
***
Eila memakai gaun berwarna pink salem menyusuri anak tangga menuju ruang tamu keluarga mahardika dimana pesta kepulangan eila di gelar
semua mata tertuju pada eila, gadis cantik anak perempuan satu-satunya keluarga mahardika “hei kak Eila”sapa Alfaro anak pasangan dari sita dan Prastyo menghampiri eila dengan membawa bingkisan pada eila sebagai ucapan selamat datang
"hai Alfaro” eila mengusap kepala anak berusia 10 tahun itu dengan gemas
alfaro tersenyum menanggapi perlakuan eila “kakak cantik” ungkap Alfaro memberikan bingkisan untuk eila
"terima kasih” balas Eila
seorang anak perempuan berusia 8 tahun menghampiri eila dengan membawa sebuah bingkisan “nih kak, hadiah buat kakak” ucap zifana memberikan bingkisan kado untuk eila
Eila mengusap kepala zifana “terima kasih adik kecil” balas eila
Uncle yama menghampiri dan memeluk eila “selamat datang kembali ke rumah” ucap uncle yama
Eila membalas pelukan yama “terima kasih uncle" balas eila
Eila mengurai pelukannya, beralih memeluk aunty zaskia “apa kabar aunty?’ ucap Eila yang kini memanggil zaskia dengan sebutan aunty tidak kakak lagi karena menghormati uncle yama sebagai suami zaskia
aunty zaskia mengusap punggung eila “baik eila, kamu sendiri gimana kabarnya ?” balas aunty
zaskia
“seperti yang aunty lihat, eila baik” balas eila tersenyum ramah pada aunty zaskia
“kakakmu tak ikut kau kembali?” Tanya aunty zaskia
Eila menghela nafas panjang “kakakku memang penakut kak” sahut eila mencibir kakaknya yang tak berani pulang ke rumah karena kisah masa lalunya
“jangan bilang seperti itu eila, kita semua juga tahu sendiri bagaimana hubungan kakakmu dengan wanita itu dulu, tentu wanita itu membuat luka yang terlalu dalam untuk kakakmu karena berkhianat dengan salah satu sahabatnya” sahut aunty zaskia
“iya aunty, eila tahu itu” balas zaskia
***
Ara kini sedang menemui beberapa temannya yang mau menerimanya dalam kelompok, hal ini dilakukan ara karena tak ingin beasiswanya di cabut, jika di cabut tentu saja besar kemungkinan dia akan kewalahan membayar kuliahnya, dengan bantuan uang beasiswanya saja dia harus menghidupi keluarganya mati-matian dengan menjalani beberapa pekerjaan paruh waktu sekaligus. bagaimana jika beasiswanya di cabut tentu saja dia bisa kehilangan banyak waktunya hanya untuk bekerja
“terima kasih banyak sudah mau melakukan kerja kelompok denganku” ucap ara menunduk pada teman yang mau sekelompok dengannya, karena termasuk telat mencari kelompok
“aku hanya kasihan saja denganmu” balas teman ara yang bernama Rebecca dengan suara ketus
"alah, bilang saja kamu senang sekelompok dengan ara, karena dia semua yang mengerjakan tugas kita” sahut david yang juga menjadi teman kelompok ara
rebecca tersenyum remeh ke arah david “kamu juga senang kan?” Tanya Rebecca meledek david
David terkekeh “iya lah aku senang, kapan lagi kita duduk manis tapi dapat jaminan nilai kita bagus” david menoleh ke arah ara “semoga sering-sering kamu ngerjakan tugas kita ya” ucap david penuh harap
ara hanya membalas ucapan dua orang yang sebenarnya sudah menjadi sahabatnya semenjak mereka duduk di bangku SMP tapi karena suatu hal membuat mereka menjaga jarak “hemmm, ngomong-ngomong siapa yang akan mengumpul tugas ini pada pak viko?” Tanya ara menunjuk tugas kelompok yang sudah di print dan juga di jilid itu
David dan Rebecca saling lirik “kau saja lah ara, kalau kami yang ngumpul dan di tanya-tanya nanti kita bingung lagi mau jawab apa ” ucap Rebecca
“iya mending kau saja, sekalian kamu mohon maaf padanya, biar nilaimu tidak jelek dan kau masih bisa mempertahankan beasiswa mu itu” sahut david
“tok tok tok” ara mengetuk pintu pelan di depan pitu ruangan viko
“masuk” ucap viko masih tetap konsen dengan pekerjaannya di atas meja yang terlihat begitu banyak
"ceklek” ara membuka pintu pelan “maaf pak viko, saya mau mengumpul tugas kelompok saya” ucap ara masih berdiri di depan pintu
Viko mendongak, menatap datar kedatangan ara “masuk kamu” pinta viko
Ara berjalan ke arah meja viko dan menyerahkan tugas kelompoknya pada viko “nih tugas saya pak, saya sudah mengerjakan tugas yang bapak berikan dan saya melakukannya secara kelompok tidak sendiri” ucap ara
Viko menerima tugas ara dan membuka lembar demi lembar untuk memeriksanya “ siapa yang mengerjakan tugas ini?” Tanya viko tetap memperhatikan tugas yang ara berikan
Untung saja ara sudah paham tabiat dosen killernya itu karena bertanya pada beebrapa mahasiswa seniornya dan juga dirinya yang memang pernah masuk kelas viko sebelumnya
aira menunjuk nama di bagian halaman tugasnya “kami bertiga pak, tapi bagian pengetikan dan penyusunan tugas itu adalah kerja saya, kedua teman saya membantu mengumpulkan data dan memberi masukan pada saya untuk menyusun tugas itu lebih baik” jelas ara
Viko sebenarnya tahu tugas siapa itu, karena viko orang yang sangat teliti dalam hal tugas, apalagi viko pernah membuka beberapa tugas ara, tapi kali ini dia tidak punya alasan marah ataupun menyalahkan ara perihal tugas ara
“oke. Tinggalkan tugasmu, aku akan memeriksa tugas kelompok kalian” ucap viko meletakkan tugas ara di meja
Ara tersenyum lebar “terima kasih pak” ara berniat pergi
“tapi aku mau yang presentasi esok bukan kau” ucap viko menghentikan langkah ara
“hah?” ara menganga mendapati permintaan viko
"kalau kalian mengerjakan bersama tentu tak masalah siapun di antara kalian yang presentasi" ucap viko masih dengan wajah datarnya
“baik pak” ara bergegas keluar ruangan viko untuk menemui Rebecca serta david membicarakan tugas kelompok mereka
David dan Rebecca menunggu dengan malas di salah satu kantin kampus karena permintaan ara “ada apa kau memanggil kami lagi?” Tanya Rebecca malas saat melihat kedatangan ara
“pak viko minta kalian yang presentasi, dan tak membolehkan aku yang presentasi” ucap ara
“kok bisa? aku gak bisa kan kamu yang ngerjain” balas Rebecca merasa tak paham dengan tugas kelompoknya
"ayo lah, aku sudah membuat rangkuman untuk presentasi kita,
kau tinggal menghafalnya saja” pinta ara
“males amat” kesal Rebecca
David merasa tak tega dengan ara “ya sudah aku saja yang akan presentasi, kau berikan rangkuman itu, aku akan membacanya dan menghafalkannya” sahut david
ara tersenyum ke arah david “terima kasih david” balas ara
Ara beranjak dari duduknya “aku akan mengirim materi rangkuman itu ke email kamu, sekarang aku harus kerja dulu” ucap ara bergegas menuju tempat kerja paruh waktunya
“oke” balas david mengangguk
"cih" Rebecca berdecih melihat punggung ara yang makin menjauh " terus saja bilang sibuk" kesal Rebecca
"dia memang sibuk Rebecca, kau kan tahu sendiri dia menopang hidup seluruh keluarganya padahal dia masih 20 tahun" ucap david mengingatkan