
***
“hubby” panggil sita
“iya sayang ada apa?” Tanya prastyo yang sedang rebahan di atas ranjang bersama sita
“kamu gak ngantor?” Tanya sita membelai kepala prastyo
“enggak, mau nemenin kamu saja” balas prastyo mendusel dada sita dengan memeluknya
“tapi kamu sudah lama gak ngantor loh hubby” ucap sita memperingati bahwa prastyo sudah terlalu lama tidak ke kantor semenjak usia kehamilan sita memasuki bulan ke 9
“takut kamu lahiran gak ada aku sayang” ucap prastyo mengelus perut buncit sita
“kan ada bibi, sama ada sopir di rumah, kamu juga kan kasih pengawal buat sita jadi kamu berangkat ke kantor saja, banyak keluarga yang bergantung di pundak kamu sayang” ucap sita mengingatkan prastyo yang punya
tanggung jawab besar sebagai pemimpin perusahaan yang punya banyak karyawan
prastyo menghela nafas “iya deh, aku ke kantor, tapi kalau ada apa-apa langsung hubungi suamimu ini ya” pinta prastyo mengecup kening sita
“iya hubby” balas sita tersenyum manis pada suaminya
Prastyo akhirnya berangkat ke kantor karena dia yang sudah hampir dua minggu ini tidak masuk kantor
“aku berangkat ke kantor dulu ya, nanti mommy kamu kesini setelah beli perlengkapan bayi” ucap prastyo
“iya hubby” balas sita melepas keberangkatan suaminya untuk bekerja
Sita memilih menunggu di taman sambil berjalan kecil karena dokter sudah mengingatkan sita untuk banyak berjalan agar
mempermudah proses dirinya melahirkan
Setelah cukup merasa lelah berjalan, sita memilih berjalan masuk ke dalam rumahnya “uuuhhhh” sita merasa perutnya sakit dan kakinya merasa basah, ada cairan yang jatuh dari pangkal pahanya
sita yang sudah belajar banyak tentang persalinan menyadari apa yang terjadi padanya “ah ketubanku pecah” gumam sita memegang perutnya yang mulai terasa melilit
“bi” panggil sita pada pembantunya
Pembantu sita bergegas dengan cepat menghampiri sita saat mendengar panggilan majikannya “ada apa non?” Tanya bi inah
“saya mau melahirkan bi” ucap sita
“nona mau melahirkan?” Tanya bi inah
“segera panggilkan sopir keluarin mobil yang sudah di siapkan untuk lahiran saya” pinta sita
“baik non” pembantu sita bergegas memanggil sopir dan meminta bergegas karena nyonya mereka akan segera melahirkan
Sita ditemani pembantu dan sopir melajukan mobilnya menuju rumah sakit milik dokter Ken kakak dari prastyo
“bi telpon tuan, bilang saya mau lahiran” pinta sita dengan suara terengah-engah karena menahan sakit
“iya non” bibi bergegas menelpon prastyo menggunakan ponsel sita
‘tut tut tut” bi inah berusaha terus memanggil tapi tak kunjung mendapat jawaban dari prastyo
“non, tuan gak angkat” ucap bibi dengan panik karena ia sudah menelpon berulang kali
“telpon kakak ipar saya saja bilang saya mau lahiran” pinta sita
“baik non” bibi segera menelpon dokter ken
Dokter ken yang sedang melakukan pemeriksaan rutin diikuti para bawahannya menghentikan langkah saat ponselnya berdering, dokter ken segera mengambilnya
“sita” gumam dokter ken bergegas mengangkat telpon dari adik iparnya
“ada apa sita?” Tanya dokter ken saat meletakan ponsel di sisi wajahnya
“ini saya bibi yang kerja di rumah tuan prastyo tuan, nona sita mau melahirkan tuan tapi tuan prastyo sulit di hubungi” ucap bibi
“iya tuan, air ketubannya sudah pecah dan nona sedang keakitan” balas bi inah
“terus kalian di mana?” Tanya dokter ken lagi
“di jalan mau ke rumah sakit tuan” balas bibi
“ posisi pastinya dimana?” dokter ken kembali Bertanya
“sedang di jalan xxx, sekitar 20 menit lagi sampai” jelas bi inah
“baik saya akan segera siapkan kondisi di sini, kamu jaga majikan kamu baik-bak" balas dokter ken mengakhiri panggilannya
Dokter ken berbalik menatap para bawahannya “adik ipar saya sedang di jalan xxx, akan segera kesini untuk melahirkan segera
siapkan semuanya” perintah dokter ken
Dokter ken bergegas pergi berusaha menghubungi
adiknya untuk mengabari sita yang akan melahirkan
Tanpa dokter ken ketahui ada seseorang yang menyunggingkan
senyumnya mendengar itu semua "kena kau" gumam seorang pria
Pria itu bergegas menyingkir dan mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang “kau masih mengikutinya bukan?” Tanya pria tersebut
“iya tuan, saya masih mengikutinya, ini juga saya sedang mengikutinya ke arah rumah sakit" balas seorang pria di seberang telpon
“segera kamu cegat dia dan bawa ke tempat yang sudah kita siapkan” pinta pria tersebut
“baik” balas pria di seberang telpon
Di tempat lain, dokter ken sedang bolak-balik menelpon prastyo tapi tak kunjung di jawab oleh si empunya “dasar pria ini,
susah amat di telpon” dokter ken beralih ke ponsel asisten prastyo yang mungkin saja bisa ia hubungi
Dan beruntung roger cepat mengangkat panggilannya “roger dimana tuanmu?” Tanya dokter ken tanpa basa basi saat panggilannya tersambung
“di ruang rapat tuan, tuan tyo sedang ada rapat dengan jajaran direksi” balas roger
“sekarang kamu masuk, tarik adikku itu suruh dia ke rumah sakit sekarang!” teriak dokter ken
“ada apa tuan?” Tanya roger tak paham permintaan dokter ken. dan bagaimana bisa dia menarik paksa bosnya
"istrinya mau melahirkan, cepat atau kalau di kelewatan momen kelahiran anak pertamanya, kau yang kena damprat” peringat dokter ken pada roger yang takut sekali akan kemarahan bosnya itu
“baik tuan” roger bergegas ke ruang rapat menyusul bosnya, karena dia tidak mau kena semprot oleh prastyo jika dirinya telat
memberi kabar tentang istri kesayangan prastyo
“ceklek” roger membuka pintu ruang rapat dengan kasar
Semua mata tertuju pada roger yang masuk tanpa permisi “apa kau tak bisa mengetuk dulu!” bentak prastyo karena sedang kondisi rapat dan perdebatan alot dengan para jajaran direksi, eh malah asistennya masuk begitu saja tanpa pemberitahuan
Roger menunduk “maaf tuan, kalau saya tidak sopan tapi saya punya kabar penting tidak bisa menunggu” ucap roger
Tiba-tiba saja ia teringat istrinya yang sedang hamil besar “ada apa, apa ada sesuatu dengan istriku?” prastyo langsung berdiri
menunggu jawaban roger
roger berlari menghampiri prastyo dan berbisik di telinga prastyo “nyonya akan melahirkan tuan, sekarang sedang perjalanan ke rumah sakit, kata kakak anda, anda harus segera datang kesana kalau tak ingin kehilangan momen saat istri anda melahirkan putra kalian” jelas roger
Tanpa menjawab prastyo langsung berlari keluar ruangan tanpa memperdulikan para bawahannya yang kebingungan
roger menunduk pada para jajaran direksi perusahaan bosnya “maaf tuan-tuan, sepertinya rapat hari ini di tunda dulu karena nyonya bis akan melahirkan. terima kasih” roger bergegas menyusul tuannya yang berlari begitu cepat meninggalkan dirinya begitu saja