Live In The Foly Of Love

Live In The Foly Of Love
Kembali konseling



***


Rino bergegas ke rumah sakit setelah berganti pakaian di rumahnya terlebih dahulu. setalah di rasa rapih ia segera bergegas  meluncur ke rumah sakit. Sesampainya ia di parkiran rumah sakit, Rino langsung berlari menuju ruang rawat zeta. Zeta sudah dipindahkan keruang rawat sejak ia sadar beberapa jam lalu


“brak” rino membuka pintu dengan kasar


“rino” teriak ibu mardiana “huuuusssssst” ibu mardiana meminta rino diam karena zeta sedang tertidur


ayah subrata menatap tajam anaknya itu “ayah mau bicara” ayah subrata mengajak rino keluar ruang rawat zeta


Rino melirik istrinya yang sedang lelap tertidur“iya yah” rino mengikuti langkah kaki ayah subrata keluar ruang rawat istrinya


Ayah subrata menghentikan langkahnya bergegas menoleh kearah rino “dari mana kamu?” Tanya ayah subrata penuh selidik


“dari menyelesaikan masalah” balas rino gugup


“kamu gak lihat kondisi istrimu, kau malah pergi meninggalkannya bukan menemaninya di saat sulit. Untung saja tuhan masih memberikan kesempatan istri dan anakmu bertahan, bagaimana kalau sampai ia tidak bisa bertahan” kesal ayah subrata pada rino yang pergi begitu saja saat zeta sedang kritis


“maaf ayah” balas rino menundukkan wajahnya tak berani menatap sang ayah


Ayah subrata mengusap mukanya kasar, menghela nasfas panjang “kau gak menyakiti wanita itu kan?” Tanya ayah subrata yang tahu rino menyiksa Riska


Rino mendongak kea rah ayah subrata “kenapa ayah bertanya seperti itu?” balik Tanya rino dengan suara gugup


“ayah tahu tempramenmu rino, kau paling sulit mengendalikan emosimu, dan tentu kita sama-sama tahu tentang keadaanmu ini” ucap ayah subrata tak ingin menyebuat keadaan anaknya sebagai suatu penyakit agar tak menyinggung anaknya


rino mengingat bahwa dylan lah yang mencarinya sampai ke tempat di pinggiran kota“ayah kasih tahu dylan ya?” Tanya rino lirih


“tentu saja dia tahu, bagaimana kita bisa minta bantuannya kalau kita gak jujur tentang kondisi kamu” balas ayah subrata


“awalnya, ayah pikir kamu sembuh  karena kamu sudah lama sekali gak menampakkan gejalan emosimu itu tapi ternyata ayah salah. Jadi mulai minggu depan kau kembali control pada dokter ken” ucap ayah subrata


“rino gak mau yah, rino gak sakit” balas rino menggelengkan kepalanya


“kamu harus tetap ke dokter, emangnya kamu mau ada apa-apa sama istri dan anakmu nanti kalau kau sampai gak mau untuk berobat” timpal ayah subrata


“aku gak mungkin akan nyakitin istriku yah, rino sayang sama zeta” balas rino


“sayangmu bukan suatu jaminan kau tak akan menyakiti zeta. Kau lupa bagaimana kakakmu menahan beling yang pernah kau tancapkan ke tangannya saat kau sedang marah? Kau sayang kan pada kakakmu?” Tanya ayah subrata


saat rino menjalani pengobatan rutin, kak raka pernah jadi sasaran amukan rino dan menancapkan beling di tangan kak rino sampai mengeluarkan banyak darah. setelah rino memang langsung minta maaf dan merasa begitu menyesal karena menyakiti kakakknya


“iya, tentu saja rino sayang sama kakak” balas rino


“itu kau sayang pada kakakmu, tapi tetap saja kau menyakitinya. Jangan lupa bagaimana kau uring-uringan saat itu karena rasa bersalahmu” ucap ayah subrata


“iya yah, minggu depan aku akan konseling lagi sama dokter ken” balas rino akhirnya patuh pada permintaan ayahnya


“dan satu lagi, zeta akan tinggal di rumah ayah dan ibu. Tapi untuk sementara kau kendalikan emosimu dulu sebelum ikut tinggal di rumah ayah dan ibu” ucap ayah subrata


“kok gitu sih yah” protes rino tak mau pisah dari zeta


“ayah gak mau ambil resiko ada apa-apa dengan zeta dan kandungannya. Dokter sudah mewanti-wanti agar zeta tidak kembali pendarahan karena itu sangat membahayakan janinnya” ucap ayah subrata


“biar itu jadi urusan ayah dan ibu” balas ayah subrata kembali masuk ruang rawat zeta


Rino berjalan mengekor ayahnya masuk ke ruang rawat zeta


ibu mardiana meilirik kedatangan rino ke ranjang zeta, dimana ibu mardiana duduk di dekat ranjang zeta “bagaimana? Kau paham maksud permintaan kami kan?” Tanya ibu mardiana yang tahu apa yang dibicarakan ayah subrata pada rino


“iya bu” balas rino


“ya sudah, ibu sama ayah mau pulang dulu buatinmakanan buat kamu dan ambil pakaian ganti zeta. Kamu tunggu dia” ucap ibu mardiana berpamitan pada rino


“iya bu” balas rino


Sepeninggal kedua orang tuanya rino menatap wajah istrinya lekat mengusap lembut pipi zeta yang sedang tertidur lelap “maaf ya sayang, gak jaga kamu dengan baik, sampai kamu masuk rumah sakit seperti ini” gumam rino mengecup tangan zeta


Zeta mulai membuka mata karena merasa ada yang mengusik tidurnya


“eeeuughh” zeta sedikit merasa sakit saat menggerakan tubuhnya


“apa yang sakit?’ Tanya rino khawatir


“ah, masih sedikit sakit perut zeta” bals zeta mengusap perutnya


"mau mas panggilkan dokter?" tanya rino


"enggak mas, cuma sedikit sakit kok" balas zeta


Rino mengusap lembut perut zeta “baik-baik di sana ya, jangan bikin mama sakit” ucap rino seolah meminta suatu hal pada anaknya


Zeta terkekeh “dia masih sebesar biji jagung mas disana, emang bisa di ajak bicara?” Tanya zeta


“eh jangan salah sayang, bayi sewaktu dalam kandungan juga bisa di ajak bicara, bahkan sudah bisa diberi banyak ilmu jika kita telaten memberikannya” balas rino


“emang mas tahu daari mana?” Tanya zeta


“kamu lupa ya, ponakan mas ada berapa?" tanya rino mengingatkan zeta kalau di punya 4 saudara yang sudah menikah dan semua sudah memiliki anak " Mereka sering cerita di rumah jadi walaupun mas gak pernah nanya jadi mas tahu” balas rino


“iya zeta lupa” balas zeta mengingat rino yang punya 6 keponakan dan akan 7 sebentar lagi


“sayang” rino menggennggam tangan zeta erat


“maaf gak bisa jaga kamu dan anak kita dengan baik ya” pinta rino


Zeta tersenyum “ini bukan salah mas kok, ini hanya sebuah kecelakaan, lagian mas kan belum tahu kalau zeta hamil” balas zeta


rino menyipitkan matanya “kamu sudah tahu sebelumnya kalau sedang hamil?” Tanya rino


Zeta mengangguk “sudah, sekitar seminggu yang lalu. sebenarnya zeta pengen kasih kejutan buat mas akhir minggu ini saat kita gak di kantor tapi kita keadaan seperti ini. dan makanya zeta ada rencana risign dari kantor karena pengen serius jaga anak kita, zeta gak mau anak kita kekurangan kasih sayang seorang ibu kaya zeta” balas zeta


“kalau kamu pengen berhenti kerja dan jaga anak di rumah gak masalah atau jika kamu mau lanjut kerja pun juga gak masalah, mas akan selalu dukung apapun keinginan kamu” balas rino


“iya mas” balas zeta tersenyum kearah Rino