
***
“tok tok tok “ daren mengetuk pintu kamar eila
“eila, makan dulu yuk, ini sudah jam 9. sudah waktunya sarapan” ucap daren
“eila” daren terus mengetuk pintu eila
“awas” eila mendorong tubuh daren kasar
Daren melirik eila “kau habis berolahraga?” Tanya daren melihat eila yang memakai pakaian olahraga dengan tubuh masih berkeringat
“kenapa emangngya” eila berkacak pinggang ke arah daren “emangnya aku harus nangis meringkuk di bawah selimut karena kamu gitu ” eila membuka pintu kamarnya dengan gerakan cepat “gak penting” gumam eila masuk kamarnya dan membanting pintu dengan kasar
daren menghadap pintu kamar eila “kalau kau sudah makan, akau pergi” cicit daren bergegas meninggalkan kamar eila
Eila mengatur deru nafasnya “jangan pernah terlihat lemah eila” eila menguatkan dirinya sendiri
Eila memilih membersihkan diri dan akan keluar menemui franda untuk berpamitan, karena ia ingin segera kembali ke Jakarta, jika disini jantungnya seolah ingin berlari keluar karena berdekatan dengan daren
***
“syakia" panggil seorang pria berbadan tegap menghampiri syakia dan askar yang sedang makan siang bersama
Syakia menoleh kebelakang, ia mengerutkan keningnya “james” panggil syakia mengenali orang yang
memanggilnya
“apa kabar?” Tanya james memeluk syakia sebagai salam persahabatn
“baik” balas syakia membalas pelukan syakia
“Ekhem ekhem” askar berdehem keras
tentu askar sangat kesal ada lelaki yang memeluk istrinya di depan matanya
James menunjuk askar “siapa? Bos kamu?” Tanya james yang melirik pakaian syakia yang menggunakan setelan kerja sama seperti askar
syakia melirik ke arah tangan james “iya dia bosku, sekaligus suamiku” balas syakia dengan senyum ramah
“wah kamu sudah menikah?” james terkejut saat tahu syakia sudah menikah
“iya, dia yang aku kejar sejak SMA, kau lupa” ucap syakia mengingatkan james pada pria yang syakia kejar sejak dulu, dan syakia tak pernah dengan itu ataupun menutupinya darei orang lain
James Nampak mengingat “ah, yang dari jurusan bisnis itu, yang kerjaanny akabur dari kamu itu ya” james Nampak mengingat askar yang juga satu kampus dengannya tapi berbeda jurusan
“iya, itu kamu inget” balas syakia
“aku gak nyangka kamu nikah loh sama dia, aku kira kamu gak akan nikah sama dia karena dia yang selalu kabur dari kamu. Padahal aku sudah bersiap lamar kamu kalau kamu sudah move on” ucap james terkekeh
Askar mendelik tajam “jaga kata-kata anda ya” kesal askar
“eits” james mengangkat kedua telapak tangannya sebatas dada ke arah askar “jangan marah sob, Cuma bercanda” ledek james
Askar membuang mukanya kasar “maafin suami aku ya james, sekarang suamiku tukang cemburu, dia paling gak suka ada yang dekat-dekat dengan aku” ucap syakia setengah berbisik
“syukur deh kalau dia jadi bucin gitu, berarti dia kena karma karena sering abaikan kamu jadi berubah jadi bucin sama kamu” ledek james lagi
“waaah kurang ajar nih laki” kesal askar
james makin terkekeh“oke, oke aku gak mau cari perkara, aku pamit ya syakia” james berlalu pergi sebelum
askar benar benar marah
Syakia mengusap lengan askar “sabar sayang, memang temenku satu itu agak lemes mulutnya, tapi orangnya baik kok” ucap syakia
"tapi dia ngeselin sayang” adu askar
“iya sayang” syakia menggenggam tangan askar menenangkan suaminya yang sedang dalam mode kesal dan cemburu itu
***
Eila berjalan ke arah galerinya dengan alis saling bertautan “kenapa ada banyak orang” gumam eila melihat
banyaknya orang yang berlalu lalang di dalam geleri tempat ia bekerja
“ada apa ini janet?” Tanya eila pada janet asisten sekaligus sekertaris eila
“itu nona, lukisan tuan daren sudah boleh di pajang di galeri kita” balas janet
“oh” eila berjalan menuju ruangannya dengan langkah pelan
Eila mengerjakan pekerjaan yang harus tertunda karena selama satu minggu ia ada di Kalimantan
“tok tok tok “ setelah membuka pintu janet masuk ke ruangan eila
Eila mendongak “ada apa janet ?" Tanya eila saat janet memasuki ruangannya
“itu nona, sekertaris ditto antar berkas kerjasama kita dengan tuan daren yang sudah di tandatangani” balas janet
“ya sudah, suruh dia masuk” balas eila
Sekertaris ditto masuk ke ruangan eila dengan sebuah map “ pagi nona” sapa sekertaris ditto
lukisan itu masih ada di tanganku?” Tanya eila
“kata tuan, gak ada yang harus di tutupi lagi jadi dia gak ada alasan lagi menolak kerjasama dengan anda?” balas ditto
eila mengangguk paham “oh ya ditto, ngomong-ngomong apa dia masih tinggal seorang diri?” Tanya eila
Ditto mengernyitkan dahinya “kenapa anda bertanya soal itu?” Tanya ditto
“jawab saja” kesal eila yang ingin cepat dapat jawaban
“iya,dia masih tinggal sendiri kan memang dia hanya anak tunggal apa lagi setelah orang tuanya tiada” balas ditto
“apa kalian dekat?” Tanya eila lagi
Ditto makin mengernyitkan dahinya “saya masih normal nona” kesal ditto mengira kedekatan yang di maksud eila adalah kedekatan dengan tanda kutip
“jaelah siapa yang mikir kamu gak normal, kan saya nanya kamu dekat gak sama dia?” perjelas eila dengan pertanyaannya
“saya hanya tahu sebatas pekerjaan tuan daren, selebihnya saya gak tahu nona, tuan daren orang yang terlalu tertutup, dia juga paling tidak suka jika saya bertanya” balas ditto
“ternyata dia masih saja seperti itu” gumam eila
“apa nona?” Tanya ditto memastikan suara sayup-sayup yang ia dengar
“tidak, bilang saja perjanjiannya aku terima, aku akan bertemu dengannya jika lukisannya sudah ada yang menawar” ucap eila
“kata tuan, cukup bicara pada saya saja tidak harus menemuinya” balas ditto
“dia mau menghindari saya lagi?” Tanya eila kesal
“saya gak tahu nona, itu Cuma kata tuan daren, saya gak tahu maksud tuan apa, saya gak paham isi pikiran tuan” balas ditto takut akan kemarahan eila
“ya sudah, pergi sana” kesal eila
Setelah selesai bekerja seharian, eila pulang ke rumahnya dengan wajah tertunduk lesu “ eila pulang” seru eila menaiki anak tangga menuju kamarnya dengan wajah tertunduk
Mami eila dan papi dylan saling lempar pandangan “kenapa tuh anak gadis kita?” Tanya papi
dylan menunjuk eila dengan dagunya
“gak tahu” balas mami aira mengedikkan bahunya
Mami aira menoleh ke arah askar “kamu tahu?’ Tanya mami aira
Askar mengedikkan bahunya “gak tahu mih” balas askar
“katanya sih lagi di cuekin sama seseorang” celetuk ara yang sedang memakan camilannya sembari menonton acara televisi
Viko yang masih mengusap perut ara menghentikan tangannya “di cuekin?” Tanya viko
“iya” balas ara mengangguk
“masa?” Tanya kesemua orang dengan serempak
“iya, katanya sih begitu” balas ara dengan ragu karena tatapan tak percaya semua orang padanya
“baru kali ini denger ada yang cuekin eila, biasanya dia yang cuekin orang-orang” askar tak menyangka ada masa dimana eila akan di abaikan seseorang
“kamu tau sayang, siapa yang cuekin eila” Tanya viko dengan keponya
“dia sih gak bilang nama, eila Cuma bilang muridnya mami yang nyebelin berani-beraninya jauhin aku. Gitu dia praktekinnya setiap abis cerita” balas ara
“maksud kamu daren, murid mama dulu?” Tanya mami aira memastikan pria yang di maksud ara
“ara gak tahu mih, yang mana soalnya eila kalau cerita kaya kereta, jadi ara Cuma manggut-manggut belaga dengerin” jujur ara
“hahahaha” askar tertawa keras memegang perutnya “emang dia kalau lagi galau ceritanya suka kaya kereta yang gak ada remnya” kekeh askar
“gak ngaca kamu, kamu aja kalau lagi kesel cerita pake bibir di maju-majuin kaya anak kecil” sahut viko
“masih mending aku sama eila suka cerita kalau ada masalah , dari pada kakak suka pendem sendiri, kita
semua suruh nebak isi pikiran kakak” kesal askar
Viko langsung menjitak kepala askar gemas “dasar adik kurang ajar” kesal viko
“jangan marah-marah sama askar mas, nanti mirip dia anak kita” ucap ara yang baru diceritakan mami aira gak boleh sering menggunjing atau membenci seseorang saat hamil nanti anaknya bisa mirip orang yang kita benci
“amit-amit jabang bayi” viko mengetuk kepalanya lalu mengetuk meja, dan mengusap perut ara “jangan
sampai mirip dia, bisa bikin jantungan” cicit viko
“semoga mirip aku tuhan” doa askar
“amiiin”sahut syakia
viko melirik askar dan syakia yang duduk tak jauh darinya “dasar pasangan somplak” kesal viko
“viko, inget” tunjuk mami aira pada perut ara dan viko kembali melakukan amit-amit dan mengusap perut ara
Syakia dan askar makin tertawa melihat kelakuan viko yang ketakutan dan mengucap mantra agar anaknya tak mirip askar