
***
Setelah acara rapat dewan direksi dan di gunakan askar sebagai perkenalan viko sebagai salah satu penerus mahardika group, viko dan askar berjalan ke luar ruangan rapat “ara sudah selesai belum kelilingnya?” Tanya viko pada askar
“tadi levi bilang sudah kak, dia nunggu di ruanganku” balas askar yang sudah mendapat kabar ara selesai keliling kantor dari levi dan levi meminta ara menunggu di kantor askar
Askar dan viko berjalan ke arah ruangan askar untuk menemui ara
“ceklek” askar membukakan pintu untuk kakaknya
“hahaha bisa saja” tawa ara langsung terdengar saat viko dan askar memasuki ruangan
Viko berjalan mendekat ke arah ara penasaran dengan siapa ara berbincang sampai tertawa selepas itu “sudah selesai
mas?” Tanya ara
viko menyipitkan matanya mengira-ngira dengan siapa ara berbicara karena dari arah viko masuk, ia hanya bisa melihat punggung orang yang sedang berbicara dengan ara “hemmmm”viko berjalan mendekat untuk melihat siapa yang berbincang dengan ara
Viko langsung menatap tajam pria yang ada di hadapannya “apa kabar viko?” Tanya joff dengan sebuah senyuman
Sial itu yang mungkin di rasa oleh viko, viko pasti terus mengumpat dalam hati kala melihat seorang joff, orang yang pernah merebut kekasihnya
Viko langsung menarik tangan ara untuk pergi dari ruangan askar dengan langkah cepat tak memperdulikan wajah bingung ara dan tangan ara yang sakit karena genggaman viko yang terlalu kuat “apa kau masih membenciku?” Tanya joff melihat viko langsung membawa ara tanpa menyapanya
Viko tak menjawab dan teta menarik ara pergi keluar ruangan askar
Askar hanya menatap kepergian kakaknya, ia menoleh ke arah Joff dan memberikannya tatapan tajam “untuk apa kau ke sini?” Tanya askar ketus
“apa benar dia kekasih kakakmu?’ Tanya joff mengkode dengan matanya pada arah viko yang keluar melalui pintu
“kenapa emangnya? Mau rebut calon istri kakakku lagi” ketus askar
“ayolah askar" joff menatap askar dengan tatapan memelas "kau tahu kan aku gak bermaksud merebut revina darinya” jelas Joff
“iya memang kau tak ada niat merebutnya, tapi tetap saja kau menghamilinya dan membuat wanita itu jadi istrimu" ketus askar
Joff hanya terdiam dia tak mampu berucap karena memang benar apa yang diucapkan askar, bahwa dirinya lah yang membuat revina hamil dan membuat revina terpaksa menikah dengannya membuat rencana pernikahan viko harus gagal
***
Joff berjalan memasuki rumahnya dengan membawa paper bag berisi makanan
“ayah” panggil ryan menyambut kedatangan Joff yang terlihat baru pulang kerja
“hei sayang” joff langsung memeluk ryan puteranya
dan menggendongnya
“kau sedang apa sayang?” Tanya joff tentang kegiatan yang di lakukan puteranya
“lagi main sama mama” balas ryan
“hei ayah” sapa revina mengambil jas serta tas kerja joff
“nih mah, ayah bawain makanan kesukaan kamu sama ryan” ucap Joff menyerahkan paper bag berisi makanan yang disukai revina dan
ryan
"wah martabak ya yah?” Tanya ryan semangat
“iya” balas joff
“terima kasih ayah”ryan mengecup pipi joff sayang
revina memberikan jas serta tas kerja joff pada pelayanan agar di bawa ke ruang kerja suaminya “ya sudah mama taruh di piring dulu ya, nanti mama bawa ke ruang keluarga untuk kita makan bersama”ucap revina bergegas menuju dapur
“iya yah” balas ryan
Joff berjalan menyusul revina ke dapur “apa yang bisa aku bantu?” Tanya joff pada istrinya
“tidak perlu, aku bisa sendiri” balas revina dengan wajah dingin
Ya pernikahan mereka bagaikan di gunung es, tak ada kehangatan sama sekali mereka hanya bersikap manis di depan ryan agar tak menyakiti anak mereka selebih mereka seperti orang yang bermusuhan tak pernah bertegur sapa, bahkan walaupun mereka seranjang tak pernah ada obrolan hangat antara mereka hanya sekedar obrolan seputar anak mereka. bagi mereka kebahagiaan putera mereka paling penting untuk itu mereka selalu bersikap sebagai keluarga harmonis di mata Ryan dan mata orang lain
Revina membawa piring meninggalkan joff “aku bertemu viko” ucap joff menghentikan langkah revina
“dia sudah kembali” revina berbalik agar berhadapan dengan Joff
“lalu” Tanya revina
“aku juga bertemu dengan kekasihnya” joff tersenyum miris ke arah revina “dia sudah melupakanmu revina, apa kita tak bisa memperbaiki pernikahan kita” ucap joff dengan nada lirih
Revina tak menjawab, ia bergegas meninggalkan joff untuk menyusul ryan yang sedang menunggunya
Joff menyandarkannya punggungnya di dinding, meraup
wajahnya kasar “ini semua kesalahan kita revina tapi kenapa seolah harus aku sendiri yang membayarnya” gumam
joff
joff menarik nafas dalam merubah raut wajahnya, ia memaksakan senyumnya, senyum penuh dengan kebohongan
"wah gak tunggu ayah makannya? " tanya joff menghampiri Ryan dan memeluk anak semata wayangnya itu
"abis ayah lama sih, kan enaknya kalau lagi hangat" balas Ryan melahap martabaknya
"ayah suapin dong" pinta joff pada Ryan
"ihhh, minta sama mama aja, tangan Ryan lagi sibuk" seru Ryan
joff hanya melirik revina " ya sudah buat kalian saja, ayah mau mandi dulu" ucap joff akan beranjak dari duduknya
"mama gak sayang ayah lagi ya" Ryan menunjukkan muka sedihnya
revina merasa tak tega dengan Ryan kala melihat wajah sedih puteranya " enggak kok, mama sayang ayah" revina beranjak dari duduknya, agar bisa duduk di samping joff agara mudah menyuapi joff
"Aaaaa" revina merayakan membuka mulutnya
joff menerima suapan revina dan tersenyum "Terima kasih" ucap joff
"emmm" balas revina
"nah gitu dong, kalian terlihat saling menyayangi" seru Ryan tersenyum bahagia
joff mengunyah makannya dan menoleh ke samping, matanya berkaca-kaca "*ini hanya sebuah tipuan sayang, yang mamamu sayangi hanya kau dan pria itu" bati joff
joff mencoba mengontrol perasaan yang berkecamuk di dadanya " ayah mandi dulu ya sayang, badan ayah lengket banget" ucap joff beranjak* dari duduknya
"iya ayah, abis makan nanti Ryan mau langsung tidur ya yah, gak main sama ayah" ucap Ryan
"iya sayang" joff melangkah menjauh menuju kamarnya untuk membersihkan diri
cukup lama ia berendam, setidaknya untuk merelaksasi pikirannya "ceklek" joff keluar pintu seusai mandi
joff berjalan ke arah ranjang yang sudah ada revina tertidur dengan lelap.
joff berjalan ke sisi ranjang dan duduk menatap revina dengan perasaan campur aduk "bukankah ini melelahkan? 5 tahun terasa sangat begitu lama seakan sudah menguras separuh usiaku" gumam joff membaringkan tubuhnya di sisi revina
mendengar dengkuran halus dari joff revina membuka mata "kau pikir aku tidak lelah, aku jauh lebih merasa lelah. apalagi saat aku mendengar dia sudah melupakanku dan menggantikan diriku dengan wanita lain. itu benar-benar menyakitkan" batin revina