
Askar menatap mami aira "bukannya perusahaan itu cukup besar ya mih, walaupun gak sebesar punya keluarga kita tapi setidaknya ibunya dari kalangan yang cukup mampu?” Tanya askar
“kalau ibunya orang kaya kenapa biarin ara kerja keras sendiri di luar negeri?” Tanya eila tak mengerti eila yang harus bekerja keras menghidupi keluarganya padahal ibunya orang kaya
“kalau itu mami gak tahu, mami gak enak mau bertanya lebih lanjut, Kemarin waktu dia datang menemui mami dia Cuma minta bantuan untuk ketemu ara tapi kan waktu itu posisinya ara sudah balik ke inggris dan baru saja kemarin dia telpon mami lagi untuk undang kita ke acara ulang tahun perusahaannya bulan depan” balas mami aira
viko menautkan kedua alisnya “melihat reaksi ara tadi, sepertinya ara tahu kalau ibunya adalah orang berada, dan nama perusahaan ibunya” ucap viko
“sepertinya memang ara tahu deh, soalnya setahu papi saat menyelediki aira, ara dulu hidup dengan serba kecukupan tapi entah apa yang membuat ibunya pergi dan mereka tiba-tiba jatuh miskin “ sahut papi dylan
“apa karena mama tiri ara ya?” Tebak viko
“sepertinya bukan deh, soalnya ayah ara menikah itu baru setelah ara masuk kuliah, berarti setelah cukup lama ara di tinggal ibunya, dan tiba-tiba sajasetelah ayah ara menikah malah ayah ara terkena struk tak lama setelah mereka menikah, sehingga tugas memenuhi kebutuhan kebutuhan keluarga di limpahkan pada ara” balas papi dylan
“sudah lah viko, jangan terlalu memaksa ara ya nanti lama kelamaan dia pasti akan cerita sama kamu, kamu kan suaminya, untuk sekarang biarkan saja seperti ini mungkin itu kenangan yang menyakitkan jadi ara belum siap menceritakannya ” nasehat mami aira
“iya mih” balas viko
“ya sudah semuanya, viko mau susul ara kemar dulu ya” ucap viko pamit untuk masuk ke dalam kamarnya
“iya sayang” balas mami aira
Viko berjalan menyusuri anak tangga menuju kamarnya “ceklek” viko membuka pintu perlahan dan tersenyum melihat istrinya sudah terlelap
Viko menutup pintu, berjalan menghampiri ara, membelai pipinya lembut “gemes deh sama kamu” viko mengecup lama pipi ara tak membuat ara terganggu sama sekali, mungkin karena hari ini adalah hari melelahkan bagi ara yang baru saja melakukan perjalanan cukup jauh antara inggris dan indonesia, di tambah mendapat kabar yang tak terlalu ia sukai “putri tidur” viko masuk ke dalam selimut, memeluk istrinya erat dan menyusul istrinya ke dunia mimpi
***
Eila duduk termenung menopang dagunya dengan satu tangan di ruangan kerjanya sembari menatap ponselnya dengan mengerucutkan bibirnya “masa baru kemarin askar ngomong karma itu ada, aku sudah langsung kena karmanya” gumam eila melirik ponselnya kembali
“aaaaaaaaaaakkkh!” teriak eila mengacak rambutnya kasar tak memperdulikan penampilannya yang menjadi kacau akibat perbuatannya sendiri
“tok tok tok” terdengar suara ketukan pintu
“masuk” eila merapikan rambutnya yang berantakan akibat ulahnya sendiri
seorang wanita muda membuka pintu ruangan eila dan berjalan menghampiri eila “nona ada yang mau beli lukisan nona” ucap janet sekertaris eila
eila mengeryitkan dahinya, eila tahu hanya satu lukisan miliknya yang di pajang di galeri tempat ia bekerja “itu gak di jual janet, kamu lupa ya” balas eila dengan nada malas
“tapi dia ngeyel nona, katanya suruh pengurus galeri keluar untuk bicara dengannya” balas janet
“ya sudah, biar saya yang temuin dia dan memberi pengertian tentang lukisan itu” eila keluar ruangan kerjanya menuju aula galeri tempat ia bekerja untuk menemui seseorang yang ingin membeli lukisannya
janet menunjukkan langkah pada eila pada orang yang menginginkan lukisan eila “itu nona, orangnya” tunjuk janet pada seorang pria berbadan tinggi sedang menghadap sebuah lukisan pemandangan langit biru yang terdapat matahari dan juga gulungan ombak, semuanya bernuansa biru dengan goresan berwarna putih tapi warna mataharinya berwarna senja
Eila berjalan mendekat tepat 1 jengkal dengan pria yang membelakanginya “lukisan itu tak di jual tuan” ucap eila ketus
“lukisan itu untuk penghiburan saya bukan untuk mendapatkan uang” balas eila datar
“saya bisa menelpon pemilik galeri ini untuk menjual lukisan ini pada saya” ucap pria tersebut
“telpon saja, kalau dia mau pecat saya juga gak masalah, masih banyak galeri lain atau jika saya gak kerja juga masalah, saya masih punya kakak yang bisa saya mintain uang jajan dan uang hidup sampai saya menikah nanti” balas eila dengan enteng
Pria itu menoleh dan menatap tajam ke arah eila “anda menantang saya?” Tanya pria tersebut dengan nada tak suka pada eila
eila menatap datar pria tersebut begitupun pria tersebut tapi mata pria itu seolah punya beribu kata yang tak bisa berucap karena mata yang memang tak bisa bicara “siapa yang nantang anda, itu lukisan saya jadi suka-suka saya dong mau di apain” kesal eila melipat tangannya sebatas dada
“baik kalau anda ingin menantang saya” pria tersebut langsung pergi meninggalkan eila begitu saja
Eila melirik punggung pria tersebut dengan tatapan jengah “ siapa sih dia, sampai belagu kaya gitu?” monolog eila
Janet memberikan kartu nama yang sempat di tinggalkan sekertaris pria tadi “ini dia tadi ninggalin ini” ucap janet
Eila menerimanya dan membaca nama yang tertulis di kartu nama yang di tinggalkan pria yang membuat eila kesal
“Daren Abiyaksa Rahmadi CEO Royal Green Group” gumam eila membaca nama di kartu nama tersebut
eila melirik janet “kamu tahu?” Tanya eila pada Janet
Janet menggeleng “tidak” balas janet mengedikkan bahunya
Eila mengambil ponselnya untuk menghubungi kakaknya “kak” sapa eila saat panggilannya tersambung
Viko sedang berkutat di depan laptopnya “ada apa?” Tanya viko menghentikan sesaat kegiatannya
“kakak tahu perusahaan Royal Green Group?” Tanya eila langsung pada intinya
viko mengerutkan keningnya “tahu, ada apa?” balas viko
“apa perusahaannya cukup besar? Apa jika eila menyinggungnya akan mengacaukan perusahaan keluarga kita?” Tanya eila beruntut
Viko mengernyitkan dahinya “masalah apa yang kau sebabkan dengannya?” Tanya viko menanggapi pertanyaan eila
“eila gak buat masalah kok kak” elak eila
“lah terus tadi kamu nanyain apa? pasti kan ada maksudnya kamu nanya seperti itu eila” Tanya viko
“dia tadi mau paksa beli lukisan kesayangan eila itu kak" viko tentu tahu lukisan mana yang di maksud eila karena viko tentu pernah melihatnya saat masih sama-sama di Ingris "Gak mau dong eila. Eh malah dia ancem eila pakai nama aunty sita” balas eila
Viko menghela nafas “perusahaannya memang cukup besar sih tapi masih tak sebanding dengan milik kita tapi bukan berarti kita bisa meremehkan dia begitu saja. Tapi karena kamu gak salah apapun jangan takut, ada kakak” balas viko menenangkan adiknya
“iya kak, terima kasih banyak, kau memang kakakku yang terbaik” balas eila tersenyum senang, setidaknya ia tak akan membuat perusahaannya kewalahan jika daren benar-benar ingin memaksa membeli lukisannya dengan cara menekan perusahaan keluarganya