
***
Viko mengendarai mobilnya membelah jalanan, ia dalam perjalanan menjemput ara yang di ajak eila dan maminya utuk berbelanja di salah satu mall besar di Jakarta
alasannya sih ingin membelikan ara baju, tapi namanya wanita pasti mereka juga sekalian belanja agar bisa menghabiskan uang viko yang di pakai untuk mereka bertiga berbelanja
viko tersenyum melihat bangunan yang ada di sepanjang jalan “lima tahun, membuat banyak perubahan rupanya” gumam viko melihat banyak yang berubah sepanjang jalan mulai dari gedung, bentuk jalan dan bangunan-bangun baru, memperlihatkan begitu banyak perubahan dari saat ia pergi lima tahun lalu
tak sampai 30 menit perjalanan viko sampai di mall yang di datangi, ara. setelah sampai Mall Viko memarkirkan mobilnya di parkiran mall dan berniat masuk ke area mall. Viko mengambil ponselnya untuk menghubungi ara menanyakan posisinya
viko menyandarkan tubuhnya di badan mobil untuk mempermudah posisinya bercakap dengan ara “sudah selesai belanjanya?” Tanya viko saat panggilannya sudah tersambung
“belum mas, mereka sedang berdebat hanya untuk masalah sepele” balas ara melirik pasangan ibu dan anak yang ada di hadapannya sedang berdebat hanya karena hal sepele menurut ara, model yang cocok ara dan mereka berdua punya cara pandang masing-masing padahal ara bilang sama saja
Melihat percakapan ara dan viko, eila langsung menarik ponsel ara
“kakak susul saja di outlet pakaian yang biasa mami datangi, milik salah satu teman mami itu. Kakak ingat kan?” Tanya eila
“iya ingat, kakak akan ke sana” balas viko
“oke” eila langsung menutup telpon dan memberikan ponsel ara kembali ke pemiliknya
Ara menerima ponselnya dan meletakkan dalam tasnya “sudah, jangan membelikan ara barang lagi, itu sudah terlalu banyak” ucap ara merasa tak enak hati karena sudah di belikan begitu banyak barang oleh keluarga viko
“tidak apa-apa ara, toh kami beliin kamu dengan uang kekasihmu” balas mami aira mengusap kepala ara
“tapi ara juga sudah di kasih pegang kartu ini, jadi sepertinya sudah cukup” balas ara
Eila menyipitkan matanya melihat kartu yang di pegang ara “itu bukannya kartu yang kakak pakai untuk keperluan apartemennya?”
Tanya eila yang kebetulan tahu kartu untuk keperluan apartemen viko karena dirinya pernah membantu viko untuk mengurus keperluan apartemen
ara tersenyum “ah iya memang ini, biasanya ara pakai untuk belanja urusan apartemen mas viko” balas ara tanpa sadar
Mata ara membelalak lebar dan menggelengkan kedua tangannya, sadar akan ucapannya yang kurang tepat “kita memang tinggal di luar negeri tapi bukan berarti kita berbuat seenaknya, saya hanya sebatas mengurus semua hal di apartemennya tapi ara tidak tinggal di sana” ucap ara cepat
Mami aira tersenyum “kami percaya ara, kami kenal baik dengan anggota keluarga kami. Jadi mami tahu viko tidak akan mengajak kamu tinggal bersama di luar ikatan pernikahan” mami aira mengusap punggung tangan
ara “mami senang kalau viko sudah mempercayakan keperluan sehari-harinya padamu tinggal tunggu kalian menikah saja” ungkap mami aira
Ara tersenyum kaku mendengar ucapan mami aira “bagaimana bisa kami menikah tante, saya kan
Cuma pacar bohongannya saja” batin ara
*
Viko menyimpan ponselnya di saku, melanjutkan kembali langkahnya untuk masuk dalam mall
“brug” viko bertabrakan dengan seseorang tapi tak membuat viko kehilangan keseimbangan, malah yang terjatuh adalah seorang anak
yang menabraknya
“hiks hiks hiks” anak itu menangis kencang karena terjatuh
melihat tangis seorang anak viko berjongkok untuk membantu anak itu bangun
“kau tidak apa-apa?” Tanya viko mengecek kondisi anak itu
“es krim saya jatuh” tangis anak itu melirik es krimnya yang terjatuh di tanah
“ya sudah om belikan lagi saja ya” ucap viko
Wajah anak itu langsung berbinar bahagia “benarkah?” Tanya anak tersebut
“tapi ngomong-ngomong di mana orang tuamu” Tanya viko
anak tersebut mengernyitkan dahinya “ngapain om Tanya orang tuaku” Tanya balik anak tersebut
“yakan om mau belikan kamu es krim, kalau main asal bawa kamu nanti di kira om itu penculik” balas viko
“oh iya” anak itu langsung berteriak
“mba lala” panggil anak tersebut dengan suara kencang
seorang Perempuan muda Nampak berlari tergopoh-gopoh saat mendengar namanya di panggil oleh seorang yang ia kenak dengan baik
lala mengatur nafasnya di hadapan Ryan “ada apa tuan ryan?” Tanya lala seorang wanita berpakaian baby siter menghampiri seorang anak yang bernama Ryan
“om ini jatuhin es krim ryan, dan mau beliin Ryan es krim yang baru” ucap ryan sambil menunjuk viko
Lala menoleh ke arah viko “tidak usah saja tuan, biar saya yang belikan untuk tuan muda” ucap lala merasa tak enak hati pada viko karena ulah majikan kecilnya yang memang kadang suka ceroboh
“gak masalah, hanya sebuah es krim. Kamu temani saja agar saya tak dikira menculik seorang anak” balas viko
Akhirnya viko membelikan es krim untuk ryan dengan di temani lala sang baby sitter
“terima kasih es krimnya om”ucap ryan tersenyum senang mendapatkan es krim besar dari viko
Viko mengusap kepala ryan “sama-sama” viko tersenyum
“kalau gitu saya pamit dulu ya, calon istri saya sudah nunggu di dalam” ucap viko
“iya tuan” balas lala membungkuk ke arah viko
"sekali lagi Terima kasih om" viko membalas dengan senyuman
Viko berjalan ke arah di mana orang yang sedang dicarinya berada
“siapa la?” Tanya seorang wanita menepuk bahu lala saat melihat anak dan baby siternya melirik punggung seseorang yang makin menjauh
lala tersadar dari kegiatannya memandangi viko “ah nyonya, tadi ada orang yang tabrakan sama tuan ryan, karena tuan ryan menangis sebab es krimnya terjatuh jadi orang itu membelikan tuan muda es krim yang baru” balas lala
Wanita tersebut menyipitkan matanya ke arah punggung viko yang main menjauh “kenapa rasanya saya kenal orang itu ya” gumam wanita tersebut melihat punggung viko yang terlihat familiar
“ apa nyonya kenal?" tanya lala
"sepertinya, tapi gak mungkin dia. tadi namanya siapa? tanya mama Ryan melirik lala
"tadi saya gak sempet nanya sih nyonya, siapa namanya” balas ala
“sudah lah tak apa, mungkin saya salah juga” balas wanita tersebut
“sudah selesai belanjanya mah?” Tanya ryan
“sudah sayang” wanita yang di panggil mama oleh ryan mengusap kepala ryan
“ayah yang jemput kan?” Tanya ryan
“iya nanti ayah yang jemput, kita tunggu di tempat makan saja ya” ucap mama ryan
“iya mah” balas ryan tersenyum senang
wanita tersebut menggandeng tangan puteranya mencari tempat makan untuk menunggu sang suami menjemput mereka