
Seperti kegiatan sehari-hari yang dilakukan prastyo mengecek kondisi daddy nya, prastyo kembali masuk ke kamarnya untuk beristirahat
“sita lagi apa ya” gumam prastyo
mengusap ponselnya menghubungi pujaan hatinya
“sayang”panggil prastyo saat
ponselnya tersambung dengan kekasih
“iya om” balas sita dengan lesu
“kamu belum makan ya?” Tanya
prastyo yang melihat wajahnya sita begitu lesu
sita mendelik ke arah prastyo “kok om tahu kalau sita belum
makan?” Tanya sita
“terdengar dari suara kamu, dan suara cacing di perut kamu" prastyo melirik perut sita "
sekarang makan dulu baru kita mengobrol lagi” jawab prastyo
“tapi sita kangen bicara sama om”
sahut sita tak ingin mengakhiri panggilannya hanya untuk makan
“ya kalau kangen, cepat makannya dan kita mengobrol kalau sita kangen sama om, om akan temani kamu ngobrol sampai pagi” balas
prastyo
“kalau om gak tidur, nanti
kecapean kan besok om kerja” balas sita memajukan bibirnya beberapa senti
“capek demi bisa mengobrol
denganmu gak masalah, gak tidur semalam pun om sanggup demi kamu" balas prastyo tersenyum ke arah sita
Sita langsung tersenyum “om bisa
saja deh” balas sita tersipu malu
Kata-kata yang sederhana tapi begitu membuat hati sita berbunga-bunga dan hanya dengan mendengarnya
“ya sudah makan dulu sana, nanti
kabari om kalau sudah selesai makan” balas prastyo
“ya sudah, sita makan dulu om”
balas sita mengakhiri panggilannya
Dari balik pinta lina hanya bisa
menghela nafas mendengar perbincangan putrinya bersama prastyo. Lina memilih turun ke lantai bawalmenyusul
suami serta mertuanya yang sudah menunggu di meja makan
melihat kedatangan istrinya tanpa melihat sita anaknya membuat hati David sedikit kecewa “sita mana? Masih belum mau makan dia?” Tanya david
“bentar lagi juga turun dia” balas lina duduk di samping david untuk melayani David makan
Dan benar saja tak lama sita
turun dan duduk di meja makan untuk menyantap makan malamnya
“kenapa kamu baru makan sita?”
Tanya david yang sedang menyendokan makanan ke mulutnya
“lagi males makan dad" balas sita
“jangan gitu sita kamu bisa sakit
kalau terus-terusan telat makan” balas david yang memang jarang sekali melihat sita makan semeja dengannya akhir-akhir ini
“aku gak ada nafsu makan dad”
sahut sita menyantap makanannya dengan malas-malasan
“paksain sita, kamu bisa sakit
nanti” balas david tak ingin anaknya sakit hanya karena tidak makan
sita menghentikan makannya dan menatap daddy nya “kalau gitu bisa gak daddy setujuin hubungan sita sama om tyo” balas sita penuh harap
“sita” sentak david
“dad” lina menggelengkan kepalanya ke arah david agar meredam emosinya, supaya anaknya makan karena susah sekali meminta sita makan
merasa penat dengan suasana di meja makan membuat sita malas melanjutkan makannya padahal sita baru makan sedikit “aku sudah selesai makan” ucap
sita menyudahi makannya
“habiskan dulu makananmu
nak”pinta lina
“daddy bikin mut makan sita
“apa tyo yang pengaruhi kamu
untuk bangkang daddy” bentak david melirik sita
“daddy” kesal sita tak suka nama kekasihnya di bawa dalam perdebatan dirinya dan david
lina menggenggam lengan david dan menoleh ke arah sita “sudah sita, kalau kau sudah
kenyang naik saja lagi”pinta lina
Sita pun menurut mommy lina, melangkahkan
kakinya menaiki anak tangga menuju kamarnya
lina menoleh ke arah david suaminya “aku mohon dad, sabar sama anak kita, lihat tubuhnya kurus sekali karena dia jarang sekali makan, hanya saat malam
saja dia mau makan dan itu sangat sedikit" ucap lina agar david lebih menahan emosinya agar tidak mempengaruhi nafsu makan sita
david kesal dengan kondisi saat ini yang menimpa keluarganya
"Pasti tyo yang udah pengaruhin anak kita agar mogok makan biar kita kasihan dan kasih dia restu" balas david
mommy lina mengelengkan kepalanya “daddy salah, tadi mommy denger obrolan mereka dan sita mau turun untuk makan karena perintah tyo untuk sita makan, kalau dia gak minta itu mungkin anak kita gak akan makan hari ini. Tolong jangan ajak sita
ribut saat dia sedang makan dad, aku gak mau kondisi tubuh sita makin menurun karena
perdebatan kalian” pinta lina
“apa sekarang kamu bela laki-laki
itu?” Tanya david dengan raut wajah kesal
“mommy bukan bela tyo dad, tapi
mom gak mau anak kita makin terpuruk, liat kondisi dia selama 2 bulan ini dad, untuk mandi saja dia malas, kalau bukan karena permintaan tyo untuk sita tak
pergi dari rumah pasti dia sudah minggat dad, aku hanya gak mau kehilangan putriku satu-satunya dad, kecewaku padanya tak sebanding dengan kasih sayangku pada putriku” sahut lina dengan mata berkaca-kaca
David sedikit tercubit dengan
ucapan istrinya, bagaimana melihat hidup putrinya selama 2 bulan seolah sita adalah benda mati tak bernyawa
Setelah selesai makan david ingin
menghampiri putrinya untuk bicara dari hati ke hati. langkah kakinya terhenti di balik kamar sita saat melihat sita melakukan
video call dengan prastyo “om tyo” sita melambaikan tangannya ke arah prastyo
“kau sudah selesai makan?” Tanya
tyo
“sudah om” balas sita
“berapa suap kau makan?” Tanya
prastyo
“sita tak menghitungnya” balas
sita mengerucutkan bibirnya
prastyo menghela nafas panjang “apa kau membenciku?” Tanya
prastyo
sita menautkan kedua alisnya “kok om nanya gitu? Tentu sita cinta
sama om jadi mana mungkin sita benci om" balas sita mencebikkan bibirnya
“kalau kau mencintaiku kenapa
menyiksaku?” Tanya prastyo lirih
sita makin tak paham arah pembicaraan prastyo" menyiksa gimana om? Kapan sita
nyiksa om, sita sayang banget kok sama om jadi gak mungkin lah sita tega nyiksa om tyo" balas sita mulai berkaca-kaca hatinya mulai gelisah mendapat tuduhan dari kekasih hatinya
“dengan kau tak makan, itu sama
saja menyisaku sita” lirih prastyo yang juga ikut berkaca-kaca “kau tahu aku sangat mencintaimu aku ingin kebahagianmu dan kenyamananmu di atas segalanya
tapi jika kau menyiksa dirimu seperti ini sama saja kau menyakitiku kau tak
mendukungku untuk memperjuangkan restu orang tuamu” balas prastyo yang tak
sanggup lagi menahan laju air matanya
Melihat pipi prastyo basah akan air mata membuat hati sita sakit serasa teriris benda tajam “om jangan nangis, sita minta
maaf, sita akan selalu tepat waktu makannya, jangan sedih dong om hati sita sakit lihat om nangis”pinta sita ikut terisak
prastyo mengusap pipinya “janji makan tepat waktu” pinta prastyo
“iya sita janji om” balas sita
David menghela nafas panjang
meninggalkan kamar putrinya