
Aira menyandarkan kepalanya di jendela kaca sembari menatap jalanan, sedangkan Dylan mengendarai mobilnya membelah jalanan meninggalkan bandara
dylan melihat aira dari balik kaca spion yang ada di hadapannya “kamu mau jalan-jalan kemana ra?” tanya Dylan
Aira mengelus kepala viko yang tertidur di pangkuannya di kursi penumpang bagian belakang “abang pengennya kita kemana?” tanya balik aira
“abang maunya" dylan nampak memikirkan jawaban aira " mau kemanapun asalkan sama kamu” balas Dylan tersenyum ke arah aira
Muka aira bersemu merah, tersipu malu mendengar gombalan receh dylan “abang, bisa aja deh” balas aira memegang pipinya yang sudah bersemu merah karena ucapan dylan yang sebenarnya biasa saja tapi begitu membuat hati aira terenyuh
Dylan tersenyum melihat raut wajah aira yang tersipu malu “abang seneng banget liat senyuman itu setiap hari” ucap Dylan begitu bahagia melihat senyum di wajah sang istri
Aira tersenyum ke arah dylan “aira juga senang saat aira tersenyum ada abang di samping aira” balas aira saling bertukar pandang melalui kaca di dashboard
“emmmm” viko menggeliat, mengucek matanya menandakan ia bangun dari tidurnya
“kamu sudah bangun?” Tanya aira yang melihat viko mulai membuka mata
Viko tersenyum pada aira “iya mi” viko bangun dan duduk menghadap Dylan
“kita jadi jalan-jalan gak pi?” Tanya viko pada Dylan
dylan mengangguk “jadi sayang, kamu mau ke mana?” Tanya Dylan
viko langsung semangat mendengar jawaban dylan “viko pengennya ke taman bermain” balas viko
dylan tersenyum “ya sudah kita ke sana” balas Dylan memutar setirnya menuju taman bermain
Dylan melajukan mobilnya menuju salah satu taman bermain terbesar di Jakarta dengan kecepatan rata-rata
***
Viko berjalan di posisi tengah dengan di gandeng aira dan Dylan yang berada di kiri dan kanan Viko “viko seneng deh” gumam viko mengembangkan senyumnya sejak turun dari mobil
Aira menoleh pada viko “seneng bisa jalan-jalan ya?” Tanya aira menebak perasaan anaknya
“iya sih, tapi bukan itu yang paling buat viko seneng” balas viko menoleh ke arah aira
Dylan menaikan sebelah alisnya “terus karena apa?” Tanya Dylan mulai penasaran
Viko menoleh kearah Dylan “viko senang ada mami dan papi yang nemenin viko jalan-jalan" viko bergantian menoleh ke arah dylan dan aira "bukan hanya mami saja yang nemenin viko. keluarga viko sekarang sudah lengkap” balas viko dengan senyum mengembangnya
Cairan bening terjun bebas di pipi aira, mendengar ucapan viko. Aira menerawang masa lalunya yang sering mengajak viko berjalan seorang diri karena razi ayah viko yang tak suka dengan keberadaan viko semenjak viko dalam kandungan membuat mereka jarang menghabiskan waktu bersama
Dylan yang paham kesedihan aira, mengarahkan tangannya ke pipi aira menghapus jejak cairan bening itu “jangan lagi bersedih ra” pinta Dylan
aira menggelengkan kepalanya menangkap tangan dylan “aira gak sedih kok bang, aira bahagia akhirnya kita bisa kumpul bareng seperti ini, dan aira bahagia bisa memberikan keluarga lengkap untuk viko” balas aira
Aira menghapus sisa jejak air matanya dan tersenyum ke arah dylan "abang juga seneng kita bisa kumpul bareng kaya gini" dylan mengangkat tangan viko ke atas " ada anak papi yang tampan" dylan lalu menoleh ke arah aira "dan ada istri abang yang paling abang cintai" balas dylan
aira tersenyum bahagia mendengar pernyataan dylan “oh ya bang, kemaren mami nelpon aira, katanya proses operasinya berjalan lancar, kalau tak ada keluhan selama pemulihan di sana, mami akan pulang ke tanah air secepatnya ” ucap aira
dylan menaikkan sebelah alisnya “wah mami sekarang gak ingat anaknya lagi ya, setelah ada kamu” ucap Dylan menggeleng-gelengkan kepalanya
aira menatap heran ke arah dylan “kok abang gitu ngomongnya?” tanya aira menautkan kedua alisnya
“ya iya lah, selama di jerman mami gak pernah nelpon abang, tapi dia selalu nelpon kamu dan viko” ucap Dylan, mengingat mami diana yang rutin menelpon viko dan aira tapi tidak dengan dirinya
Dylan mencubit pipi aira gemas “kau ini” gumam dylan tertawa bersama aira dan viko
Viko tersenyum bahagia melihat keharmonisan orang tuanya “pi, viko mau main itu” tunjuk viko pada sebuah wahana yang cukup menguji adrenalin
Dylan berjongkok di hadapan viko mensejajarkan tubuhnya dengan anak sambungnya itu “itu tidak cocok untuk usiamu viko” Dylan mengusap kepala viko membuat rambutnya berantakan
“kita cari permainan yang lain ya” Dylan menggandeng tangan viko dan merangkul aira mengelilingi area tempat bermain untuk mencari wahana yang aman untuk viko
Dylan memutuskan untuk naik perahu untuk mengitari danau yang ada di area taman bermain
“apa kau senang?” Tanya Dylan pada viko
Viko mengangguk “ehhm, seneng” balas viko
Viko dan Dylan mendayung perahu dengan semangat
Aira melihat dengan senyum terpancar jelas dari raut wajahnya, dengan interaksi viko dan dylan
“biarkan kebahagiaan ini untuk selamanya” batin aira melihat tawa lepas Dylan dan viko
1 tahun kemudian
“aira!” teriak Dylan membuka pintu dengan kasar
wajahnya terlihat begitu panik, dan nafas memburu karena sehabis berlari kencang
Dylan berlari menghampiri aira yang terbaring di ranjang kamarnya “kamu kenapa? Kenapa pingsan? Apa yang
sakit? Kenapa tak ke rumah sakit? Apa sekarang kita ke rumah sakit saja, abang gak mau kenapa-napa sayang” ucap Dylan tanpa titik dan koma karena menghawatirkan aira dan dengan nafas memburu karena berlari saat mendapat kabar aira pingsan di sekolah
Aira tersenyum dengan tingkah suaminya “aira gak papa kok bang” balas aira tersenyum hangat
“gak papa gimana? Kamu pingsan di sekolah ra” balas Dylan mengerutkan keningnya
viko geleng-geleng kepala melihat kelakuan papinya yang selalu ia lihat mencemaskan aira setiap hari “mami gak papa kok pih, itu Cuma adik viko saja yang rewel jadi bikin mami pingsan” ucap viko dengan senyum girangnya
Dylan menoleh pada viko “adik kamu? Adik yang mana? Perasaan kamu gak ada adik deh” ucap Dylan memikirkan siapa adik viko, karena yang dylan tahu usia anak-anak kakak aira di atas Viko semua, jadi viko adalah cucu termuda di keluarga mailans
“deg” Dylan menoleh pada aira menatap perut datar aira “adik?” Tanya Dylan dengan penuh harap
Aira melihat arah tatapan mata dylan dan mengangguk “aira hamil bang” balas aira dengan senyum mengembang
Dylan memeluk erat aira “kamu hamil ra?” tanya Dylan
“iya bang” balas aira mengangguk dalam pelukan dylan
“akhirnya kita bisa kasih viko adik” ucap Dylan melonggarkan pelukannya dan menarik viko untuk berpelukan bersama
Keluarga aira yang juga ada di sana, karena mendengar aira pingsan di sekolah dan bergegas datang ke rumah aira dan dylan tersenyum haru melihat cinta Dylan untuk aira dan viko yang hanya anak sambungnya
“terima kasih ra, terima kasih” ucap Dylan mengecup kening aira cukup lama
“sama-sama abang” balas aira meresapi kecupan dylan untuknya
aira begitu bersyukur memiliki suami yang begitu menyayanginya dan menerima dirinya apa adanya