Live In The Foly Of Love

Live In The Foly Of Love
Dokter Gila



Rino pulang ke rumah dengan muka di tekuk karena


harus berpisah dari istrinya untuk sementara waktu


“huuuuuh” rino menghela napas panjang saat memasuki


kediamannya


“sendiri deh” gumam rino berjalan menaiki tangga menuju kamarnya yang berada di lantai 2


Rino mengambil ponselnya yang terus berdering dari tadi “ah istriku”


rino senang mendapati istrinya menelpon


rino segera mengusap layar ponselnya untuk mengangkat telpon istrinya “hai sayang”sapa rino


“mas sudah sampai rumah belum?” Tanya zeta


“sudah sayang, baru sampai” balas rino menggerakkan layar ponselnya agar zeta bisa melihat dirinya yang sudah sampai rumah


“maaf ya mas, kalau zeta gak bisa nemenin mas” ucap zeta dengan wajah tertunduk


“gak masalah sayang, mas masih bisa ngurus diri mas sendiri kok, kamu konsen saja dengan kondisi kesehatan kamu dan anak kita” balas rino


“ya, sudah mas tidur ya, mmmmmuaaach” ucap zeta


mengecup rino dari jauh melalui layar ponsel mengakhiri panggilannya


Rino tersenyum senang memasuki kamarnya, mendapat ucapan selamat tidur dari istri tercinta


***


Rino berjalan menuju ruangannya  dengan wajah datarnya


“pagi tuan”sapa andre


“pagi” balas Rino


Andre mengikuti rino memasuki ruangan “tuan kita ada rapat dengan jajaran direksi jam 2 nanti” ucap andre


Rino mengerutkan keningnya “dalam rangka apa? Bukankah


jadwal rutin rapat bulanan dengan jajaran direksi masih 2 minggu lagi?” Tanya rino


“saya kurang tahu tuan, saya tidak diberitahu lebih lanjut tentang agenda rapat. Tadi sekertaris tuan Kendra yang datang kasih tahu


ada rapat dewan direksi jam 2 nanti” balas andre


“ya sudah, kembali kerja sana” perintah rino


andre ragu untuk berucap, tapi ia memberanikan diri bertanya untuk menghilangkan rasa penasarannya “ngomong-ngomong zeta belum sembuh apa tuan, kok belum berangkat kerja?” tanya andre


Rino mendongak menatap tajam ke arah andre, tak suka ada pria yang bertanya tentang istrinya “untuk apa kau menanyakan istriku?” Tanya rino memberikan tatapan tajam pada andre


“glek” andre menelan salivanya kasar “ saya Cuma Tanya


tuan sebagai teman kerjanya” balas andre


“dia sedang istirahat di rumah, dan dia juga akan mengundurkan diri dari perusahaan jadi segera kamu cari pengganti zeta” balas


rino


“baik tuan” andre keluar ruangan rino dengan wajah muram


Andre keluar ruangan dengan wajah tertunduk lesu “kamu


kenapa?” Tanya bela melihat wajah andre yang ditekuk saat keluar ruangan rino


“enggak papa” balas andre menggelengkan kepalanya


“oh ya, kamu cari seseorang untuk menggantikan posisi zeta dari divisi lain saja biar lebih cepat” pinta andre


“zeta mau mengundurkan diri?” Tanya bela


andre mengangguk “iya, kata tuan, zeta harus banyak istirahat karena


kondisi kandungannya yang kemarin cukup membahayakan” jelas andre


“tuan rino pasti sayang banget sama zeta ya” Tanya bela tersenyum ke arah pintu ruangan rino


“mungkin” balas andre berjalan menuju ruangannya


***


Malam harinya rino datang ke tempat praktek dokter ken utuk melakukan sesi konseling


“malam dok”sapa rino masuk ke ruangan dokter ken


“eh hai rino” sapa balik dokter ken


“apa kabar kamu?” Tanya dokter ken menjabat tangan rino


rino menjabat tangan dokter ken dengan malas “kalau aku kesini, tandanya aku tak baik” balas rino


ketus


“kenapa juga harus baik sama dokter” kesal rino yang memang selalu ketus saat bertemu dokter ken


Dokter ken yang memang sudah biasa menangani bermacam-macam orang dengan tempramen berbeda tak pernah tersinggung atau pun kesal


dengan sikap pasiennya


“ aku kemarin sudah bicara dengan ayahmu, beliau sudah menceritakan apa yang kau lakukan pada riska kemarin” ucap dokter ken


rino memutar bola matanya malas “ayah sampai cerita siapa orangnya?” Tanya rino tak


percaya kalau ayahnya akan menceritakan dengan siapa rino melakukan kejahatan


Dokter ken terkekeh “ayahmu tak bilang siapa yang kau lukai, beliau hanya bilang kau hampir membunuh seseorang karena emosimu itu" jelas dokter ken "tapi kebetulan aku tahu siapa yang kau lukai, karena aku sendiri yang mengobati kakinya yang terluka” balas dokter ken


Rino membelalakkan matanya lebar “ngapain juga dia


minta dokter ngobatin lukanya, dokter kan dokter kejiwaan harusnya dia minta


dokter umum untuk ngobatin dia bukan sama dokter ken” balas rino kesal dengan Riska yang meminta dokter ken mengobati lukanya


“karena dia juga pasienku” balas dokter ken datar


Rino terkekeh “jangan bercanda deh om, kalau dia pasien om berarti sama kaya saya dong punya masalah mental” balas rino tak percaya dengan ucapan dokter ken


“ya, dia sama sepertimu walaupun mengatasi masalah kalian dengan cara berbeda tapi sama-sama kelakuan kalian menyimpang dari hal yang seharusnya” balas dokter ken tak ingin menyebut kata sakit mental untuk pasiennya


Rino membelalakkan matanya lebar " dia sama kaya aku?”


Tanya rino


Dokter ken mengangguk “dia bahkan lebih lama jadi


pasienku, kira-kira sejak kapan ya” dokter ken kembali mengingat sejak kapan riska jadi


pasiennya “ah saat aku baru mulai praktek psikiaterku, saat itu usiaku m 26 tahun, karena kami berjarak 16 tahun berarti dia usia 10 tahun saat itu” balas dokter ken tersenyum pada rino


“kalau dokter kenal riska sejak lama berarti dokter juga pernah dong tidur sama dia?” Tanya rino sedikit vulgar tentang hubungan dokter ken dan riska


“uhuk uhuk uhuk” dokter ken sampai terbatuk dengan pertanyaan rino


“kenapa kamu bisa bertanya seperti itu?” Tanya dokter


ken kesal


“aku pernah denger dari teman-teman kalau riska


pernah bikin seorang dokter bercerai karena kebiasaannya itu dan kebetulan orang di depanku ini bercerai dan kabarnya anda bercerai karena tidur dengan pasien anda” balas rino mengingat sahabat-sahabatnya yang pernah menceritakan masalah yang dibuat riska saat acara reuni kampus


dokter ken menghela nafas “dia sudah cukup lama berhenti tidur dengan sembarang pria, terakhir sama sahabat kamu itu dan ketahuan olehmu, dia agak


takut tidur lagi dengan orang lain. Makanya tiap hari dia menggangguku” kesal


dokter ken mengingat kebiasaan riska yang sering mengganggunya saat ingin making love


Rino terkekeh “tapi enak kan tidur dengan cewek seksi?” Tanya rino meledek dokter ken


“hehehe lumayan” balas dokter ken nyeleneh


rino menghilangkan senyumnya “emang dokter gak sedih bercerai?” Tanya rino


“enggak, lagian pernikahan kami juga bukan atas dasar cinta, hanya sebatas perjodohan” balas dokter ken


“cih” rino berdecih dengan balasan dokter ken


“aku gak bilang riska sepenuhnya berubah tapi setidaknya, dia tidak tidur dengan pria lain setelah tidur denganku” balas dokter ken


“tapi dia masih mepet terus denganku” balas rino kesal


“dia mendekatimu karena dia merasa bersalah padamu. Aku


gak bilang dia gak cinta kamu sih karena yang lebih tahu isi hati riska adalah riska sendiri. Tapi dia mendekatimu hanya ingin membantu kamu lepas dari masalahmu agar kau bisa sembuh. karena dia tahu tentang penyakitmu” balas dokter ken


Rino menatap dokter ken tajam “dokter memberitahu


penyakitku?” Tanya rino


dokter ken terkekeh “bukan  sengaja rino, waktu kau sedang kumat, dan keluargamu membawa kemari. kebetulan kami habis anu-anu, di dalam” tunjuk dokter ken ke arah ruangan pribadi


dokter ken “dia gak sengaja denger” kekeh dokter ken


rino teringat kembali saat dia datang waktu memang tampang dokter ken yang cukup berantakan dan ada tanda merah di lehernya “gila, dokternya gila” kesal rino


Dokter ken menatap rino serius “aku gak bisa bilang dia


gak salah rino, tapi dia punya penderitaannya sendiri sampai menyebabkan dia suka


bersentuhan dengan sembarang pria dulu” ucap dokter ken


“gak mungkin lah dia ada masalah, keluarganya kan kaya dan keluarga bahagia bukan” balas rino yang berpikir riska lahir dari keluarga bahagia karena memang image itu yang di tanamkan keluarga riska karena keluarga riska memang cukup terkenal dan kaya


“apa yang kita lihat dari luar bukan berarti hal yang sebenarnya “ balas dokter ken


“ah bodo amat” balas rino tak perduli dengan pernyataan dokter ken