Live In The Foly Of Love

Live In The Foly Of Love
Mencari Eila (season 2)



***


“ckiiiiiit” viko mengerem mendadak di depan gedung perusahaan berlogo D itu


Viko keluar mobilnya, meninggalkan mobilnya begitu saja di lobi tanpa memarkirnya, mengabaikan satpam yang memberi viko peringatan untuk tidak sembarangan parkir


viko berjalan dengan langkah panjang dan dengan tatapan tajamnya. Ia berjalan ke arah


resepsionis “dimana bosmu?” Tanya viko dengan tatapan dingin


"tuan daren maksud anda? " tanya petugas resepsionis sopan


"iya, emang siapa lagi" balas viko


“tuan daren, ada tuan” balas petugas resepsionis


“di mana ruangannya?” Tanya viko


“tuan sudah buat janji?” Tanya petugas resepsionis


“di mana ruangan bos kamu?” Tanya viko dengan menekankan suaranya di setiap kata


Resepsionis  menjadi bergidik ngeri karena tatapan tajam


viko “ ruangan tuan daren di lantai 17 tuan” sahut petugas resepsionis dengan tergagap


Viko langsung berjalan menuju lift dan menekan angka 17. Tatapannya sungguh dingin


dan tajam seolah ingin membekukan orang yang ia tatap


“ting” viko membuka jasnya, menyampirkan jasnya di bahu dan menggulung kemejanya sampai siku, ia berjalan dengan langkah lebar menuju ruangan yang berada di ujung lorong yang di yakini viko


sebagai ruangan daren


“ceklek” viko membuka pintu kasar dan melemparkan jasnya ke sembarang arah


Daren mendongak, memicingkan matanya ke arah viko yang berjalan mendekat ke arahnya


“bugh” viko langsung menonjok muka daren membuat daren jatuh terhuyung karena tak siap dengan kedatangan viko yang begitu tiba-tiba


Daren mengusap sudut bibirnya yang berdarah “apa-apaan kau ini!” kesal daren karena langsung mendapat pukulan oleh viko tampa tahu apa kesalahannya


“siapa kau! Berani menyakiti adikku hah!” teriak viko sambil menunjuk-nunjuk wajah


daren dengan amarah yang meluap-luap


Daren menghela nafas kasar “emang apa yang aku lakukan pada adikmu?” Tanya daren merasa tak berbuat salah pada eila


viko menunjuk muka daren “karena kau, adikku akan pergi. Karena kau!” teriak viko kesal


daren menajamkan matanya “aku gak pernah memintanya pergi viko, aku hanya bilang tak bisa mencintainya” balas daren


“kalau kau tak mencintainya, harusnya kau tetap menjaga jarak darinya seperti dulu. toh selama 8 tahun dia tidak bisa mengingatmu tak ada masalah apapun dengannya. Jadi untuk apa kau muncul di dekat adikku hah” kesal viko


“aku….” Daren tak mampu berucap, lidahnya serasa kelu dan beku, sama sekali tak bisa digerakan


“kau memang lelaki pengecut!" umpat viko


"Kejadian penghianatan keluargamu jangan kau limpahkan


untuk adikku” viko menunjuk daren kesal “awas saja kau muncul lagi di hadapan adikku saat dia kembali ke inggris, akan ku hancurkan kau sehancur-hancurnya” kesal viko memgancam daren


Viko mengambil jasnya yang ia lempar sembarang tadi dan bergegas meninggalkan ruangan daren


Daren memegang sudut bibirnya yang berdarah “apa benar kau akan pergi” gumam daren memikirkan eila


***


viko melirik mama aira aneh karena mami aira begitu terburu-buru dan terlihat cemas “ada apa mi?” Tanya viko yang baru saja pulang ke rumah setelah marah-marah pada


daren


“eila hubungi kamu enggak?” Tanya mami aira


Viko menggeleng “tidak mih, emang kenapa?” Tanya viko


“ini sudah jam 7 sayang, dia gak ngabarin mami, padahal mau kemanapun atau pulang telat dia selalu ngabari mami mana ponselnya gak aktif lagi” ucap mami aira yang khawatir dengan eila. karena eila belum mengabari mami aira hari ini, dan ponsel eila juga tidak aktif


"kita masuk dulu mih" ajak viko menggandeng mami aira masuk ke dalam rumah menuju ruang keluarga yang sudah berkumpul seluruh anggota keluarga mahardika


Viko melirik keluarga yang lain “eila hubungin kalian enggak?” Tanya viko


“enggak mas, eila gak hubungin aku, askar maupun syakia” balas ara


“apa gara-gara tadi aku marahin dia” gumam viko merasa mungkin ini ada hubungannya dengan dirinya yang habis memarahi eila tadi sore


Mami aira sayup-sayup mendengar gumaman viko “apa yang terjadi, kamu marahin eila ?” Tanya mami aira mengguncang lengan viko


“tadi aku datang ke acaranya dan rendra, aku marah sama dia karena dia bilang akan kembali ke inggris dan akan tinggal di sana saat dia bicara di podium” balas viko


“kenapa dia mau balik ke inggris?” Tanya papi dylan


“karena apa lagi, pasti gara-gara daren lah pih” balas viko kembali kesal karena mengingat daren


mami aira makin khawatir dengan eila “ya ampun, cari adik kamu sampai ketemu kalau perlu minta bantuan uncle kalian untuk


bantu cari dia” teriak mami aira yang begitu khawatir dengan eila


“iya mih” balas viko


viko melirik askar " yuk askar, cari eila" ajak viko


"iya kak" balas askar


askar dan viko bergegas pergi untuk mencari eila


mami aira menangis dalam pelukan papi dylan "anak kita kemana pih" tangis mami aira


papi dylan mengusap punggung mami aira "tenang mih, askar dan viko pasti bisa nemuin eila. kalau misal gak ketemu kita bisa minta bantuan orang-orang terdekat kita untuk mencarinya" balas papi dylan


*


viko berkonsentrasi menyetir sambil sesekali melihat jalanan " kamu telpon janet, tanya apa eila ada di galeri" perintah viko


"iya kak" askar langsung menghubungi janet menanyakan keberadaan eila


"kata janet hari ini eila gak ke galeri kak, janet baru saja pulang dari galeri dan dia tidak berpapasan dengannya" ucap askar menyampaikan ucapan janet pada viko


"kemana anak itu" gumam viko


"emang tadi gimana loh kak ceritanya sampai kakak marah sama eila? " tanya askar


"ya kakak kesal saja sama eila. cuma gara-gara di tolak daren dia lebih milih kerja di Inggris, dia kan banyak yang suka dan tentu gak kalah daren yang jauh lebih baik juga banyak" balas viko


"terkadang cinta itu emang aneh kak, kita juga gak bisa milih dengan siapa kita jatuh cinta. lihat kita " pinta askar "kita jatuh cinta dengan seseorang yang tak pernah kita rencanakan kan? " ucap askar


"tapi gak harus sampai mengorbankan kita keluarganya askar, dia tuh saudara perempuan kita satu-satunya. masa dia tinggal terlalu jauh dari kita sih" balas viko


"ya sudah kita cari dia sampai ketemu dulu, nanti kita ajak bicara baik-baik agar mengurungkan niatnya ke luar negeri" ucap askar


"iya, nanti kita bicara dengannya agar berpikir ulang pergi ke Inggris" balas viko


viko dan askar mencari eila ke tempat-tempat yang biasa eila datangi, dan menghubungi beberapa teman eila yang askar dan viko kenal. tapi tak ada yang mengetahui di mana keberadaan eila