barunya gak betah, ya sudah kakak yang jemput kamu" balas rafa
"abisnya mereka ngeselin, gak ada yang bisa di ajak bicara dengan benar" kesal zifana
"mereka pasti ada riskan untuk berbicara dengan anak majikan zifa" balas rafa
"oh ya kak, ngomong-ngomong ayah sama ibu kapan pulang? " sudah hampir setahun loh mereka pergi dan gak balik-balik? " tanya zifana
rafa mengedikkan bahunya "gak tahu, coba tanya mommy atau daddy, kakak gak pernah ngobrol soalnya" balas rafa
"ya sudah nanti zifa tanya sama mommy deh" balas zifana
terlalu lama di titipkan di rumah keluarga arsello membuat zifana memanggil kedua orang tua rafa dengan sebutan yang sama, karena mereka pun begitu dekat sekarang apalagi mommy Riska dan zifana. maklum jenny putri tunggalnya sekarang sibuk mengurus suaminya apalagi setelah jenny menyelesaikan pendidikannya dan mengikuti askar untuk tinggal di rumah kedua orang tuanya membuat jenny jarang ada waktu bercengkerama dengan mommy riska karena mengurus anak dan suaminya
*
zifana, rafa dan kedua orang tua rafa duduk di meja makan untuk menyantap makan malamnya
"mom" panggil zifana lirih
"ya sayang" mommy riska menoleh ke arah zifana
"ayah sama ibu ada kasih kabar ke mommy gak? ini sudah hampir setahun loh zifa di sini? " tanya zifana
mommy riska menghentikan kegiatannya menoleh ke arah daddy ken, seolah meminta bantuan untuk menjawab pertanyaan zifana yang sebenarnya hanya pertanyaan biasa saja
"mereka sedang sibuk zifa" timpal daddy ken
"emangnya sesibuk itu ya sampai gak sempet kabarin zifa? " tanya zifana lagi dan mengerucutkan bibirnya
"mungkin iya nak" balas mommy riska sedikit tergagap
"zifa makannya cepetan, katanya mau di ajarin soal yang susah, kakak abis ini mau pergi soalnya" ucap rafa
"iya kak" zifana langsung mempercepat makannya, agar bisa di bantu belajar oleh rafa
dengan cepat zifana menyudahi acara makannya "kak aku ambil buku dulu ya, kita belajar di ruang keluarga saja" zifana berlari ke lantai atas tempat kamarnya berada
rafa melirik ke arah kedua orang tuanya "apa ada yang kalian sembunyikan dari zifa?" tanya rafa
dokter ken menghela nafas panjang "ayah zifa sudah meninggal" ucap daddy ken lirih
"apa?!" rafa tentu terkejut mendengar ayah zifa sudah meninggal
kapan juga meninggalnya? kenapa taka da yang mengabari dan kenapa juga zifana tidak tahu, pikir rafa
"husstt" mommy riska mengacungkan telunjuk tangan ke mulutnya agar rafa bisa diam
dokter ken melirik lantai atas "nanti akan daddy ceritain setelah zifa tidur" ucap dokter ken
"iya dad" balas rafa mengangguk
mommy riska melirik tajam rafa "bersikaplah biasa jangan sampai ketahuan" peringat mommy riska
"iya mom" balas rafa
*
seusai menemani zifana belajar dan mengantar zifana tidur, rafa menghampiri kedua orang tuanya yang sedang duduk di ruang keluarga
"zifa sudah tidur dad" rafa duduk di samping mommy riska
dokter ken mulai memulai ceritanya bahwa yama meninggal saat ada ke rusuhan di turki dan zaskia yang terkejut atas kematian suaminya yang tiba-tiba membuat mentalnya terganggu dan di haruskan di rawat di rumah sakit kejiwaan di sana
rafa membulatkan mata tak percaya "kapan kejadiannya?" tanya rafa
"1 bulan setelah keberangkatan mereka" balas mommy riska
"dan kalian menyembunyikan itu dari zifa" rafa tak menyangka keputusan orang tuanya yang malah menyembunyikan kamatian seorang ayah pada anaknya
"kami terpaksa rafa, kamu tahu sendiri berapa usia zifa, 11 tahun. bagaimana dia sanggup menghadapi ini semua. ini juga atas usul tante aira dan viko" sahut mommy riska
"jadi kami minta tolong jaga dia raf, dia sekarang hanya sendiri. entah kapan ibunya bisa kembali sadar" ucap daddy ken meminta bantuan puteranya untuk menjaga zifana, secara daddy ken sudah tuan, entah kapan ajal akan mejemputnya jadi ia ingin zifana ada yang menjaga, dan daddy ken yakin anaknya bisa menjaga zifana setidaknya sampai zifana menikah nanti
'iya dad, rafa pasti jagain zifa. selama ini juga rafa jagain zifa bukan" balas rafa
mommy riska melirik puteranya "jangan kebiasaan bawa cewek aneh di dekat zifana raf, itu akan membawa pengaruh buruk buat zifana. zifa masih kecil jangan di kasih tontonan gak bermutu" mommy riska ingin membuat puteranya berbuat gila dengan banyak wanita melalui hal ini
"iya sih mom" balas rafa dengan setengah hati
'ya sudah sana tidur, kamu besok kan kerja juga anter zifa sekolah" ucap mommy riska
"ya sudah, rafa tidur ya mom" rafa berjalan ke arah lantai atas di mana kamarnya berada
mommy riska melirik punggung rafa yang makin menjauh "kalau rafa sampai suka zifa gimana mom? secara dulu daddy suka mommy dari mommy usia 10 tahun. rafa kan anak daddy jadi gak jauh beda lah seleranya" tanya daddy ken
mommy riska menghela nafas panjang "ya gak gimana-gimana lah dad" balas mommy riska
"mereka kan beda" balas daddy ken
"itu kita pikirin nanti saja ya dad, mommy ngantuk" mommy riska berjalan ke arah kamarnya