Live In The Foly Of Love

Live In The Foly Of Love
Orang lain yang lebih seperti keluarga sebenarnya (season 2)



***


Ara di bawa dengan cepat ke rumah sakit terdekat untuk di tangani "tenang sayang, kamu pasti baik-baik saja” ucap viko menenangkan aira padahal hatinya sedang ketar-ketir melihat keadaan istrinya yang sedang mengeluh kesakitan


"sakit banget mas” keluh ara yang terus menangis meraskan sakit di perutnya yang teramat sangat, apalagi darah masih terus mengalir dari sela paha ara


Viko meletakkan ara di atas brankar ruang IGD dengan berhati-hati  "tenang sayang, ada mas disini” ucap viko terus menguatkan ara


viko berniat mengikuti ara tapi perawat IGD menghentikannya “sebaiknya tuan tunggu di luar kami akan menanganinya” ucap perawat IGD


“tapi saya suaminya sus” elak viko ingin menemani ara di periksa


mami aira menahan lengan viko “sudah viko kita di luar saja biar istrimu bisa di tangani dengan baik” ucap mami aira mengingatkan


"tapi viko pengen nemenin ara mih" ucap viko


"mami juga tahu viko, tapi kamu hanya akan menghambat ara untuk di tangani dengan baik" bals mami aira


Viko menuruti ucapan maminya untuk menunggu di luar ruang IGD “ara kenapa sih mih, kok sampai keluar darah gitu?” Tanya viko begitu khawatir dengan ara


"mami juga gak tau sayang, kita doakan yang terbaik saja untuk ara” balas mami aira


viko menangkup wajahnya dengan kedua tangannya “harusnya viko larang dia datang mih, dia sudah


kelihatan pucat dari tadi, pasti dia begitu tertekan bertemu dengan orang-orang itu” ucap viko begitu menyesal membiarkan ara bertemu keluarga yang begitu menyakitinya


Papi dylan mengusap pundak viko “ kita juga gak tahu kalau hubungan ara dengan keluarga ibunya begitu buruk” ucap papi dylan


“viko gak sanggup pih kalau terjadi apa-apa dengan ara pih ” ucap viko mulai terisak


Mami aira memeluk anaknya erat “jangan berpikiran buruk viko, kita doakan yang terbaik untuk istri kamu ya” ucap mami aira mencoba menenangkan viko yang sedari tadi sudah gelisah


***


Keluarga besar Mahardika sudah di kabari perihal ara yang masuk rumah sakit, dan tentu saja mereka begitu khawatir dengan angota keluarga mereka


eila dan keluarga yang lain datang menghampiri mami aira, papi dylan dan viko yang sedang duduk di depan ruang IGD “mami” panggil eila langsung memeluk mami aira


eila mengurai pelukannya menatap mami aira dengan wajah khawatirnya  “gimana ceritanya ara bisa sampai masuk rumah sakit mih?” Tanya eila


“tadi dia sempat bersitegang dengan neneknya dan merasa perutnya sakit dan ada darah yang keluar di sela pahanya ” balas mami aira


askar menautkan kedua alisnya “kok bisa mereka bersitegang?” Tanya askar


“mami juga gak tahu, tiba-tiba saja mereka berdebat” balas mami aira yang memang kurang jelas dengan perdebatan antara ara dan nenek gayatri


“ya sudah kita tunggu saja kabar dokter, perihal ara” ucap oma Diana


papi dylan melirik semua anggota keluarganya “pokoknya nanti jangan bahas kejadian di pesta tadi, kita temani dia saja, dengan adanya kita yang menyayanginya semoga bisa mengurangi rasa sakit hatinya” ucap papi dylan


“iya pih” sahut eila dan askar kompak


“keluarga nona neysha lara Pallavi?” Tanya petugas berpakaian serba putih yang baru keluar dari ruang IGD


Viko langsung beranjak dari duduknya dan menghampiri dokter  “:saya suaminya dok, gimana keadaan istri saya dok?” Tanya viko


“syukurlah keadaan istri anda baik-baik saja, kondisinya tidak terlalu Serius dan kami sudah menghentikan pendarahannya” balas dokter


“anda harus benar-benar menjaga istri anda tuan, apalagi ini adalah kehamilan pertamanya, jangan buat dia stress ataupun kelelahan” ucap dokter memberikan saran pada viko untuk menjaga keadaan ara


Viko mendongak “apa tadi dok? Istri saya hamil?” Tanya viko memastikan apa yang ia denagr, viko begitu terkejut dengan pernyataan dokter bahwa ara sedang hamil


“anda gak tahu istri anda hamil?” Tanya dokter


“tidak dok” balas viko menggelengkan kepalanya


Dokter tersebut  tersenyum “selamat kalau gitu pak, istri anda seang hamil 6 minggu, dan kandungannya cukup kuat walaupun tadi sempat pendarahan hebat tapi untungnya anak anda begitu kuat jadi ibu dan anaknya baik-baik saja” jelas dokter


"terima kasih dok, terima kasih” viko menjabat tangan sang dokter mengucap rasa penuh haru mendapat kabar bahagia itu


“iya pak, istri anda sudah di pindahkan di ruang rawat, kalian semua bisa menjenguknya. dan jangan lupa nanti periksakan istri anda ke dokter spesialis kandungan agar lebih mengetahui keadaan anak anda dengan lebih jelas ” ucap dokter bergegas meninggalkan viko untuk melanjutkan pekerjaannya


Viko menoleh ke arah keluarganya “viko jadi papih!” seru viko penuh haru pada keluarganya


“selamat sayang” ucap mami aira langsung memeluk viko


“terima kasih mih” viko membalas pelukan mami aira


papi dylan mengusap pundak viko “selamat ya nak” ucap papi dylan


“iya pih, terima kasih” senyum terus terpancar di wajah viko


“yey, sekarang kita punya keponakan" seru eila begitu bahagia mendapat kabar kehamilan ara


“iya, akhirnya kita ada mainan baru”seru askar yang juga ikut senang mendapat kbar kehamilan ara


“husssh, anak kakak kalian  kok di bilang mainan, itu cicit oma” seru oma Diana memukul kepala askar gemas


“ya sudah kita samperin ara yuk”ajak papi dylan


Semua keluarga mahardika berbondong menghampiri ara di ruang rawatnya


“ceklek” viko membuka pintu kamar  rawat ara


“sayang” viko langsung menghambur memeluk ara


“terima kasih sudah memberikan kado terbaik untuk mas” ucap viko dengan pipi yang basah karena menangis haru mendengar kabar kehamilan ara


“mas nangis?” Tanya ara merasakan tangannya yang basah karena memegang pipi viko


viko mengangguk "iya mas menangis tapi mas menangis bahagia sayang” balas viko mengusap pipinya yang basah


“terima kasih ara, sudah kasih mami dan papi cucu, dan buat kami jadi opa dan oma” ucap papi dylan berterima kasih dengan kabar kehamilan ara


“iya ara, oma juga terima kasih sudah berikan oma cicit”ucap oma Diana


"iya, akhirnya kita akan segera punya keponakan yang lucu-lucu" sahut eila  yang di angguki askar


Ara menatap haru keluarga suaminya yang begitu menyayanginya, matanya tak sanggup membendung air mata lagi “ara yang harusnya terima kasih, karena kalian mau menyayangi ara” balas ara


Viko mengusap pipi ara menghapus jejak air mata istrinya “kamu memang layak di sayangi ara” ucap viko memeluk ara,  dan itu diikuti mami aira, eila serta oma Diana yang ikut memeluk ara


Ara begitu bahagia, setidaknya ada orang-orang yang benar-benar menganggapnya keluarga walaupun keluarganya sendiri tak mau menerima ara sebagai bagian keluarga