Live In The Foly Of Love

Live In The Foly Of Love
Ada aku yang selalu ada untukmu



dylan membawa aira ke taman yang cukup menyimpan banyak kenangan untuk dirinya dan aira semasa duduk di bangku sekolah


"abang ngapain bawa aira ke sini malam-malam?" tanya aira melihat sekeliling yang sepi dan hanya ada satu lampu yang menerangi taman


"ingin menikmati bunga bersamamu" balas dylan membawa aira ke bangku taman dekat lampu yang menyala


"tapi kan gak kelihatan bang kalau malam kaya gini" balas aira melihat keadaaan taman yang cukup gelap sehingga tidak begitu jelas melihat keadaan sekitar


dylan bertepuk tangan 2 kali seolah memberi kode pada seseorang, seketika lampu mulai banyak yang menyala membuat hamparan bunga ditaman itu semakin terlihat jelas


dylan menggenggam kedua tangan aira " mungkin saat gelap ada hal yang tak terlihat dengan jelas tapi saat ada cahaya maka kita bisa melihat lebih jelas semuanya. abang ingin menjadi cahaya untukmu ra " dylan menatap lekat aira  " jangan tutupi isi hatimu dari abang, ungkapkanlah semuanya abang akan jadi tempat berbagi untukmu" ucap dylan


aira memeluk dylan erat dan menangis terisak " maafkan aira ya bang" ucap aira sesenggukan


"maaf untuk apa?" tanya dylan bingung


"aira sudah berusaha tapi mulut aira seolah terkunci bang, aira gak sanggup bicara tentangnya" balas aira merasa bersalah pada dylan karena masih tak mampu jujur pada dylan yang sudah berusaha keras untuknya


mendengar itu dylan merasa bersalah karena seolah memaksa aira dengan paksa dan tak bisa memahami keadaan aira "maafkan abang ra, abang yang gak ngerti kamu . kalau kamu gak sanggup bicara jangan bicara, abang akan selalu ada disampingmu apapun yang terjadi" ucap dylan mengendurkan sedikit pelukannya lalu mencium bibir aira dengan lembut aira membalasnya sambil terisak


dylan menyudahi pangutannya lalu beralih mencium mata aira " jangan pernah habiskan air matamu untuk sesuatu yang tak penting sayang" dylan mengusap air mata aira dengan ibu jari tangannya


dylan memeluk aira erat " kamu tahu gak ra seberapa sering abang kesini saat mengingatmu?" tanya dylan sambil tersenyum


"berapa?" tanya aira sedikit mendorong tubuh dylan untuk melihat raut wajah suaminya


"bisa hampir tiap hari, kalau abang gak terikat kerja mungkin setiap jam abang kesini karena abang selalu merindukanmu" balas dylan


"benarkah?" tanya aira dengan malu-malu karena ucapan dylan suaminya


"tentu saja?" balas dylan yakin


"emangnya abang gak pernah berhubungan dengan orang lain setelah kita berpisah?" tanya aira


dylan tampak berpikir dan sedikit ragu untuk menjawabnya " pernah sih tapi abang masih tetap merindukanmu walaupun ada dirinya " balas dylan


"berarti saat kita bertemu saat itu disini, abang masih kangen aira dong?" tanya aira


dylan menggaruk tengkuknya yang tak gatal "iya tapi abang berusaha menutupinya darimu karena malu. tapi ya ra saat tahu bahwa yang menolong abng adalah kamu abang sangat bahagia" ucap dylan


"waktu itu aira juga tak tahu kenapa kaki aira membawa ke tempat ini, saat itu aira cukup bersedih karena pernikahan aira yang aira coba pertahankan sekuat tenaga tapi tetap harus berakhir" ucap aira


"sudah jangan mengingat yang tak enak untuk di ingat" balas dylan


"tapi bang, saat aira melihat bunga-bunga itu sama sekali tak ada kenangan yang terlintas saat bersamanya melainkan aira teringat tentang abang dan merasa bersalah pada abang karena tidak lebih kuat mempertahankan abang dulu, dan begitu mudah menyerah" tambah aira


dylan memeluk aira " ini bukan salahmu, tapi salah abang, abang salah karena pergi tanpa berpamitan dan penjelasan. salah abang karena tak berusaha dengan baik untuk kau tetap ada bersama abang" balas dylan


"ngomong-ngomong aira pengen tahu kisah mantan abang apa boleh cerita, abang kan tahu tentang mantan aira jadi aira pengen tahu sedikit" ucap aira


dylan merasa tak tenang saat mendengar pertanyaan itu dari aira "nanti saja ya ra abang gak pengen bahas dia" balas dylan


"abang masih cinta dia?" tanya aira tambah penasaran akan sikap dylan


"bukan, abang gak pernah cinta sama sekali sama dia, abang  bersamanya ada alasnnya tapi abang hanya belum siap menceritakannya saja" balas dylan memaksakan senyumnya


aira merasa tak enak karena bertanya hal itu pada dylan "baiklah, aira akan siap kapanpun saat abang ingin membaginya bersama aira" ucap aira


"iya sayang" balas dylan mencium kening aira dalam


"bang pulang yuk, aira ngantuk" ajak aira


mereka memutuskan untuk pulang ke rumah pukul 11 malam


tak sampai 45 menit akhirnya mereka sampai rumah keluarga mailans


keluarga aira menunggu di ruang keluarga walaupun dengan wajah lesu menahan kantuk tapi rasa penasaran akan keadaan aira seolah menahan kantuk mereka


"kalian belum tidur?" tanya aira melihat orang tua dan keempat kakaknya yang belum tidur saat memasuki rumah dan menuju kamarnya


"belum, kami sedang ingin mengobrol kan jarang-jarang kita bareng" balas kak dino


"ya sudah kamu tidur saja katanya kan ngantuk, temani viko tidur abang akan menyusul setelah menemani mereka begadang" ucap dylan tersenyum


semua orang melihat aira masuk kamar "gimana?" tanya kak raka sambil berbisik


dylan menggeleng " sepertinya kita harus bersabar dan selalu mengawasinya" balas dylan


"ya sudah perlahan saja jangan terlalu memaksanya, hanya orang itu (razi) yang memicu ketakutan di hati aira jadi asal tidak bertemu dengnnya maka tidak masalah" balas ayah subrata


"iya yah" balas dylan


"sudah temani istrimu tidur, kau juga butuh istirahat kan" ucap ayah subrata


"iya yah" balas dylan masuk kamarnya dan aira


dylan memilih untuk mandi terlebih dulu lalu memakai piama yang sudah disiapkan aira dan menyusulnya untuk tidur sambil memeluk aira erat


mereka tinggal di rumah orang tua aira sudah 2 minggu, aira memutuskan untuk masuk sekolah lagi


"pagi bu" sapa aira sudah memakai seragam untuk mengajar


"kamu beneran mau masuk sekolah?" tanya ibu mardiana


"iya, aira sudah bosan di rumah saja lagian ini sudah 2 minggu masa mas razi masih ngawasi aira saja" balas aira tersenyum


"tapi ra" ucap ibu mardiana terpotong


"biarin bu, lagian dylan bukannya sudah menyiapkan bodyguard untuk aira" ucap ayah subrata


"tapi ibu masih cemas yah, apalagi dylan masih dinas di luar kota" ucap ibu mardiana


"abang pulang hari ini kok bu, katanya nanti abang yang jemput aira" balas aira


"ya sudah, hati-hati yanak, kalau ada apa-apa langsung kabari ibu atau ayah ya" ucap ibu mardian


"siap nyonya" balas kaila memperagakan hormat ala tentara saat menerima tugas


" aira berangkat dulu ya bu" pamit aira, diantar orang suruhan dylan yang bernama ferdi


"mi nanti mau viko tungguin pulangnya gak?" tanya viko


" tidak usah sayang, kamu pulang sama om haris saja, mami kan ada om ferdi yang jaga" balas aira


"ya sudah" balas viko masuk ke dalam mobil yang sudah di siapkan dylan untuk mengantar jemput viko


aira menjalani aktivitas mengajar seperti biasa dengan lancar sampai tiba saat jam terakhir dylan mengirim pesan pada aira "sayang abang ada urusan bentar, kamu jangan jauh-jauh dari ferdi ya" isi pesan dylan


"ok suamiku" balas aira memberikan icon senyum pada dylan