
***
1 jam berjalan kaki tak membuat langkah kaki ara berhenti. Pikirannya masing melayang-layang entah kemana, seolah hinggap pergi dari raganya
“ngapa juga aku mikirin dia ya” ara mendongak ke atas menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya “aku bukan siapa-siapa”
gumam ara
Ara melihat bangku panjang dan memilih duduk di sana, ia memeriksa sakunya “ah aku kan tak ada kantong" gumam ara terkekeh "ponselku” ara menepuk kepalanya “kelupaan lagi”
ara melirik sekeliling “ini di mana ya” gumam ara tak tahu ia ada di mana. tempat ini begitu asing untuk dirinya
“ah sudah lah” ara menyandarkan tubuhnya di bangku panjang itu sambil memejamkan mata
“aku pikir dia ada rasa padaku karena sangat baik padaku tapi aku lupa kalau aku hanya pacar pura-pura nya saja dan bodohnya aku baru tahu aku jadi pacar pura-pura nya karena wanita itu” gumam ara tersenyum kecut
Ara pernah melihat foto revina di kamar viko sehingga ia mulai menghubungkan reaksi viko saat bertemu revina di mall, dan
dia juga pernah bertanya pada keluarga viko perihal viko yang pernah gagal menikah, ia juga sempat melihat contoh undangan pernikahan viko yang masih
tersimpan di nakas kamar viko. Wajah tersenyum viko yang begitu asli terpampang jelas di sana
Ara memainkan kakinya duduk di bangku taman menunggu sesuatu entah apa
“ara” panggil viko dengan suara terengah-engah
Ara mendongak, melihat viko yang sedang mengatur nafasnya yang tersengal-sengal “anda cari saya?” Tanya ara menunjuk dirinya
“kamu gak tahu berapa lama aku mencarimu hah!” teriak viko
Ara menunduk takut “maaf, tadi ponselku tertinggal dan aku tak tahu ini dimana jadi aku hanya bisa diam saja” ucap ara takut akan teriakan viko
“brugh” viko memeluk ara erat “kamu gak tahu seberapa khawatirnya aku mencari mu hah?” Tanya viko lirih
“maaf pak” balas ara membalas pelukan viko
“jangan asal main pergi saja kaya tadi” pinta viko
“iya pak”sahut ara
***
Ara sedang memasak di dapur dengan di bantuan para
pelayan rumah viko. Dengan cekatan ara memasak berbagai macam menu yang cukup
menggugah selera
“wah masak apa ara?” Tanya mami aira menghampiri ara yang sedang memasak
“masak macam-macam tante” balas ara
“emangnya kamu gak capek ara, tante saja capek loh. Kamu bukannya pulang lebih malam dari tante?” Tanya mami aira
“gak tan, ara gak capek, buktinya ara bisa masak berbagai macam hidangan” ucap ara menunjukkan macam-macam masakan yang sudah ia buat
“ya sudah kamu mandi saja dulu, biar bibi yang beresin, kamu sudah
selesai masak kan?” Tanya mami aira
“iya tante” balas ara
Ara berjalan ke arah lantai 2, di sana semua pintu tertutup mungkin sang pemilik kamar sedang terlelap di dunia mimpi karena memang acara berlangsung sampai dini hari, eila dan askar pulang jam 2 dini hari sedangkan ara dan viko pulang jam 4 dini hari karena drama ara yang pergi
dari acara pesta
Ara berjalan masuk ke kamar viko, ia melangkah pelan agar tak membangunkan viko. Ara melihat wajah tidur viko yang begitu
tenang. Ara mengusap pelan kepala viko “harusnya aku gak memulainya” gumam ara mengecup kening viko dan meninggalkan kamar viko untuk kembali ke kamarnya
Saat pintu tertutup viko membuka matanya, viko membenarkan posisi tidurnya menatap langit-langit kamarnya dalam diam “apa
sebaiknya aku menutup masa laluku” gumam viko
Semua orang mulai turun ke lantai bawah untuk menikmati sarapan mereka. Eits bukan sarapan tapi makan menjelang siang karena jam sudah menunjukkan pukul 11
“mandi dulu eila” ucap mami aira yang melihat wajah bantal putrinya dengan rambut seperti singa berjalan menuju meja makan
“keburu lapar mih” balas eila acuh
Mami aira menggelengkan kepalanya kala melihat askar yang sama penampilannya dengan eila belum mandi dan masih berantakan “emang gak salah kalian jadi saudara kembar kelakuannya sama” ucap mami aira
“ayo makan eila, askar, ini semua aku yang masak loh” ucap ara bangga
eila mencoba membuka matanya dan tersadar, ia melirik banyaknya makanan di atas meja "kamu gak tidur apa? Bisa masak sebanyak ini? " Tanya eila yang melihat semua hidangan di atas meja
Ara hanya tersenyum mendapati ucapan eila “aku panggil kakak kalian dulu ya” ucap ara berniat memanggil viko
“tidak perlu, aku sudah turun” ucap viko sudah berpenampilan rapih dan segar, berjalan ke meja makan
“nah kakak kalian baru bisa jadi contoh, sudah mandi dan wangi” ucap papi dylan bangga
“hei kakak ipar kalian saja pulang jam 4 pagi kata bibi, dan jam 8 pagi tadi dia sudah menyelesaikan acara memasak ini semua”
ucap mami aira
Viko menatap ara “kamu gak tidur?” Tanya viko
“tidak ngantuk” balas ara tersenyum
ara tersenyum “sudah yok cobain masakan ara” pinta ara
Semua keluarga mahardika menikmati acara makan dengan hidmat dan tak henti-hentinya memuji masakan ara
“andai cucu oma bisa masak kaya kamu ra, oma pasti seneng banget” ucap oma Diana melirik eila
Eila mendengus sebal “ya sudah suruh kakak nikahin ara saja, kan dengan gitu dia juga jadi cucu oma” kekeh eila
“jangan bahas itu di meja makan eila” ucap viko memperingatkan
Ara tersenyum miris mendengar ucapan viko
“oh ya om, tante” ucap ara meminta atensi kedua orang tua viko
“ada apa ara?” Tanya papi dylan
“ara rencananya mau pulang ke Inggris besok” ucap ara
Viko menghentikan makannya dan menatap ara “liburan semester kamu kan masih 1 bulan lagi? Tunggu sebulan lagi kita balik
bareng” ucap viko melanjutkan makannya
“ara kangen ayah ara mas” ucap ara
“tunggu bulan depan dan kita pulang bareng” sahut viko lagi
“ara gak papa pulang sendiri kok mas, keluarga mas kan masih kangen sama mas jadi gak papa kalau ara balik sendiri” ucap ara menunduk
Viko membanting sendoknya “kamu marah?” Tanya viko dengan nada cukup tinggi
Ara menggeleng dengan wajah tertunduk “enggak mas, ara Cuma kangen ayah” ucap ara mulai terisak
Mami aira menghampiri ara memeluknya erat “sudah
viko, mungkin benar dia kangen ayahnya, dia kan gak pernah lama berpisah dengan ayahnya dan ini sudah hampir satu bulan dia disini” ucap mami aira
Viko membanting sendoknya bergegas pergi dari meja makan
“sudah sayang, jangan menangis” ucap mami aira mengusap pipi ara yang basah
“ara Cuma kangen ayah, tante” balas ara dengan terisak
Mami aira mengusap punggung ara “iya tante tahu” mami aira melirik anggota keluarganya, tentu mereka semua tahu alasan ara
memilih pulang setelah kejadian semalam dan mereka tak bisa berucap apapun karena memang mereka tahu bagaimana sakitnya saat pasangan kita masih menaruh
hati pada orang lain di saat menjalin suatu hubungan
Di saat mami aira masih menenangkan ara yang masih menangis, viko sudah memakai pakaian rapih dan membawa kunci mobilnya
“mau kemana kamu?” Tanya papi dylan melihat anaknya yang terlihat akan keluar
“mau keluar” balas viko
“keluar gak di saat seperti ini viko” ucap papi dylan
“viko butuh ketenangan pih, dan viko gak dapat disini” ucap viko bergegas pergi
“viko!” teriak papi dylan
Ara makin terisak “hiks hiks hiks” tangis ara makin pecah
“sudah sayang” mami aira kembali mengusap punggung ara
“ara bikin mas viko gak nyaman ya” ucap ara masih dengan suara isak tangis
“tidak ara, mungkin dia hanya ingin bertemu temannya” ucap mami aira menenangkan
Ara menggeleng “ara bikin mas viko marah” tangis ara makin kencang
Eila pun ikut beranjak memeluk ara “sudah ara, biarin saja dia ngambek. Mending kamu pulang saja hari ini, biar aku yang mengantarmu ke bandara” ucap eila kesal
“eila!”bentak mami aira melirik eila
eila balas menatap mami aira “biarin saja mih, kak viko selalu ngerasa dia yang paling tersakiti, gak sadar dia ada yang lebih sakit, sudah untung dia dapat wanita kaya ara malah ngelunjak dia” kesal eila
Ara makin mengeratkan pelukannya pada mami aira
dan menangis sesenggukan