
***
Mata askar terlihat ada lingkar hitam di sekitaran matanya,
ia turun dengan lesu ke lantai bawah menuju meja makan
viko melirik adiknya yang masih memakai baju santai “kamu gak kerja?” Tanya viko
“aku mau izin kerja hari ini, kan ada kakak yang sekarang bisa handel perusahaan” balas askar dengan muka di tekuk
Viko terkekeh melihat raut wajah adiknya “baiklah kalau gitu” balas viko melanjutkan sarapannya
“kamu kenapa sih askar, aneh banget hari ini, biasanya
cerewet betul?” Tanya oma Diana
“lagi patah hati dia oma” balas viko dengan kekehan
Askar menatap kakaknya tajam “patah hati sama siapa?” Tanya papi dylan
“di tinggal syakia pih” balas ara
“ara…” kesal askar
“makanya, jangan sok jual mahal kamu, di tinggal baru terasa. Perjuangan syakia buat kamu loh gak tanggung-tanggung hampir 10
tahun dia kejar kamu tanpa lelah, bahkan dia hafal semua teman dan saudara kamu yang bahkan kamu sendiri lupa" mami aira melirik tajam askar
"Coba kamu Tanya setiap teman dan saudara kita kenal gak sama syakia” tanya mami aira
Askar Nampak berpikir dan mengingat semua kenalannya “sepertinya kenal semua” balas askar
“pernah gak dia marah dengan ucapan kamu yang super ngeselin itu?” Tanya mami aira lagi
“enggak, eh pernah mih” sahut askar
Mata keluarga Mahardika membelalak lebar ke arah askar “kapan?” Tanya mereka dengan serempak
Nyali askar menciut seketika melihat tatapan tak percaya dari keluarganya “semalem” balas askar lirih
eila menghela nafas panjang “pantes lah dia marah sama kamu, udah hampir sepuluh tahun di sabar nunggu kamu dan Terima semua ucapan kasar kamu dan aku salut sama dia" eila menepuk dadanya " kalau itu aku pasti aku udah bejek-bejek kamu askar” ucap eila dengan meremas-remaa tangannya
“iya bener yang di omongin eila, kurang sabar apa coba syakia sama kamu, aku aja yang di buat kakakmu kesal, langsung minggat waktu itu” ucap ara melirik viko
viko meraih tangan ara "ih jangan di ingat-ingat sayang” pinta viko lirih
"emang semalam kamu ngomong apa sama syakia” Tanya mami aira penasaran dengan apa yang di lakukan askar sampai membuat syakia marah
“askar minta dia jangan pergi ke amerika” balas askar
“terus?” Tanya mami aira tak puas dengan jawaban askar
“aku cium dia” balas askar tanpa rasa bersalah
“hah?!” mulut semua orang menganga lebar
Mami aira menahan emosinya “lalu?” Tanya mami aira lagi
“dia bilang apa maksud askar” balas askar
“terus kamu jawab apa?” Tanya eila
“askar jawab kan syakia sudah dapatin askar jadi jangan pergi ke amerika” balas askar dengan polosnya padahal semua orang di
sana sudah menggenggam kuat sendok di tangannya
tapi mama aira mengangkat
tangannya sebagai tanda sabar agar bisa mendengar kelanjutan kisah askar
“terus apa lagi?” Tanya mami aira dengan suara tertahan menahan amarah
“terus dia bilang gak mau sesuatu yang karena terpaksa dan minta di antar pulang, awalnya askar gak mau antar dia pulang sebelum dia setuju untuk gak berangkat ke Amerika tapi melihat dia yang kesal ya sudah askar antar pulang deh” balas askar
“dasar” mami aira langsung memukul dengan centong
askar memegang kepalanya, mengeluh sakit “kok askar kena pukul sih mih? salah askar apa?” Tanya askar bingung, dan masih dengan mengusap kepalanya yang terkena pukulan
“sabar mih” pinta papi dylan memegang tangan mami
aira yang memegang centong sayur
“ya kamu gila askar, syakia juga punya harga diri kali, mana mau dia sama orang yang gak punya tata krama kaya kamu, main acara serobot gitu aja” kesal mami
aira
“biasanya juga aku ketus sama syakia dan dia biasa saja” balas askar merasa tak salah apapun
“ya itu karena dia lagi kena cinta buta sama kamu makanya otaknya gak bisa kerja dengan baik” sahut eila
“apa iya?” Tanya askar
“iya bodoh”sahut semua orang serempak
“ya abis gimana? Askar bingung, askar tuh uring-uringan gak jelas waktu dia dekat sama asisten sableng itu, padahal biasanya semua arah mata syakia tertuju buat askar” balas askar menunduk
“cetak” kali ini askar mendapat pukulan sendok dari viko “yang kamu bilang asisten sableng itu kakaknya syakia bodoh" kesal
viko tahu siapa yang di maksud askar
askar mengusap kepalanya sembari melirik viko “masa?” Tanya askar tak percaya
“iya” balas semua orang serempak
“kalian semua tahu?” Tanya askar melirik semua anggota keluarganya
“ya tahu lah, makanya kalau ada syakia main ke sini jangan di tinggalin, dia pernah cerita perihal asisten viko yang adalah kakak
sepupunya” balas papi dylan yang tahu arka adalah saudara syakia dari mulut syakia sendiri yang bercerita dengan keluarga mahardika sewaktu berkunjung ke rumah
“gitu?” Tanya askar heran
“terus askar harus gimana?” Tanya askar makin bingung
papi dylan mengangkat kedua tangannya “menyerah saja, ayahnya syakia itu keras banget, dia saja dari kemarin ngalah izinin syakia kerja di tempat kita karena syakia anak satu-satunya dan frans sayang banget sama syakia, dan dia ngizinin syakia kerja di perusahaan kita saja juga karena ada arka kakaknya yang jaga” jelas papi dylan
“gak bisa gitu dong pih, masa langsung nyerah” balas askar
“salah sendiri jadi cowok belagu, di kejar satu wanita saja gengsinya setinggi langit” sahut eila
mami aira melirik ke arah eila “kamu juga jangan belagu, mentang-mentang di sukai dan dikejar pria banyak, kalau susah dapetin orang baru tahu rasa” ucap mami aira kesal
“mih sudah tahan emosinya” pinta viko
mami aira melirik ke arah viko “kamu juga sama, dulu saja main asal-asalan ngajakin ara pacaran bohongan, untung saja ara baik mau nerima kamu, kalau enggak, gimana coba? ” ucap mami aira
Ini nih yang di takutkan anak-anak keluarga mahardika sekalinya kena marah, pasti kena semuanya
Papi dylan mengusap punggung tangan mami aira “sudah sayang, lihat deh mantu kita ketakutan gara-gara kamu semprot anak-anak. Kasian cucu kita stress nanti” ucap papi dylan melirik ke arah ara yang menunduk
Mami aira langsung menoleh ke arah ara “mami gak marah sama kamu kok sayang. Mami Cuma kesel sama anak-anak mami" mami aira langsung menghampiri ara dan mengobrol bersama ara agar ara tak tertekan akibat
kekesalannya tadi
Viko, askar dan eila mengusap dadanya setelah kepergian mami aira yang membawa ara mengobrol menjauh
“untung kalian diselamatkan anak yang belum lahir” ucap papi dylan menggelengkan kepalanya ke arah ketiga anaknya
“terima kasih pih, papi memang yang terbaik” ucap viko mengacungkan kedua jempolnya ke arah papi dylan
“pokoknya papi is the best” sahut eila
“terus gimana dengan askar?” Tanya askar menatap keluarganya yang tersisa
“pikir sendiri” ucap semua orang serempak meninggalkan
meja makan
“dasar kalian ya” kesal askar tak mendapati respon dari keluarganya