
Zeta masuk kamar mandi untuk membersihkan diri setelah seharian beraktifitas “ceklek” rino membuka pintu kamarnya perlahan
“dia sedang mandi toh” gumam rino saat mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi miliknya
Rino meletakkan paper bag berisi pakaian zeta di atas ranjang. Rino berjalan kearah lemari pakaiannya dan mengambil pakaian miliknya beserta handuk dan keluar dari kamar, ia memilih kamar mandi di kamar kakakknya untuk membersihkan diri
Tak berapa lama kemudian, zeta keluar dari dalam kamar mandi dengan memakai handuk sebatas dada dengan takut-takut “ah aman toh” gumam zeta mengeluarkan kepalanya melihat keadaan di dalam kamar yang sepi
Zeta berjalan menghampiri paper bag yang berada di atas ranjang “mas rino lah kemana? Ah mungkin sedang ngobrol dengan orang tuanya” gumam zeta mengambil pakaian tersebut dan segera memakainya
Setelah berpakaian zeta menyusuri setiap sudut kamar rino “ternyata memang mas rino suka kebersihan dan orang yang sangat rapih” gumam zeta melihat tatanan kamar rino yang begitu rapih dan bersih
Zeta beralih pada foto-foto yang terpajang di dinding kamarnya, mulai dari foto keluarga, berbagai penghargaan yang pernah di raihnya serta foto saat ia sedang liburan dengan memanjat gunung
“pasti mas rino suka manjat gunung” gumam zeta tersenyum melihat foto rino yang berada di puncak gunung
“ceklek” terdengar suara pintu terbuka
Zeta mendongak “eh mas rino, maaf ya kalau aku lihat foto-foto mas” ucap zeta menunjukkan foto yang sedang ia lihat
Rino masuk dan menutup pintu, berjalan ke arah zeta “gak masalah, toh foto-foto itu bukan rahasia” balas rino
Rino duduk di ranjang sebelah zeta “apa kau tidak lelah?” Tanya rino
“ah” zeta tidak dalam pikiran yang jelas, jantungnya berpacu dengan cepat saat rino duduk di sebelahnya tanpa ada jarak yang memisahkan mereka, bahkan kulit lengan mereka bersentuhan
“kau tak tidur? Ini sudah malam loh” ucap rino menunjuk jam dinding di kamarnya yang sudah menunjukkan pukul 11 malam
“ah, iya mas” jawab zeta dengan gugup
“maaf ya di kamarku ini tak ada sofa seperti kamar saudaraku yang lain jadi kita tidur satu ranjang, gak papa kan?” Tanya rino
Rino adalah tipe orang yang sangat bersih jadi ia tak suka ada sofa karena menurutnya itu mengganggu keindahan kamar dan tak rapih “ya” zeta tak begitu jelas mendengar pertanyaan rino karena sibuk dengan pikirannya sendiri
Rino tersenyum “kau tak masalah kan jika tidur seranjang denganku? Tak ada sofa di kamarku, tak mungkin kan kau menyuruhku tidur di lantai” ucap rino menunjuk lantai kamarnya
“gak masalah kok mas, toh ini kamarmu dan juga kan aku istrimu jadi gak masalah kalau kita tidur seranjang” balas
zeta tersenyum pada rino walaupun sebenarnya jantungnya sedang jumpalitan karena saking gugupnya
Rino menoleh dan meletakkan tangannya mengapit zeta di ranjang membuat zeta mundur dan menahan tubuhnya agar tak terjatuh “kamu ngingetin mas? Kalau suami istri harus tidur di ranjang yang sama ya?” Tanya rino
Zeta cukup gugup dengan posisinya saat ini, menelan salivanya kasar “aku gak maksud gitu kok mas, Cuma mau bilang gak nyuruh mas tidur di lantai” balas zeta gugup
Rino membenarkan posisinya melangkah ke sisi ranjang disebelah dan masuk dalam selimut “ya sudah ayo tidur” ajak rino mematikan lampu kamarnya
zeta merasa lega saat rino tak memaksanya melakukan hal berbau suami istri itu.
“mas” panggil zeta lirih, ia tak bisa langsung tidur begitu saja
“hmmmm” balas rino
“mas ngantuk ya?” Tanya zeta
Rino memiringkan tubuhnya kearah zeta “ada apa?” Tanya rino
“mas harus tidur dengan lampu mati ya?” Tanya zeta
“kenapa? Gak bisa tidur dengan lampu di matikan?” Tanya rino
“tapi aku biasanya cukup susah tidur kalau lampu menyala” balas rino jujur. ia tak biasa tidur dengan lampu di nyalakan
“ya sudah gak papa mas, tidur saja” balas zeta mengerucutkan bibirnya yang tak dapat di lihat rino karena suasana kamar yang gelap
rino menghela nafas panjang “biasanya kalau di tempat baru selain lampu di hidupkan apa yang biasa kamu lakuin?" tanya rino
“hmmm”zeta Nampak berpikir
“dulu pernah kakak nemenin zeta tidur sambil mengusap kepala zeta waktu liburan, dan zeta bisa tidur cepat“ balas zeta
Rino mendekatkan tubuhnya ke arah zeta, membawanya ke dalam pelukannya dan mengusap kepalanya lembut “ya sudah tidur” ajak rino sembari tetap mengusap lembut kepala zeta
Zeta hanya diam saja dan tidur dalam pelukan rino
***
Rino mengerjapkan matanya, melirik jam dinding “jam 6” gumam rino melirik sisi ranjang tak mendapati zeta
Rino masuk kamar mandi untuk cuci muka dan turun ke lantai bawah. Dari balik anak tangga rino bisa melihat zeta yang sedang membantu memasak ibu mardiana
rino menghampiri zeta ke dapur “masak apa?” Tanya rino lirih
zeta menoleh kebelakang “ah, masak cumi sama sayur soup mas” balas zeta
“ibu gak nyangka loh istrimu benar-benar pinter masak. Soalnya dia minta ajarin masak masakan kesukaan kamu sama ibu kemarin” ucap ibu mardiana
“terkadang cara memasak orang kan berbeda-beda. Ibu bilang mas rino gak terlalu suka dengan masakan orang lain jadi zeta pengen tahu selera masakan mas rino biar gak salah” balas zeta tersenyum
“waktu nyobain masakan kamu untuk pertama kali, itu gak ada masalah kok, jadi gak belajar sama ibu juga masalah” balas rino tersenyum
Ibu mardiana tersenyum melihat raut wajah anaknya “tuh kan, apa ibu bilang, gak masalah kan kalau kamu gak belajar masak sama ibu, kamu sudah cukup pintar memasak” balas ibu mardiana mengusap kepala zeta
“ibu gak suka ya zeta datang kesini?” Tanya zeta menunduk
“bukan gitu sayang, tapi kan kamu kerja jadi takut kamu kecapean kalau bolak-balik kesini” balas ibu mardiana
“ya sudah, kita nginep disini setiap akhir pekan saja, jadi kamu bisa belajar masak lagi sama ibu” usul rino
“iya bener juga omongan kamu” ibu mardiana menoleh kearah zeta “kamu nginep sini saja setiap akhir pekan, kadang kakaknya rino juga nginep setiap akhir pekan, kalau aira sekarang agak jarang gara-gara lagi hamil dan sedikit manja sama dylan” ucap ibu mardiana
“emang kalau lagi hamil, kita jadi manja sama suami ya bu?” Tanya zeta
Ibu mardiana tersenyum “kamu coba aja sendiri, kamu manja sama rino atau gak nanti” ucap ibu mardiana membuat zeta menjadi gugup
Rino terkekeh melihat raut wajah zeta “apa mau lebih usaha keras lagi biar cepet jadi?” Tanya rino seolah-olah sudah sering membuat adonan padahal belum pernah
Muka zeta langsung merah padam “apaan sih mas” gumam zeta menunduk malu
“ya sudah kalian mandi saja sana, makanannya sudah siap. Kalian kerja kan?” Tanya ibu mardiana
“iya bu, nanti kita ke kantor” balas rino
Rino berjalan ke arah zeta dan menarik zeta “ya sudah, rino ajak dia mandi dulu ya bu” ucap rino menarik tubuh zeta naik ke lantai atas tempat kamarnya berada
Zeta hanya melihat arah tangan yang di pegang rino tanpa berucap apapun