Live In The Foly Of Love

Live In The Foly Of Love
Kau yang paling menyakitiku (season 2)



***


Eila berjalan dengan langkah santai membawa sebuah benda persegi panjang berbungkus kertas berwarna cokelat  yang dapat terlihat bahwa itu adalah  sebuah lukisan


“eeeeuggghhhh” eila meletakkan lukisan yang terbungkus kertas berwarna cokelat ke atas meja resepsionis


“tolong bilangin ke pak daren kalau eila datang” ucap eila pada petugas resepsionis


Petugas Resepsionis  menatap heran eila  yang membawa benda persegi oanjang itu seorang diri dan terlihat kepayahan “iya nona, akan saya sampaikan” balas petugas resepsionis langsung menghubungi kantor daren untuk memberitahukan kedatangan eila


Eila menunggu sembari  mengetuk-ngetukan tangannya di meja “ anda boleh langsung masuk nona” ucap petugas resepsionis


“terima kasih” eila kembali mengangkat lukisan yang  awalnya ia letakkan di meja, dan membawanya dengan susah payah karena lukisan tersebut memang berukuran cukup besar 60x90 cm ukurannya dan berbingkai kaca


petugas resepsionis tak tega melihat eila yang kepayahan membawa lukisannya “apa mau di bantu nona untuk bawa itu” tawar sang resepsionis


“tidak perlu, saya bisa sendiri” eila kembali melanjutkan langkahnya menuju ruangan daren dengan membawa lukisannya dengan susah payah


eila memasuki lift dan menekan tombol lantai 17 menuju kantor daren “ting” terdengar lift berbunyi  tanda pintu lift


terbuka dan eila segera bergegas keluar lift


Eila berjalan menuju ruangan daren “ugggghhhh” eila berulang kali membenarkan genggamannya pada lukisan yang berada di tanggannya


“gimana mau ketuk pintu ya” gumam eila kebingungan untuk membuka pintu ruangan kerja daren


Eila membuka kenop pintu dengan siku tangannya dan langsung masuk ruangan daren  dengan susah payah membawa lukisan


eila meletakan lukisannya dan menatap daren “siang tuan daren” sapa eila dengan senyum mengembang


Daren mendongak dan menatap eila dengan menautkan kedua alisnya melihat benda persegi panjang yang di bawa eila ke ruangannya


 “apa yang kau bawa?” Tanya daren melirik eila yang kepayahan membawa benda persegi panjang terbungkus kertas berwarna cokelat


“ini yang kau minta dariku” ucap eila membuka kertas cokelat yang menutup lukisan yang ia bawa dengan sekali hentakan


Daren menatap heran eila yang membawa lukisan yang selama ini tidak mau ia lepas  “aku sudah tidak punya alasan mengambilnya darimu” ucap daren


“aku juga sudah tidak ada alasan untuk menyimpannya” balas eila


“kalau gitu buang saja” balas daren kembali konsen pada aktifitasnya di depan layar komputernya


“oke kalau kau ingin membuangnya” eila mengambil sebuah cuter dalam tas slempang miliknya


“sreeekk” terdengar suara cuter yang dikeluarkan  isinya membuat daren yang mendengarnya menatap horor eila


Eila mengarahkan cuter itu pada lukisan yang ia bawa dengan santai “apa yang kau lakukan!” teriak daren saat melihat eila mengeluarkan lukisan tersebut dari bingkai dan akan menggores lukisan yang eila bawa


eila menoleh ke arah daren “katanya di buang saja, jadi biar lebih mudah ya di potong kecil-kecil lah, aku sudah


kesulitan membawanya tadi, jadi aku malas harus membawanya kembali dengan posisi seperti ini kalau kecil-kecil kan mudah bawanya ” balas eila datar


“bagaimana bisa kau menghancurkannya begitu saja?” kesal daren menghampiri eila


“ya terserah aku lah” eila menunjuk inisial namanya pada lukisan yang berada di pojok kanan bawah  lukisannya “lihat ini, ada namaku  kan? jadi ini milikku jadi suka-suka aku mau aku apain” balas eila datar


“tapi aku juga yang melukisnya eila” sanggah daren tak ingin eila menghilangkan dirinya yang juga ikut mengambil bagian dalam melukis lukisan yang eila bawa


“ya sudah ambil saja” eila menyodorkan lukisannya pada daren begitu saja


Daren meletakkan lukisan itu di dekat kursi kerjanya dengan berhati-hati, seolah itu adalah benda yang begitu berharga


eilaa menyunggingkan senyum kala melihat “ya sudah Karena aku sudah memberikannya padamu, aku pulang dulu ya” pamit eila


“kamu mau kemana dengan pakaian seperti itu?” Tanya daren melirik pakaian eila yang terlihat seperti anak remaja yang akan bertemu kekasihnya


“bukan urusanmu” balas eila ketus


“eila!” sentak daren karena eila tak mau menjawab pertanyaannya


Eila menghela nafas panjang “aku ada kencan dengan salah satu kenalanku” balas eila santai


“kau mau sembarangan pacaran lagi” Tanya daren dengan tatapan penuh selidik


“itu urusanku dan bukan urusanmu, kita tidak ada hubungan apa-apa ya jadi terserah aku mau ngapain” kesal eila


“bukankah kau bilang mencintaiku tapi kenapa malah jalan dengan sembarang pria di luar sana?” Tanya


daren


“kamu lupa kalau sudah nolak aku?” Tanya eila dengan berkacak pinggang


“harusnya kau tahu alasanku eila” balas daren lirih


“aku tahu, tahu betul alasan pengecutmu itu, dengan aku berkencan dengan orang lain itu adalah salah satu cara biar aku lupain kamu, kali aja ada yang cocok dan bisa aku jadikan suami dalam waktu singkat” balas eila bergegas pergi dari ruangan daren


Daren berlari menghampiri eila dan menahan tangan eila “jangan jadikan pernikahan yang sakral sebagai sebuah permainan eila” pinta daren


“kenapa? kau gak rela aku menikah dengan orang lain? Toh aku sedang mencoba mencari yang cocok kali aja ada yang cocok denganku nanti saat aku menjalin hubungan dengan seseorang” balas eila


“bagaimana kalau mereka hanya ingin menyakitimu eila” sahut daren tak ingin eila salah memilih pasangan hidup


“ya biarkan saja jika aku terluka karena pernikahanku nanti, jadikan pengalaman saja” balas eila datar


‘jangan coba menyakiti dirimu eila, aku benar-benar ingin kau hidup bahagia dan bukan saki hati ” ucap daren lirih


“bukankah kau yang paling menyakitiku” eila melepaskan tangan daren kasar dari tangannya


eila menunjuk daren "kau adalah orang yang paling menyakitiku, kau pria pengecut yang terlalu takut menjalani hidup" eila menatap tajam ke arah daren "akan ku pastikan kau menyesal karena telah menyakitiku dan menolakku" ucap eila lantang


"aku mohon jangan seperti ini eila" mohon daren dengan suara lirih


eila memicingkan matanya ke arah daren "lalu kau ingin apa?" tanya eila yang tak bisa di jawab oleh daren


eila tersenyum kecut "kau gak bisa jawab kan?" eila menatap daren tatapan mencibir


"kau tau aku menyayangimu kan?" tanya daren


"apa menyayangi akan menyakiti seperti ini?" tanya eila


daren diam menunduk. eila menarik tangan daren dan menggenggamnya erat "ayolah daren, keluar dari ketakutanmu jangan terjebak dalam ilusimu terus" ucap eila


daren melepas genggaman eila perlahan "maaf eila, aku gak bisa" balas daren


"ya sudah, jangan ikut campur urusanku" eila langsung melenggang pergi dari ruangan daren