
***
“mah, nih hasil kerja ara hari ini” ara memberikan sebuah amplop berwarna coklat pada seorang wanita paruh baya
Wanita paruh baya tersebut membuka amplop tersebut dan menghitung isinya, matanya memicing mengangkat isinya ke arah ara “kau Cuma dapat segini?” Tanya wanita tersebut yang tak lain adalah Jelita ibu tiri ara
“itu juga sudah usaha terkerasku untuk mencukupi kebutuhan
keluarga ini” kesal ara yang selalu dicibir mama tirinya
“kau tak ikhlas memberikan uangmu padaku hah?” Tanya jelita
Ara menghela nafas “aku sudah berjuang keras untuk keluarga ini jadi tolong hargai ini, jika ingin lebih silahkan minta kedua anakmu itu juga bekerja, tidak hanya mengandalkan kerjaku saja” balas ara
Jelita berkacak pinggang “ kau enak masih bisa kuliah, sedangkan kedua adikmu tidak” kesal jelita
“itu karena mereka malas belajar, dan harusnya kau tahu aku bisa kuliah karena beasiswa, dan uang beasiswaku juga kalian nikmati untuk hidup kalian” kesal ara meninggalkan ruang tamu
Ara berjalan ke rah kamar ayahnya yang terbaring lemah, kondisi sang ayah terkena struk tak bisa menggerakkan anggota tubuhnya dan hanya diam di atas ranjang “ayah” gumam ara membersihkan badan sang ayah dengan tetap menampilkan senyum termanisnya seolah ara baik-baik saja agar ayahnya tak khawatir
Ayah ara Damian pallavi hanya menatap sendu putri
kandungnya, putri satu-satunya yang ia miliki, tapi karena keadaannya yang lumpuh membuat ara harus bekerja ekstra keras menghidupi dirinya dan istri
serta kedua anak tiri ayahnya
Ara seakan tahu apa yang ada di pikiran ayahnya
"jangan khawatirkan ara yah, ara kan gadis yang kuat, ara bisa. Ayah hanya harus cepat sembuh kalau sayang ara” ucap ara seolah membalas ucapan ayahnya dari
tatapan mata sang ayah yang terlihat merasa bersalah pada ara
***
Keluarga besar mahardika sedang sarapan bersama di meja makan
“kamu sudah mulai urus pameran lukisan kamu?” Tanya mami aira
“sudah mih, semua sudah beres tinggal openingnya saja” balas eila
“oh ya askar gimana acara ulang tahun perusahaan tahun ini, apa ada masalah?” Tanya papi dylan pada askar
“tidak ada masalah pih semua berjalan dengan baik dan semua sudah di urus Levi asisten
askar pih” balas askar menyendokkan nasi goreng buatan mami aira ke mulutnya
papi dylan melirik ke arah eila dan askar “kali ini kalian harus buat kakak kalian hadir di acara ulang tahun perusahaan, papi ingin dia mulai terjun di usaha milik kita”
ucap papi dylan dengan nada pelan tapi terkesan tegas
"iya pih" sahut eila dan askar serempak
“apa gak sebaiknya kita biarin saja dia ngajar pih” ucap mami aira tak ingin memaksakan anaknya untuk bekerja di kantor karena mami aira tahu betul keinginan viko menjadi seorang dosen
“awalnya papi juga pengen gitu, tapi lihat anak itu, sudah 5 tahun tapi masih saja tak mau pulang padahal janjinya kan dia jadi dosen di sini bukan di inggris. masa kita yang harus bolak balik menemuinya. Jika dia mulai mengurus perusahaan kan dia akan tetap disini” ucap dylan
“kan sudah ada askar pih" sahut aira
“askar kan bisa jadi wakilnya, dan anak perusahaan kita sudah banyak dia bisa ambil salah satunya, atau viko bisa gantiin tugas rino. Rino pengen
pensiun kan” sahut papi dylan
Papi dylan menoleh ke arah askar “gak masalah kanaskar kalau kakakmu yang mimpin perusahaan?” Tanya papi dylan memastikan agar tak ada masalah di kemudian hari
tidak mungkin kan dirinya menyuruh mami nya tetap bekerja sedangkan ia bersantai di luar sana
“huh, maunya enaknya aja” ucap eila
“biarin, yang penting di saat genting aku bisa mengatasi semuanya” jawab askar membanggakan dirinya
***
Kelompok ara yang terdiri dari Rebecca dan david maju untuk presentasi di depan kelas. Beruntung dengan poin-poin yang sudah ara buat, david bisa mempresentasikan tugasnya dengan baik dan viko juga terlihat puas dengan hasil kerja kelompok ara
" baiklah teman-teman, sekian presentasi dari kelompok kami, dan terima kasih” ucap david sedikit membungkukkan tubuhnya
“prok prok prok” penampilan kelompok ara di hadiahi tepuk tangan dari para mahasiswa yang ada dalam kelas
viko menoleh ke arah ara dan teman-temannya yang masih setia berdiri di depan kelas “baiklah, presentasi kalian cukup bagus. Dan sesuai janji saya jika presentasi kalian bagus maka saya akan memberikan nilai A untuk kalian” ucap viko
David, ara dan Rebecca begitu senang mendengar itu,membuat mereka berpelukan bertiga tanpa terasa karena saking senangnya "ah asyik dapat A" gumam Rebecca
“iya seneng banget" sahut david
“sudah-sudah, kalian duduk” ucap viko menyudahi acar berpelukan ketiga orang itu
Ara, david dan Rebecca langsung duduk di kursi mahasiswa sesuai permintaan viko
“karena kelompok tadi adalah kelompok terakhir sebagai tanda penghujung perkuliahan kita di semester ini, saya ingin pamit pada
kalian karena liburan semester kita akan di mulai” ucap viko
“yah, sedih gak ketemu dosen ganteng kita lagi” celetuk salah satu mahasiswa
Viko tetap berwajah datar “permisi” viko berjalan ke luar ruangan perkuliahan dengan langkah cepat
Ara hanya menatap tak percaya ke arah viko “dasar mesin pendingin” gumam ara melihat viko yang makin menjauh
David menepuk pundak ara “mau ikut liburan dengan kami?” tawar david
“ih, apaan sih vid main ajak-aja ara” kesal Rebecca
Ara tersenyum “jangan khawatir Rebecca aku tak akan mengganggu liburan kalian, kalian kan tahu sendiri liburan adalah
kesempatanku mengumpulkan pundi-pundi uang” ucap ara mengedipkan sebelah matanya
"dasar mata duitan” Rebecca memutar bola matanya
malas pada ara
“emang aku mata duitan” kekeh ara meninggalkan Rebecca dan david dengan melambaikan kedua tangannya
David menatap punggung ara yang makin menjauh " kamu gak tahu seberapa keras usahanya bertahan hidup, padahal dulu dia hidup setara dengan kita Rebecca” ucap david lirih
“aku tahu itu david, aku Cuma masih kesal saja sama dia, dia gak mau dapat bantuan kita sama sekali dan lebih memilih bersusah
payah menghadapi tuh nenek lampir sama dayang-dayang nya seorang diri” balas Rebecca yang sebenarnya sangat menghargai ara tapi ara yang selalu memberikan
pembatas karena alasan tak enak hati
“semoga ibunya cepat kembali dan menolongnya ya” ucap david yang tahu bahwa sebenarnya ibu ara berasal dari keluarga berada tapi entah karena sebab apa ibu ara meninggalkan ara yang saat itu masih berusia 14 tahun
“semoga” sahut Rebecca