
pada suatu malam keluarga besar mailans berkumpul bersama di ruang tamu "ayah kak razi datang" ucap aira tersenyum pada keluarganya
"hmmmmm" balas ayah subrata
razi membawa 3 bingkisan lalu meletakkan di meja " selamat malam semua" ucap razi dengan muka datarnya
"malam, silahkan duduk" balas ayah Subrata
semua kakak aira menatap sinis razi karena memang keluarga aira tidak ada yang suka dengan sifat razi hanya aira saja yang bersikukuh untuk menikah dengan razi. karena keluarga aira yang tak ingin aira bersedih makanya rencana pernikahan pun disetujui walaupun dengan terpaksa
"apa kau yakin menikah dengannya? " tanya ayah subrata pada aira. mendengar itu ada rasa tak suka di hati razi pada keluarga aira
"bisa-bisanya nih tua bangka ngomong gitu di depanku" batin razi
"tentu saja yah, kami sudah berpacaran 3 tahun jadi lebih baik kita cepat menikah" aira tersenyum pada razi dan razi membalas senyuman aira
"tapi nak ibu pikir kamu jalani lebih lama dulu baru putuskan menikah, toh kamu masih 21 tahun, dan belum lama selesai kuliah" ucap Ibu mardiana
"ibu percaya sama aira kan? aira pasti bahagia sama kak razi" balas aira tersenyum
" kenapa kamu datang seorang diri dan tak membawa keluargamu? " tanya ayah subrata
" aku hanya hidup dengan ibuku, dan sekarang beliau sedang sakit jadi beliau tidak bisa datang" balas razi datar
"iya yah kasihan ibunya kak razi kalau datang kesini padahal sedang sakit" tambah aira
" ah sudah lah terserah kamu saja" ucap sang ayah meninggalkan ruang tamu di susul ibu mardiana
melihat kepergian orang tua aira, razi pun ikut pamit pulang
"kalau begitu kakak pulang dulu ya ra sudah malam, dan ini bingkisan untukmu" ucap razi menyerahkan bingkisan yang tadi diletakkan di meja lalu pamit pulang pada aira
setelah melihat kepergian razi ke empat kakak aira menatap tajam aira
" kok kamu bisa ya ra tetep kekeh nikah sama orang gak ada sopan santun kaya gitu, ngelamar anak orang sendiri mana bawa bingkisan gini doang. katanya pengacara terkenal" ejek kak rino
"kamu yakin tetap menikah dengannya? " tanya kak fahri
"tentu saja kak karena aira cinta dia" balas aira
"tapi orangnya gitu loh ra" ucap kak dino
"aira sudah ngantuk kak masuk dulu ya" ucap aira pamit masuk kamar
" cinta! cinta! makan tuh cinta" teriak kak rino yang masih terdengar oleh razi yang belum menjalankan mobilnya
" keluarga menyebalkan" gumam razi bergegas melajukan mobilnya meninggalkan rumah aira
hari pernikahan pun tiba antara razi dan aira. razi masih datang seorang diri tanpa didampingi oleh keluarga dan itu menambah rasa tak suka keluarga aira tapi apa mau dikata jika aira bilang tak masalah sehingga pernikahan pun tetap terjadi dan kini aira sah menjadi istri razi
di dekat gerbang rumah aira ada seorang pria yang tengah menatap lekat aira yang berada di pelaminan " bagaimana bisa kamu menikah dengannya? " batin pria tersebut dengan suara isak tangis
kak rino menghampiri pria tersebut dan menepuk pundaknya "sudah Terima saja dia kini sudah jadi milik orang lain, salah sendiri main kabur saja, aira yang masih muda ya cepet jatuh cinta lagi lah sama orang lain" ucap kak rino
"tapi aku gak kuat lihatnya " balas pria tersebut terisak
kak fahri, dino dan dan raka ikut menghampiri " kalau gak kuat ya gak usah dilihat " ucap kak raka terkekeh
"tapi pengen lihat aira" jawab pria tersebut memeluk rino lalu menangis sesenggukan
"sudah biarin saja, lagi patah hati jadi kita harus berbaik hati " kekeh kak fahri
pada awal pernikahan aira dan razi. aira sangat bahagia bersama razi karena razi sangat memanjakan aira dan selalu bilang cinta padanya. tapi kebahagiaan aira hanya berlangsung tak lebih dari 3 bulan
3 bulan setelah pernikahan mereka aira berjalan cepat membawa sebuah amplop mencari keberadaan suaminya. ia mencari setiap sudut rumah yang diberikan orang tua aira, agar aira tak terlalu jauh dari kediaman orang tua aira
"mas" panggil aira
" ada apa sayang? " tanya razi memeluk aira erat
"aira punya kejutan buat mas" ucap aira memberikan sebuah amplop
razi membukanya dan membelalakkan matanya lebar "aku hamil mas, usianya 1 bulan" ucap aira tersenyum sambil memperlihatkan perutnya yang masih rata
"apa? hamil? " tanya razi dengan muka terkejut
aira mengangguk " iya mas aira hamil, tadi sehabis aira ngajar les aira kurang enak badan dan periksa ke dokter dan benar saja aira hamil" ucap aira senang
"kenapa kamu gak tanya dulu ke mas kalau mau hamil hah?! " bentak razi tajam
aira menautkan kedua alisnya "apa mas? " balas aira terkejut mendengar suaminya yang membentaknya
" harusnya kamu minta izin dulu padaku kalau mau ada anak itu. aku paling gak suka ya perhatianmu terbagi dan ini apa? ada anak pasti kau lebih perhatian padanya ketimbang padaku " ucap razi kesal melempar surat keterangan hamil aira
aira menatap tak percaya pada razi " ini anak kita mas, buah hati kita bagaimana bisa mas bicara seperti itu? " ucap aira dengan mata berkaca-kaca
"lihat saja belum apa-apa kamu sudah berani membantahku padahal dulu kamu selalu nurut apa yang aku bilang. aku gak mau ya anak itu kalau kamu mau tetap ada anak itu kamu urus saja dia sendiri aku gak mau keluar sepeser pun uang untuknya. aku gak sudih" balas razi meninggalkan aira begitu saja
bak di sambar petir di siang bolong. ini pertama kali dalam hidupnya ada orang yang membentaknya dan lebih sakit lagi di bentak karena hamil dengan suami sendiri. orang lain hamil diawal pernikahan mah pasangannya bahagia tapi ini malah dibentak-bentak
"baik, aira akan mencari uang sendiri untuk menghidupi nya" balas aira langsung masuk kamar
Hari-hari aira dilalui dengan isak tangis karena sifat razi yang sangat keras dan tak mau mengalah bahkan saat aira melahirkan pun razi lebih memilih bermain bersama teman temannya ketimbang menemani istrinya melahirkan
aira pun mulai kewalahan menghadapi sikap razi dan aira meminta cerai pada razi tapi bukannya rayuan atau permohonan yang ia dapat tapi malah pukulan demi pukulan yang ia dapat setiap ia meminta cerai kadang ingin rasanya ia bercerita pada keluarganya tapi ia tak enak hati menyusahkan keluarganya
razi tidak memberikan uang sepeserpun pada aira. awalnya razi hanya bilang anaknya saja yang tak akan di nafkahi tapi pada kenyataannya selama 6 tahun menikah aira hanya diberi uang selama 3 bulan pertama pernikahan saja.
razi tak memberikan nafkah bukan karena tak mampu tapi ia selalu beralasan ibunya butuh ini butuh itu, menyuruh aira membantunya mengatasi kebutuhan rumah tangga jadi aira berjuang keras untuk hidupnya dan viko
kali ini aira merayakan ulang tahun Viko di sebuah cafe
"nih sayang kue nya, ayo kita tiup" ucap aira memberika kue yang sudah di pasang lilin sejumlah usianya dan sudah ada nyala apinya
viko meniup lilin tersebut "mih ayah benci ya sama viko? " tanya viko setelah meniup lilin
aira menghadap viko memegang tangan anaknya erat "kok kamu bilang gitu" tanya aira
"ya habis setiap ulang tahun viko pasti ayah gak mau datang bahkan sekedar kasih kado saja atau ngucapin selamat ulang tahun engga mih" ucap viko
aira memeluk viko erat " maafin mami ya nak gak bisa bahagiain viko di ulang tahun viko malah mami buat viko sedih" ucap aira
viko merasa bersalah melihat mami nya yang menangis "mami gak salah kok, viko hanya sedih sebentar tapi sudah gak mih karena ada mami di samping viko itu sudah cukup" balas viko tersenyum
aira ikut tersenyum tapi batinnya menangis " maafin mami ya nak, mami tahu kamu sedih dan pura -pura senang agar mami gak bersedih. maafin mami memberikanmu keluarga yang seperti ini" batin aira