
***
Acara perpisahan pun di gelar di salah satu café milik syakia, awalnya viko ingin di café miliknya saja tapi syakia bersikeras
ingin diadakan di café miliknya karena dirinya ingin mentraktir semua rekan kerja yang begitu baik padanya selama ini
“kamu yakin mau ke amerika syakia" Tanya viko memulai obrolan
“yakin gak yakin aku tetap harus ke Amerika, kan syakia sudah janji sama mami dan papi syakia” balas syakia
“tuh adik emang ngeselin juga" viko menjadi kesal dengan askar adiknya "padahal sudah cocok kamu kerja di perusahaan kakak, apalagi saat kamu kerja sama arka, sudah klop banget” ucap viko memperagakan dengan kedua tangannya yang di rapatkan
ara melirik suaminya dengan tatapan kesal “idih mas kok main jodoh-jodohin syakia sama arka sih, syakia kan sukanya sama askar mas bukan sama arka ” ucap ara menyela pembicaraan suaminya
viko gelagapan melihat raut kesal istrinya “bukan gitu sayang” viko mengedarkan pandangannya
ke sekitar “untung gak a da askar” gumam viko meyakinkan dirinya bahwa tak ada askar di sana
"apaan sih mas” ara memukul lengan viko kesal
viko mengusap lengannyq yang terkena pukulan ara “mas tuh gak main jodohkan syakia sama arka
sayang, mereka kan saudara jadi gak mungkin di jodohkan lah” jelas viko
“apa iya?" Tanya ara tak percaya bahwa syakia dan arka saudara karena setahun ya syakia anak tunggal dan syakia tak pernah cerita tentang saudara yang lain padanya
“iya nona, saya sepupu dengan syakia, keluarga kami memang agak kurang dekat karena saya dan keluarga memutuskan jadi muslim
jadi agak berseberangan dengan om frans. ayah syakia dan ayah saya, ayah jamal adalah adik kandung om frans” jelas arka tentang hubungan kekeluargaannya dengan syakia
“oh” semua orang yang hadir beroh ria
“pantesan kalian dekat banget ya” ucap levi yang juga baru tahu kalau arka dan syakia bersaudara
“om frans memang masih benci dengan ayah saya karena perbedaan prinsip mereka, tapi
kalau untuk saya tentu om frans tidak benci, beliau menyayangi saya seperti anak kandungnya,
jadi walaupun om frans tahu kalau syakia mengejar askar di sini, om frans bisa tetap tenang karena ada saya yang menjaganya” jelas arka
“pantesan kakak berani bantah tuan askar terus” ucap levi menyadari asisten CEO juga dari keluarga kaya jadi dia pasti punya keberanian lebih tidak seperti dirinya yang hanya orang biasa dan dari keluarga biasa
“iya dong, biarpun dia adik bos saya, pantang bagi saya membiarkan adik saya di sakiti” ucap arka mantap dan berani tak perduli jika viko yang jelas-jelas atasannya akan tersinggung
“terima kasih kak” ucap syakia
“gak perlu berterima kasih syakia, kamu kan adik kakak satu-satunya” ucap arka yang memang tak memiliki saudara kandung ataupun sepupu lain
“ih pasti askar nyesel banget gak datang kesini” tebak ara karena askar jadi tak tahu perihal hubungan syakia dan arka
“kenapa?” Tanya syakia bingung
“dari kemarin kan dia cemburu terus sama arka” kekeh ara
viko menoleh ke arah ara dengan alis yang bertautan “kamu tahu sayang?” Tanya viko
ara tersenyum “gak mungkin ara gak tahu, lagian kelihatan kali mas dari mukanya askar yang langsung berubah kesal saat liihat kak arka, padahal kemarin-kemarin kan enggak gitu” balas ara
“masa sih dia cemburu? kayanya gak mungkin deh” Tanya syakia senang
arka menepuk pundak syakia “jangan berharap lagi syakia, ingat janji kamu hari ini kan terakhir perjanjian kamu sama om frans” ingat arka tentang perjanjian syakia dengan kedua orang tuanya
“iya kak” balas ara menunduk
Malam makin larut, semua orang mulai berpamitan pulang
“syakia kamu pulang sendiri beneran gak masalah?” Tanya arka
“gak masalah kak, kan syakia bawa mobil, lagian pacar kakak pasti sebel sama kakak karena kakak sibuk terus dari kemarin jagain syakia” ucap syakia yang tahu arka dan kekasihnya sering berdebat karena arka yang selalu sibuk
“ya sudah, langsung kabarin kakak sesampainya di rumah, 1 jam gak sampai rumah kakak akan susul kamu” ucap arka
“hati-hati kak” syakia melambaikan tangannya ke
arh mobil arka yang makin menjauh
“senang banget ya ketemu pacar” ucap askar dengan
nada bisaikan
“astaga!” teriak syakia yang terkejut mengusap
dadanya
“jangan ngagetin napa askar” ucap syakia
“suka-suka saya lah” balas askar
“ya sudah suka-suka kamu” syakia menghidupkan mobilnya melalu kunci di tangannya dan berniat masuk ke dalam mobilnya
“set” kunci itu langsung terbang menjauh dari tangan syakia
Syakia menatap askar “apa-apaan sih askar, ini tuh sudah malam, aku harus pulang” ucap syakia berniat mengambil kunci mobilnya
dari tangan askar
“ini masih jam 10 malam, dan kita harus bicara” dengan gerakan cepat askar mengunci mobil syakia kembali dan mendorong syakia
kedalam mobilnya dengan gerakan kasar
“apa-apaan sih askar” kesal syakia
Askar masuk kedalam mobil dan memasang sabuk pengaman dirinya juga syakia lalu bergegas melajukan mobilnya “aku bilang mau bicara denganmu” ucap askar
Syakia mulai duduk tenang dan menatap jalanan “bicara
apa?” Tanya syakia
“ada hubungan apa kamu dengan arka?” Tanya askar
Syakia jadi teringat obrolannya bersama ara dan viko yang mengatakan askar cemburu, dan qda rasa ingin mengetes askar
“ada urusan apa kau bertanya, hubunganku dengan dia gak ada hubungannya sama sekali” balas syakia
“kamu kan selalu bilang cinta aku selama hampir 10 tahun ini” ucap askar kesal
“aku kan juga bilang, sebulan adalah waktu terakhirku untuk mengejar kamu dan ini adalah hari terakhirku mengejar mu” jelas syakia
Askar memutar setir mobilnya dan memarkirkanbmobilnya di pinggir jalan
Askar melepas sabuk pengamannya dan menoleh ke arah syakia “hari ini belum berakhir” arka melirik jam tangannya “ ini masihbpukul 23.05 itu berarti hari ini belum berakhir” askar langsung melahap bibir syakia membuat mata syakia terbelalak lebar
Awalnya syakia hanya diam saja tapi askar menggigit kecil bibir syakia membuat syakia membuka mulutnya dan membuat askar bisa mengabsen setiap isi rongga syakia
Dirasa mereka sudah kehabisan nafas askar menyudahi pangutannya “apa maksudnya ini askar?” Tanya syakia
“apa kau tidak mengerti dengan perlakuanku tadi padamu?” Tanya askar tak percaya jika syakia tak mengerti arti perlakuannya
“tidak, aku tak paham” balas syakia
“aku tak ingin kau pergi ke Amerika” ucap askar lirih
“tidak bisa, aku sudah janji dengan papi” balas syakia
“bukankah kau sudah mendapatkan ku?” Tanya askar
“aku tak mau sesuatu dengan terpaksa” balas syakia kesal, hatinya benar-benar tersinggung dengan perbuatan askar
“syakia!” teriak askar
“aku mau pulang” balas syakia