Live In The Foly Of Love

Live In The Foly Of Love
cinta pertama terkadang bisa jadi kenangan paling menyakitkan (season 2)



***


Flash back 8 tahun silam


Eila melukis bersama seseorang, melihat pemandangan sekitar. mereka melukis dalam diam dan dengan pikirannya masing-masing


“terima kasih, sudah menemaniku melukis” ucap eila saat lukisannya selesai


“emmm” balas seorang pria


“apa ini terkahir kau akan menemuiku?” Tanya eila lagi


“iya” balas pria itu lirih


Eila menggores  tanda inisial nama teman yang menemaninya melukis “aku benci padamu” ungkap eila


“eila” seru pria tersebut lirih


“aku benci padamu” tangis eila pecah, ia menangkup wajahnya dengan kedua tangannya


“mengertilah eila, kita tidak bisa bersama” ucap pria itu lirih


“bulshit! Hanya karena kau yang takut dengan perceraian orang tuamu kau membuangku” kesal eila


“aku tak ingin menjalin hubungan denganmu eila” jelas pria itu


“daren!” teriak eila


“aku mohon mengertilah eila” pinta daren lirih


“tidak” eila menggeleng “aku tak akan pernah mengerti, bahkan hanya berteman denganku saja kau tak mau, kau mau membuangku begitu jauh hanya karena ketakutanmu itu” kesal eila saat daren bilang jangan berteman dengannya lagi saat eila menyatakan cinta pada daren


“aku gak mau kau  terluka eila” balas daren


“baik” eila mengusap air matanya


“aku akan melupakanmu, menghapus semua ingatan tentangmu, aku tak sudih kau ada dalam ingatanku” eila memukul kepalanya


Daren yang melihat eila terus memukul kepalanya, mendekat dan menghentikan tangan eila “jangan menyakiti diri kamu eila” pinta daren


“kau sudah menyakitiku” balas eila terus memukul kepalanya


“tolong jangan sakiti diri kamu eila” pinta daren memeluk tubuh eila dan menahan tangan eila kuat


“aku gak sudih mengingatmu, aku ingin melupakanmu, aku tidak sudih kau masih ada di pikiranku”teriak eila terus


meronta


Eila yang terus terisak dan berteriak akhirnya jatuh pingsan, dengan terpaksa daren membawanya ke rumah sakit.


Saat itu eila yang berusia 16 tahun dan daren yang berusia 23 tahun dekat karena hobi mereka. Eila langsung jatuh cinta pada daren saat melihat lukisan daren, eila  langsung mendekati daren dan daren yang memang merasa nyaman dengan eila menjadi dekat.


Kala itu daren yang tinggal di berlin sesekali datang ke London begitupun sebaliknya eila akan ke berlin. Awalnya kedekatan mereka begitu membahagiakan bagi eila sampai saat eila menyatakan cinta pada daren, daren langsung menjauhi eila, eila tentu saja tak terima dan terus mengupayakan dekat dengan daren. Tapi daren saat itu bilang akan kembali ke Indonesia dan tak ingin bertemu eila.


Eila yang saat itu masih duduk di kelas 3 Sma tak bisa berbuat banyak, hatinya begitu sakit saat daren menjauhinya bahkan menjadi teman saja daren tidak mau. Daren menjelaskan pada eila tentang ketakutannya


karena kisah masa lalu orang tuanya tapi hal itu malah membuat eila makin kecewa pada daren


Eila yang terus berontak dan jatuh pingsan mengalami demam tinggi selama 2 hari, dan harus di rawat di rumah sakit. Setelah eila bangun eila melupakan semua kejadian di berlin dan uncle yama tahu itu dan menceritakan pada mami aira sebagai orang tua eila tapi karena tak ada kondisi yang terlalu buruk untuk eila makanya keluarga eila mengabaikan hilang ingatan eila yang hanya seputar berlin itu


Daren tak tahu kondisi eila yang hilang ingatan sebagian itu karena setelah dirinya mengantar eila ke rumah sakit dan memberitahu pihak asrama, daren langsung terbang ke Indonesia dan tinggal di sana


Flash back off


Hatinya tersayat saat pertama kali melihat lukisan dirinya dan eila terpampang di galeri, daren menatap lekat lukisan tersebut, hatinya begitu terluka, luka itu semakin menusuk hatinya saat melihat inisial namanya tergores dan tertutup cat lukis


“aku gak sanggup jika kau mengingatnya” gumam daren membayangkan jika eila akan mengingat hal dulu jika terus memiliki lukisan itu, lukisan yang ia lukis bersama eila


Dulu saat daren pertama bertemu eila, ia langsung terkejut dan berusaha keras menutupi kegugupannya tapi nyatanya sekarang daren tahu, eila tak pura-pura tidak mengenalinya tapi memang dirinya yang di lupakan eila


***


Askar dan syakila sudah selesai berbulan madu, dan hari ini mereka mulai bekerja


“kalian sudah mau berangkat kerja?” Tanya mami aira melirik syakila dan askar yang sudah rapih dengan pakaian kerjanya


“iya dong, gak mau kalah kita sama kakak ipar yang lagi hamil tapi mau kerja” balas askar


“aku mah kerjanya Cuma bantu dikit doang, sekalian belajar” balas ara yang sudah mulai bekerja seminggu yang lalu tapi karena kehamilannya yang membuatnya mudah lelah, ara hanya sekedar membantu pekerjaan ringan dan menemani suaminya bekerja


“kamu kan lagi hamil ara, kerjanya dikit juga gak papa, suami kamu di temani tiap hari sudah seneng banget itu” sahut papi dylan


“iya sayang, ditemenin kamu juga sudah seneng” balas viko mengusap kepala ara


“mih, eila mau pergi ke Kalimantan seminggu” ucap eila


“ngapain di sana?” Tanya papi dylan khawatir jika eila pergi terlalu jauh


“ke acara nikahan teman eila yang dulu satu asrama dengan eila, eila mau temu kangen sama teman-teman satu asrama, jadi biar kerasa seminggu eila di sana” balas eila


“ya sudah, tapi kabarin papi tiap hari ya” pinta papi dylan


“iya pih” balas eila


“oh ya ara, papi kamu tetap datang minggu depan kan?” Tanya mami aira


“iya mih, tapi katanya papih mau ketemu temen-temennya dulu, maklum lah, ayah kan sudah 10 tahun lebih gak ke Indonesia, katanya mau temu kangen dulu kalau sudah selesai temu kangennya ayah kesini” balas ara


“biarin ayah kamu jalan-jalan dulu, nanti biar kamar yang di ujung sana dibersihin buat ayah kamu tinggal nanti” balas mami aira


“gak usah mih, biar ayah tinggal di rumah viko aja, rumah viko kan sudah jadi” balas viko


“ih ara masih hamil viko, jangan di ajak tinggal di sana dulu nanti yang awasin dia saat kamu kerja siapa, terus kalau di butuh apa-apa gimana ” ucap mami aira


ara tersenyum bahagia dengan perhatian ibu mertuanya yang sudah seperti ibunya sendiri “ara masih di sini kok mi sampai lahiran, ayah saja yang di sana, takutnya ayah gak nyaman kalau disini, ara sama mas viko kan bisa jengukin kesana tiap hari dan gak harus nginap, jaraknya kan gak jauh dari sini” balas


ara


“ya sudah kalau gitu, kirain kamu mau pindah, mami kan jadi  khawatir, kamu dulu pernah pendarahan hebat jadi harus hati-hati” ucap mami aira


“iy mih” balas ara mengangguk setuju