
***
Prastyo menatap langit dari balik jendela pesawat jet pribadi keluarganya “apa ini hukuman karena perbuatanku dulu” batin prastyo memikirkan kondisi istrinya yang sedang di cari lokasi keberadaannya
Roger yang melihat tuannya sedang melamun hanya
bisa diam tanpa berucap sepatah katapun, karena takut menyebabkan amarah sang
bos
Di tempat lain dengan pandangan arah yang sama sita sedang menatap langit dalam diam memikirkan anak dan suaminya yang sedang jauh darinya
“maafin mommy sayang” gumam sita mengusap dadanya
yang basah karena air susunya yang harusnya diberikan pada puteranya jatuh dengan sia-sia
“ceklek” vino membuka pintu melirik sita yang diam di depan jendela.
vino melirik ke arah nakas yang masih terdapat utuh makanan serta obat-obatan yang harusnya di minum sita
Vino menghampiri sita “harusnya kamu minum obatmu sita agar mengurangi rasa sakitmu setelah melahirkan” ucap vino lirih
Sita menatap vino dengan mata mengembun “kau fikir sakit aku akan hilang setelah minum obat?” sita menggelengkan kepalanya
“tidak kak, sakit ku akan hilang jika aku kembali bersama putera dan suamiku” ungkap sita
“sudah aku bilang aku akan memberikan anak yang
lebih baik untukmu nanti” ucap vino dengan lantang
“kau pikir aku mau punya anak darimu” kesal sita
Vino mencengkeram rahang sita “kau gak punya pilihan lain selain jadi milikku" ucap vino menghempas wajah sita kasar
Sita terkekeh “kau pikir suamiku akan membiarkan kau membawaku begitu saja” ucap sita dengan senyum mengejek
Vino membalas ucapan sita dengan kekehan “ ini sudah 4 hari sita, dan dia masih belum menemukan kita bukan” ucap vino bangga
“saat dia menghabisi kamu, aku tak akan pernah memohon belas kasihan suamiku untukmu” sahut sita dengan tatapan tajam
“itu kalau dia sanggup menghabisi aku seorang vino” vino
mendekat ke arah telinga sita “sebelum ia menghabisi ku, aku yang akan menghabisinya, akan ku jadikan kau janda agar kita
bisa menikah tanpa halangan” kekeh vino dengan seringai liciknya
Vino berjalan ke luar kamar sita dengan tetap tertawa “apa salahku tuhan” gumam sita menitikkan air mata yang sedari ia tahan
***
Malam harinya prastyo dan para anak buahnya berpencar untuk melumpuhkan para penjaga yang di siapkan vino
“kalian susuri setiap tempat dan cari istriku” perintah prastyo pada para anak buahnya
Dengan sigap para anak buah prastyo melumpuhkan
para penjaga dalam hitungan menit. Prastyo mencari setiap sudut ruangan “sita” panggil prastyo membuka setiap pintu yang ada dalam gedung tersebut
“ceklek” prastyo membuka pintu dengan kasar
Matanya berkaca-kaca “sayang” seru prastyo menghampiri sita yang duduk di kursi dengan tangan kaki terikat dan mulut tertutup rapat lakban
Sita menggelengkan kepalanya ke arah Prastyo dengan suara tertahan karena mulutnya yang di tutup
Prastyo yang khawatir tak memperdulikan sikap sita, yang ada dalam pikirannya adalah bagaimana caranya bisa menyelamatkan sang istri dengan segera “tenang sayang aku akan menyelamatkanmu” ucap prastyo melepaskan ikatan sita
sita terus menggelengkan kepalanya tapi prastyo tidak mengindahkannya dan tetap membuka ikatan sita
“plak” pukulan benda tumpul mengenai kepala prastyo, prastyo memegang kepalanya yang mengeluarkan darah segar akibat pukulan yang mengenai kepala bagian belakangnya
“mmmmmmmhhhhhh” sita terus meronta saat melihat suaminya di hantam balok kayu
“kau pikir bisa mengalahkan ku hah?” umpat vino dengan menatap tajam ke arah prastyo
Prastyo menahan sakit yang mendera kepalanya yang
teramat sangat itu “ahhh” prastyo mencoba menahan tubuhnya yang akan oleng karena pukulan balok tersebut
Vino mengunci pintu dan berniat menghajar prastyo kembali “kau pikir aku akan menyerahkan sita pada laki-laki sepertimu” kesal
vino memukul prastyo kembali dengan membabi buta
Vino berjalan ke arah sita dengan senyum mengembang, vino mendekatkan wajahnya ke
telinga sita dan berbisik “kau lihat itu bukan?” gumam vino menunjuk prastyo yang sedang menggeliat kesakitan
“aku akan menjadikan kau janda segera. Dan kita akan segera menikah” mendengar itu, sita makin menangis histeris
Vino berjalan ke arah prastyo mengayunkan balok
kayunya dengan tenaga penuh
“mati kau!” umpat vino dengan tenaga penuh
“puk” balok kayu tersebut tertahan dengan cengkeraman kuat
Mata prastyo menatap tajam ke arah vino “kau pikir kau siapa bisa meremehkan ku!” teriak prastyo bangun dari tidurnya
Prastyo menatap tajam vino, memelintir balok kayu
yang dipegang vino dengan sekali gerakan “berani sekali kau mengusik milikku!” teriak prastyo kesal
Dengan sekali gerakan prastyo memukul vino balik
“apa kau mencoba mengantarkan nyawamu padaku hah?” prastyo memukul vino bertubi-tubi sampai tubuh vino mengeluarkan darah segar
Sita menangis terisak dengan perasaan campur aduk,
bersyukur karena suaminya bisa melumpuhkan vino, tapi sedih karena darah terus mengucur dari tubuh kekar suaminya
Setelah melihat vino terkapar, prastyo menghampiri sita melepas ikatannya dan juga membuka penutup mulut sita “ hubby”
tangis sita memeluk Prastyo erat
Prastyo membalas pelukan sita “maafkan aku sayang
karena terlambat mengejar mu” ucap prastyo dengan isak tangis
Sita menggelengkan kepalanya “aku yakin pasti kamu akan menyelamatkanku hubby” balas sita
Prastyo tersenyum ke arah sita “aku pasti menyelamatkanmu sayang” prastyo langsung jatuh tumbang karena darah yang terus mengalir dari kepala belakangnya
Sita berteriak-teriak minta pertolongan
***
Sita duduk di sebuah kursi di samping ranjang tempat
prastyo tertidur. Di badannya terpasang berbagai kabel penunjang kehidupan dan
terpasang masker oksigen di hidungnya
“hubby bangun, jangan terlalu lama tidur” ucap sita lirih mengecup punggung tangan suaminya
setelah kejadian penyelamatan sita, Prastyo terbaring koma, dan kini di rawat di rumah, semua peralatan penunjang kehidupan prastyo disediakan oleh kakaknya.
keluarga besar memutuskan untuk merawat prastyo di rumah, karena kondisi yang masih bisa menghembuskan nafas saja adalah sebuah keajaiban, keluarga besar ingin prastyo di rawat di rumah agar lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga walaupun dalam kondisi tertidur lelap.
Hal ini juga dilakukan agar Alfaro Arsello Wiraatmadja, anak prastyo bisa melihat ayahnya dengan bebas
“maafin aku hubby, daddy Nicole sudah meninggal, dia terlalu terkejut saat mendengar kabar kamu yang sedang koma sehingga jantungnya Tak sanggup menerima keadaan kamu” ucap sita tentang kabar daddy Nicole yang meninggal 2 bulan lalu.
ya prastyo sudah koma selama 2 bulan semenjak kejadian menyelamatkan sita
Aira berjalan memasuki kamar pribadi prastyo dan sita
“sita” aira mengusap punggung sita lembut “kuat
ya sita” pinta aira
sita memejamkan matanya erat “iya tante” balas sita
“kita doakan semoga kak tyo bisa kuat dan segera membuka matanya” ucap aira
“terima kasih sudah bantu sita ya tan, sampe tante bela-belain keluar dari sekolah untuk bantu urus perusahaan kak tyo dan
bantu daddy” ucap sita
“iya, gak masalah sita, setelah anak kamu dewasa maka dia bisa ambil alih kerjaan tante” ungkap aira
Aira kini menjadi pengusaha dan memutuskan berhenti menjadi seorang guru untuk membantu mengurus perusahaan prastyo karena kondisi sita yang tak bisa meninggalkan prastyo dan alfaro