Live In The Foly Of Love

Live In The Foly Of Love
Mempercayakan perusahaan keluarga pada anak bungsu



***


Viko mengikuti kelasnya dengan konsen dan mencatat poin-poin yang di sampaikan dosen dengan fokus


“dari kelompok yang sudah saya bagikan, kerjakan materi-materi yang sudah saya berikan per kelompok, semua tugas di kumpulkan pada pertemuan minggu depan dan kita akan mulai presentasi dari materi yang saya


pilih acak nanti” seru dosen viko mengakhiri pembelajaran hari ini


setelah dosen keluar kelas, Viko membereskan barang-barangnya dan bersiap keluar kelas “viko”panggil zaskia masuk ke kelas Zaskia


“hei zas kamu sudah selesai kuliahnya?” Tanya viko


“sudah, yuk pulang”ajak zaskia


“tapi aku ada perlu sebentar ke rumah nenek, gimana?” Tanya viko tak enak hati pada zaskia


“emang ada apa?” tumben kamu ke rumah nenek kamu lagi, bukannya kemarin baru dari rumah nenek kamu ya?” Tanya zaskia


“iya ada sedikit masalah, mami nginep di rumah om david jadi aku dan adik-adik aku tinggal di rumah nenek


untuk sementara karena papi ada dinas di luar kota, kata papi kita gak boleh sendirian di rumah tanpa pengawasan orang tua” balas viko


“oh gitu” balas zaskia mengangguk paham


“ya sudah aku pulang sendiri saja” balas zaskia tersenyum


"kenapa kamu gak bareng sama Rio saja?" tanya viko


"dia ada janji dengan temannya" balas zaskia yang memang sudah mendapat kabar kalau rio akan pergi dengan temannya


“maaf ya zaskia” ucap viko


“gak masalah viko, kamu kan lagi bantu orang tua kamu jaga adik-adik kamu” sahut zaskia menepuk bahu viko


Viko berjalan beriringan bersama zaskia sampai parkiran, zaskia memutuskan menelpon sopirnya agar di jemput sedangkan viko mengendarai mobilnya  meninggalkan kampus menuju rumah nenek dan kakeknya


sesampainya di rumah kakek dan neneknya, viko memarkirkan mobil di garasi dan berjalan memasuki kediaman kakek dan neneknya “nenek, kakek”panggil viko


“eh cucu kakek sudah pulang” ucap ayah subrata menyambut kedatangan viko


“askar sama eila belum sampai rumah?” Tanya viko tak mendapati keberadaan kedua adiknya


“mereka kan sedang ada jam tambahan di sekolah, karena ujian kelulusan mereka sudah semakin dekat” balas


ayah subrata


“iya juga kek” balas viko masuk ke dalam kamarnya untuk berganti pakaian


melihat viko masuk kamar yang biasa di tempati saat berkunjung ke rumahnya, ayah subrata mencari keberadaan anak dari Rino “Jeremy” panggil ayah subrata


“iya kek” balas Jeremy menghampiri kakekknya


“mama kamu mana?” Tanya ayah subrata


“lagi masak sama nenek kek” balas Jeremy


“ya sudah kalau gitu” balas ayah subrata


***


ayah benjamin meminta tyo duduk di sampingnya “ada yang mau kami bicarakan, tapi tunggu kakakkmu turun dulu ya” ucap ayah Benjamin


“iya yah” balas prastyo duduk di samping ayahnya


“ngomong-ngomong gimana kondisi daddy kamu “ Tanya ayah Benjamin membuka obrolan


“ya begitu lah yah, keadaannya semakin memburuk, tyo hanya sering bawa periksa ke dokter, tapi kakak sudah kasih perawat handal buat jaga daddy kok yah dan juga kasih kenalan dokter handal” balas prastyo


“terus kamu cerita gak?  tentang sita ke daddy kamu?  Tanya mama Katrina


Prastyo menggelengkan kepalanya “engga mah, takut daddy kepikiran” balas prastyo tak tega membebani pikiran daddynya yang sekarang sering sakit-sakitan


Terlihat dokter ken menuruni tangga berdampingan dengan Riska menuju ke ruang keluarga yang sudah ada


prastyo, mama Katrina dan ayah Benjamin menunggu di sana


“kamu sudah lama?” Tanya dokter Ken melihat kehadiran adiknya


“belumlama  kak” balas prastyo


dokter ken duduk di hadapan prastyo dan riska duduk di samping dokter Ken“gimana perkembangan hubungan kamu dengan sita?” Tanya dokter ken


prastyo menghela nafas “masih sama, kak david masih gak ngizinin sita keluar rumah jadi kita sebatas komunikasi lewat ponsel saja” balas prastyo


Dokter ken mengangguk-angguk " yang sabar ya tyo, namanya cinta memang butuh perjuangan jika ingin mendapatkannya" balas dokter ken


"iya kak, terus kakak ada apa panggil tyo?” Tanya prastyo


“kakak ada rencana ngalihin perusahaan keluarga kita ke  tangan kamu” ucap dokter ken


“gak salah kakak ngomong gitu?” Tanya prastyo, secara menurut prastyo kakaknya juga mampu mengelola perusahaan dengan baik walaupun dia tetap menjadi seorang dokter


“enggak lah, toh kamu adik kakak dan kamu punya  hak mengelolanya, kakak mau konsen ke Rumah sakit kakak saja dan focus ke keluarga kakak. Kakak tahu kau lebih mampu mengelolanya ketimbang kakak yang terlalu banyak fokus sana-sini” balas dokter ken yang ingin lebih fokus dengan keluarga


“emang kakak ipar gak masslah kalau aku ambil ali pengurusan perusahaan?” Tanya prastyo melirik Riska


mata riska memicing karena namanya di bawa-bawa dalam pembicaraan “kenapa jadi bawa-bawa aku? Itu kan perusahaan keluarga kalian jadi terserah kalian mau gimana? Aku saja rempong ngurus perusahaanku sendiri yang di tinggal kakak kabur apalagi setelah ayahku pensiun” sahut riska yang memang kerepotan mengurus perusahaan karena jonas yang masih belum mau pulang ke Indonesia, beruntung saja suaminya sering membantu dan memberi masukan perihal perusahaan, sehingga Riska bisa mengelolanya dengan baik


“ya sudah kalau itu mau kalian, aku akan mengambil alih perusahann secepatnya” balas prastyo


dokter Ken melirik adiknya “oh ya tyo, gimana kalau kamu hamilin saja sita jadi mau gak mau david pasti setuju dengan pernikahanmu, gak mungkin juga dia akan mengabaikan anak satu-satunya” ucap dokter ken memberi usul


Prastyo menatap tajam kakakknya dan melempar bantal sofa yang ada di dekatnya ke arah dokter Ken  “itu namanya bikin keluarganya tambah benci kali sama aku kak, bisa-bisa aku jadi bulanan seumur-umur pernikahanku ” kesal prastyo dengan ide bodoh kakaknya


“ya abis kelamaan tyo, sudah 2 bulan loh mereka tahu tapi masih gini-gini saja” kesal dokter ken karena hubungan adiknya yang belum ada kemajuan


“aku masih bisa sabar kok kak, lagian sita yang jelas-jelas masih muda sabar menunggu aku mau menjalin


hubungan dengannya setelah 4 tahun” balas prastyo


dokter ken menghela nafas “tapit yo, sita masih muda kalau lama kelamaan dia mulai terbiasa jauh dari kamu dan jatuh cinta dengan orang lain bukannya kamu yang nanti menyesal?” Tanya dokter ken


“aku percaya dengan sita kok kak, ya walaupun kemungkinan terburuk aku kehilangannya tak masalah, hubunganku dengannya selama ini sudah cukup membuatku bahagia” balas prastyo menampilkan senyum yang benar-benar tulus


“gak nyangka adikku jadi dewasa, wauuuu!” teriak dokter ken takjub dengan pemikiran adiknya


Prastyo tersenyum “terima kasih kak, ini juga ada campur tangan kakak, kalau kakak gak membuatku rajin konseling" prastyo melihat anggota keluarganya "dan kalian yang selalu dukung aku untuk jadi lebih baik, mana mungkin aku bisa berubah menjadi lebih baik” sahut prastyo