Live In The Foly Of Love

Live In The Foly Of Love
Aku kan sudah jadi milikmu (season 2)



***


“maaf bisa bertemu pak daren?’ Tanya eila pada petugas resepsionis


“maaf anda dengan siapa ya? Dan apa anda sudah ada janji?” Tanya petugas resepsionis


“saya belum ada janji, tapi bilang saja kalau Raina Eila Mahardika datang mencarinya” balas eila ramah


Petugas resepsionis langsung menelpon ditto sekertaris CEO perusaahaan D untuk memberitahukan perihal eila yang datang dan mencari CEO


petugas resepsionis tersenyum ramah ke arah eila “tadi saya sudah menyampaikan pada sekertaris pak


daren, katanya anda di minta naik saja ke lantai 17, nanti pak ditto akan menyambut anda di sana” ucap petugas resepsionis menyampaaikan pesan sekertaris ditto pada eila


“oke, terima kasih” balas eila


Eila berjalan memasuki lift dan menekan tombol lift menuju  lantai 17 “ting” eila berjalan keluar dan di sana sudah ada ditto sekertaris daren yang menyambut “ selamat datang nona” sapa ditto menunduk hormat pada eila


“mana bos kamu itu?” Tanya eila


“di dalam nona” tunjuk ditto pada suatu ruangan besar di ujung lorong


eila berjalan menuju ruangan daren “tok tok tok “eila mengetuk pelan pintu tersebut


“masuk”ucap daren


Eila berjalan masuk denga percaya diri “selamat pagi pak daren”sapa eila


“pagi” balas daren


Daren berjalan ke arah sofa dan mempersilahkan eila untuk duduk


daren menatap eila dengan datar “apa kau sudah menyetujui permintaanku?” Tanya daren


Eila duduk bersila dan menopang kedua tangannya di atas lutut “jelaskan dulu  padaku kenapa anda ingin lukisan itu?” Tanya eila


“lalu kenapa kau menginginkan lukisanku?” Tanya daren balik


“jelas karena menyukainya” balas eila


“kalau begitu jawabankku sama denganmu” balas daren


eila menautkan kedua alisnya “tapi rasanya aneh saja, kau menukar lukisanku yang tak beharga dengan beberapa karya anda yang begitu berharga” balas eila tak paham jalan pikiran daren


“itu urusanku bukan ranahmu ikut campur” ketus daren


“oke kalau gitu" eila menatap daren dengan tatapan tajam "aku tak ingin menjualnya sama sekali” eila berdiri berniat pergi dari ruangan daren


Daren langsung menahan tangan eila, dan eila menatap


arah tangan daren “berikan penawaranmu padaku, maka akan aku berikan” pinta


daren


Eila terkekeh “kalau aku minta semua hartamu bagaimana?” Tanya eila dengan nada bercanda


“oke, akan aku berikan” balas darena tanpa ada keraguan sama sekali


eila menatap tak percaya ke arah daren “kau gila” eila menghempas tangan daren dan bergegas


pergi


Sepulang eila dari kantor daren, eila memindahkan lukisannya ke salah satu  studio miliknya, studio yang bahkan orang tuanya tak tahu karena ia beli dengan nama samaran” sebenarnya ada apa dengan lukisan ini sampai dia begitu menginginkannya” gumam eila memandangi lukisan miliknya dengan lekat


“ah pusing” gumam eila bergegas pergi meninggalkan lukisan tersebut


***


Syakia bertemu dengan dokternya perihal ia yang akan segera terbang ke amerika. Syakia yang memiliki phobia dengan pesawat di haruskan meminta resep dokter agar ia tak kambuh saat di pesawat karena perjalanan ke sana bisa memakan waktu seharian, tentu itu akan berbahaya jika phobia syakia kambuh di jalan


“ini bisa buat saya tidur 20 jam” Tanya syakia memastikan


“iya, tapi saya kasih hanya 3 butir saja tidak lebih dari itu” tegas sang dokter


“oke dokter” balas syakia tersenyum


“semoga perjalananmu selamat sampai tujuan” ucap dokter


“terima kasih dokter” balas syakia


Syakia keluar ruangan dokter, ia berjalan menuju parkiran mobil untuk pulang ke rumah


Setelah memencet tombol kunci mobil dari jarak cukup jauh karena kondisi mobil yanga memang sedang sepi,  syakia berjalan ke arah mobil dengan cepat


“seeeet” tangan syakia langsung di tarik seseorang


Syakia menoleh dan membelalakan matanya lebar “apaan sih askar?” Tanya syakia mendapati askar yang menarik tangannya


“aku gak mau kamu pergi ke amerika, kamu lupa kamu tuh punya phobia naik pesawat, gimana kalau ada apa-apa?” Tanya askar


“kamu gak lihat aku di mana sekarang?” Tanya syakia


“itu tahu aku di rumah sakit, berarti aku sudah Tanya sama dokter untuk menanggulangi phobiaku” jelas syakia


“tetap saja itu bahaya” sahut askar


“itu sama sekali bukan urusanmu” ucap syakia kembali masuk dalam mobilnya


Kali ini askar mendorong tubuh syakia agar bergeser ke kursi penumpang dan dia askar duduk di kursi kemudi “kenapa sih kamu askar?” kesal syakila


“kan aku sudah bilang aku gak mau kamu ke amerika” balas askar


“bukannya ini yang kamu inginkan ya? Dengan aku ke sana kamu kan gak perlu lihat wajah aku. Aku gak akan ganggu kamu lagi” balas syakia


Askar melajukan mobilnya dengan kencang meninggalkan pelataran parkir rumah sakit “ pokoknya aku gak mau kamu ke amerika” balas askar


“kan sudah aku bilang askar, aku sudah buat perjanjian dengan papi kalau aku akan ke América dan akan  terima di jodohkan jika sampai sebulan aku kerja di perusahaan kamu, kamu masih gak mencintaiku” balas syakia


“aku juga kan sudah bilang kalau, aku sudah jadi milikmu” balas askar


“askar!” bentak syakia


“apa!” balas askar tak kalah berteriak


“jangan seperti ini askar aku mohon, aku berusaha sangat keras untuk mengikhlaskanmu jadi tolong jangan seperti ini. Jangan terus melukaiku, 10 tahun itu sudah cukup untukku menyia-nyiakan hidupku untuk mencintaimu. Kali ini aku sudah lelah mencintai secara sepihak, tolong jangan rusak harga diri  yang terisa dariku."


syakia makin merendahkan suaranya "Jangan membuatku berharap tapi kenyataannya kau tak mencintaiku, aku sudah cukup menahannya askar” lirih syakia dengan suara isak yang terdengar lirih dan menyayat hati


Askar terus melajukan mobil syakia kencang “aku gak ada niat melukai harga dirimu” ucap askar


“lalu ini apa?” Tanya syakia


“aku hanya tidak ingin kau pergi” balas askar


“kenapa?” Tanya syakia


“ya tidak ingin saja” balas askar


Syakila terkekeh “jangan bilang kau jatuh cinta padaku?” Tanya syakia


Askar hanya diam saja tak menjawab pertanyaan syakia


Syakia langsung mengusir senyumnya dengan tatapan tajam “tolong antar aku pulang askar, besok aku harus bangun pagi karena penerbanganku pagi” ucap syakia


“tidak! Tidak! tidak! Kamu tak boleh pergi!” teriak askar memukul-mukul setir mobilnya


Syakia hanya terpaku melihat askar yang begitu kesal, dulu mungkin ia sering melihat askar kesal tapi tidak sampai seperti ini, syakila hanya duduk diam menoleh ke samping dan menatap jalanan membiarkan askar membawa dirinya kemanapun ia mau karena dirinya sudah lelah untuk berdebat dengan askar


Askar membawa syakia ke puncak, di salah satu vila milik keluarganya


“turun” askar membukakan pintu mobil dan meminta syakia untuk turun


Syakia menatap manik mata askar “kenapa kau harus seperti ini?” Tanya syakia


Askar langsung menarik tangan syakia membanting keras pintu mobil dan masuk ke dalam vila


Askar menarik tangan syakia dengan kaasar membuat air mata syakia luruh begitu saja “sebenarnya apa yang kau inginkan dariku askar? Bukankah kau yang memintaku terus pergi dari hidupmu dan jangan pernah


muncul di hadapanmu tapi kenapa sekarang kau malah seperti ini?” Tanya syakia


Askar menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah syakia “kau yang maunya apa? Setelah muncul di hidupku dan selalu mengganggu setiap saat selama bertahun-tahun, aku juga sudah memintamu berkali-kali pergi tapi kau terus mau menempel padaku. Dan kemarin kau bilang mau memperjuangkanku samapai titik terakhir tapi kau malah selalu pamer kemesraan dengan seorang pria membuatku kesal, dan membuatku memimpikanmu meninggalkanku menikah dengan orang lain dan itu membuatku sangat kesal. Walaupun setelahnya aku tahu dia kakakmu tetap saja aku kesal karena kau dekat dengan pria lain” askar menatap lekat mata syakia


“dan setelah aku bilang milikmu kau masih ingin meninggalkanku padahal kau bilang akan memperjuangakanku sampai batas terakhir perjanjianmu dengan papimu. Aku sudah bilang aku milikmu sebelum batas terakhir tapi kenapa kau masih mau pergi!” teriak askar meluapkan perasaannya


Syakia hanya menautkan alisnya tak mengerti arah pembicaraan askar “aku benar-benar tak mengerti” bingung syakila


“aku bukan kau,  yang main asal  ucap kata cinta seperti itu” kesal askar


Syakia tersenyum “jadi kau mencintaiku?” Tanya syakia dengan senyum binar bahagia


“aku tak tahu syakia” askar menunduk, lidahnya serasa kelu berucap “yang aku tahu aku kesal saat kau dekat dengan pria lain. Aku marah saat kau mengabaikanku, aku selalu  ingin melihatmu jika lama tak melihatmu, dan kau selalu ada dalam mimpiku akhir-akhir ini, dan perasaanku semakin ketakutan saat hari keberangkatnmu


semakin dekat” askar mendongak menatap manik mata syakia  “aku gak mau kamu pergi, dulu mungkin aku kesal dengan kehadiranmu dan ocehanmu tapi itu sudah seperti nafasku, saat kau mulai menjaga jarak karena kesibukanmu itu membuat dadaku sesak” askar memegang dadanya  erat “ aku benar-benar gak sanggup kamu meninggalkanku" jelas askar panjang lebar


Setiap ucapan askar yang mungkin tak terkesan romantis sama sekali tapi begitu menusuk relung hati syakia. hatinya begitu terenyuh, walaupun tak ada kata cinta yang keluar dari mulut askar tapi satu hal yang syakia yakini bahwa dirinya begitu berarti di mata askar


“terima kasih” syakia memeluk erat askar “terima kasih” syakia menyembunyikan wajahnya di dada bidang askar


Askar membalas pelukan syakia “aku mohon jangan pergi syakia” pinta askar lirih


Syakia makin memperat pelukannya “maaf askar, kali ini aku tak bisa membantah papih” balas syakia terus mempererat pelukannya


askar mengurai pelukannya “kenapa? Apa kau membenciku?” Tanya askar


Syakia menggelengkan kepalanya “ bukan itu askar, aku sudah berjanji pada papi kalau kau tidak menerimaku maka aku akan setuju menikah  dengan pria pilihan papi 3 bulan dari sekarang, dan papi sudah mencarikan aku calon suami, dia  orang yang berdomisili  di amerika makanya papi meminta aku ke amerika dan memngambil alih perusahaan di sana” balas syakia


“tidak bisa” askar memeluk erat syakia “kau tidak boleh menikah dengan orang lain” ucap askar tak terima jika syakia menikah dengan orang lain


“maaf askar, aku sudah berjanji” balas syakia


“tidak!” teriak askar menyembunyikan wajah syakia di dada bidangnya