
***
setelah acara pernikahan selesai di gelar, Daren langsung memboyong eila ke kediaman miliknya “ayo masuk” ajak daren menggandeng tangan eila memasuki rumahnya yang cukup besar tapi terlihat sepi itu
"sepi amat" gumam eila yang baru pertama kali memasuki rumah daren
eila mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan “apa ini rumah masa kecilmu?” Tanya eila
“bukan, rumah masa kecilku yang dulu sudah aku jual, ini rumah yang aku bangun saat pulang dari Berlin waktu itu” balas daren
“kenapa kau menjualnya?” Tanya eila
“terlalu banyak kenangan menyakitkan di sana, jadi aku ingin
menghapusnya dari ingatanku” balas daren
"oh" eila ber oh ria
eila menggoyang tangan daren seperti anak kecil “sayang pengen mandi” ucap eila dengan manja dan tatapan nakalnya pada daren
Daren tersenyum simpul dan langsung mengangkat tubuh eila dalam sekali gerakan dan eila mengalungkan tangannya di leher daren “ya sudah ayo mandi” ajak daren memasuki kamar yang ada di lantai bawah
Eila mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan “ apa ini
kamarmu?” Tanya eila penasaran kamar siapa yang ia masuki
Daren membawa eila masuk ke dalam kamar mandi “bukan, ini kamar tamu. Sekarang kamu kan lagi hamil jadi lebih baik kita tidur di lantai bawah saja” balas daren
“wah sekarang suamiku begitu perhatian” seru eila senang dengan perhatian kecil yang diberikan suaminya
“apa tadi?” Tanya daren mendekatkan telinganya ke mulut eila
“apa?” bingung eila dengan pertanyaan daren
“kamu panggil aku apa tadi?” ulang daren
“suamiku” balas eila tergagap
“cup” daren langsung mengecup bibir eila “ ternyata begitu membahagiakan saat kau memanggilku suami” ucap daren
Eila mengeratkan pegangan tangannya di leher daren “nanti akan lebih membahagiakan saat dia” eila mengusap perutnya “memanggilmu daddy” tambah eila
Daren langsung mengecup perut eila “ ia mommy, pasti kita akan sangat bahagia” balas daren
Eila dan daren berendam dalam satu bath up “besok kita periksa
kandungan kamu ya” ucap daren
“kenapa? kandunganku baik-baik saja, dan jadwal periksaku masih
minggu depan” balas eila
“aku kan ingin melihat pertumbuhan bayi kita” balas daren mengusap perut eila
"baiklah" balas eila
eila menyandarkan kepalanya di dada bidang daren dan daren melingkarkan tangannya di perut eila “kau tahu sayang, tadi aku sempat ketakutan saat Brandon datang bilang kalau aku hamil anaknya , aku takut kau percaya jika anak kamu itu adalah anaknya” ucap eila
daren mengusap kepala eila lembut “jujur aku tadi sempat ketakutan, apalagi dia bilang kau tak pulang selama dua hari karena bersamanya” daren membalik wajah eila “kemana kamu pergi
dengannya?” Tanya daren memanyunkan bibirnya
eila mengecup bibir daren gemas “aku hanya menuruti dia kemanapun dia ingin pergi, tapi sumpah daren aku tidak ngapa-ngapain dengannya. Kami tidur di kamar terpisah. Kalau kau tidak percaya kau bisa cek cctv di hotel xx, aku memesan kamar yang ada CCTV nya” ucap eila
"kenapa kau tidak menolak saja? " tanya daren
"aku sudah menolaknya tapi dia bawa pengawal di dekatnya dan dia bilang akan berbuat kasar kalau aku melawan" balas eila
“baiklah aku percaya padamu, tapi jangan di ulangi lagi ya” pinta daren
“iya sayang, percaya deh sama aku kalau kamu adalah cinta pertama dan terakhirku” balas eila mantap
“aku memang orang yang kau cintai tapi mantan kamu begitu bayak, aku satupun tidak ada” kekeh daren
Eila memeluk daren erat “maaf sayang" pinta eila
Daren begitu kepayahan “jangan banyak gerak eila, nanti di sana
bangun” ucap daren menahan hasratnya sekuat tenaga
“kamu kan lagi hamil, aku takut kenapa-napa” balas daren
“jangan khawatir, aku sudah pernah nanya katanya gak papa asal pelan-pelan “ sahut eila “lagian kita kan baru sekali, kamunya tokcer banget sih, satu kali tembak langsung jadi” ucap eila memanyunkan bibirnya
Daren mencubit gemas hidung eila “kok kamu jadi mesum gini sih”
cicit daren
Eila tersenyum manis ke arah daren “mesum sama suami sendiri,
boleh lah” kekeh eila memeluk tubuh polos suaminya
***
Eila dan daren sudah berganti pakaian tidur dan berbaring di
ranjang king size milik daren. Eila merebahkan tubuhnya dengan menyandarkan kepalanya di dada daren dan memeluk suaminya erat “sayang” panggil eila
“iya sayang” balas daren mengusap kepala eila
“aku senang banget deh akhirnya kita nikah” ucap eila
“aku juga senang banget” balas daren mengecup telapak tangan eila
“oh ya sayang, di rumah kan gak ada pembantu kamu tahu sendiri gak suka banyak orang, kamu mau cari sendiri atau aku yang cariin?” Tanya daren
“emangnya boleh mempekerjakan pembantu yang stand by di rumah?” Tanya eila
“tentu saja boleh” daren mengusap perut eila “mana mungkin aku biarin kamu kecapean saat sedang hamil” balas daren
“terima kasih ya sayang” balas eila mengecup bibir daren
“oh ya sayang” daren menatap wajah eila lekat “kira-kira gimana
reaksi keluargamu besok? Mereka melepaskan kita kemarin kan karena kita baru menikah dan baru mendapat kejadian seperti itu tapi kakakmu bilang bakal bikin
perhitungan dengan kita?” Tanya daren
Eila menelan salivanya kasar mengingat wajah marah yang nampak jelas di wajah kakaknya
“aku juga gak tahu kakaku mau ngapain kita” balas eila bergidik ngeri
daren menggenggam tangan eila "kita hadapi sama-sama ya sayang, aku akan selalu ada buat kamu" balas daren
"iya sayang" balas eila
*
viko menatap keluarganya, "pokoknya besok gak ada yang boleh bantu eila bicara" ucap viko dengan tegas
"inget adikmu sedang hamil" sahut papi dylan
"aku cuma mau kasih peringatan saja pih, gak akan sampai melukainya" balas viko
"terserah kakak saja deh" balas askar
mami aira menghampiri Gilang yang masih betah membuka mata di gendongan ara "sini cucu oma" mami aira ingin menggendong Gilang
viko menahan tangan mami aira "Gilang mau tidur mih" sahut viko
mami aira langsung memukul tangan viko "orang dia masih melek gitu" mami aira tetap mengambil Gilang dari ara
"nanti kalau dia begadang kasian ara mih" sahut viko
"di kulkas kan banyak stok asinya Gilang, kalau ara lelah ya sudah tidur saja. mami bisa kok begadang buat Gilang" balas mami aira
muka viko langsung berubah sumringah "itu beneran mih? " tanya viko
"kapan mami bohong" balas mami aira mengajak Gilang bermain
"ya sudah, titip ya mih" viko langsung membawa ara naik ke kamarnya yang berada di lantai atas
papi dylan hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan viko yang langsung menarik ara walaupun ara berusaha mengelaknya
"ya ampun kelakuan anak satu itu" gumam mami aira
syakia hanya menatap sendu Gilang yang ada dalam gendongan mami aira