
***
Zeta mengambil amplob berisi laporan kehamilan dan foto USG bayi Riska
“nih kak” zeta menyerahkan sebuah amplop putih dengan tulisan logo rumah sakit
“terima kasih” ucap riska menerima amplop putih tersebut
Zeta mengajak riska duduk di tepi ranjang “kakak gimana kabarnya?” Tanya zeta ramah
“baik” balas riska dengan senyum dipakskan
zeta begitu prihatin dengan hidup riska yang tahu dari cerita aira padanya “jangan di tahan kak. Aku tahu penderitaan kakak karena aku juga punya keluarga yang tak menganggapku walaupun apa yang menimpaku tak sebanding dengan apa yang menimpa kakak” balas zeta memeluk riska erat
“ah, entahlah zeta. Rasanya sesak sekali disini”
riska menyentuh dadanya “aku kadang ingin berteriak tapi aku tak mau menambah bebannya” ucap riska
Zeta memeluk tubuh riska “kalau kakak tak sanggup bicara dengannya, cukup berbagi denganku kak, agar mengurangi sakit yang kakak rasakan. Jangan memendamnya sendiri ” pinta zeta
riska mengeratkan pelukannya “terima kasih zeta. Terima kasih sudah baik padaku padahal aku sudah menyakitimu dan pernah membuatmu hampir kehilangan nyawa” balas riska berterima kasih dengan sikap baik zeta padanya
“sudahlah kak jangan dibahas lagi, zeta kan sudah maafin kakak lagian zeta tahu kok kalau kakak itu gak sengaja nyakitin zeta” balas zeta
“terima kasih sudah mau jadi temanku” ucap riska dari dasar lubuk hatinya
***
riska dan zeta keluar kamar menghampiri keluarga yang masih betah mengobrol di ruang tamu“mas yuk pulang, sudah malam” ajak riska
Dokter ken mengangguk “ya sudah kak subrata dan kak mardiana, aku pulang ya” pamit dokter ken pada keluarga mailans
“iya ken, hati-hati di jalan ya” ucap ayah subrata mengantar kepergian dokter ken sampai teras
Ayah subrata melirik zeta “suamimu, gak kesini?” Tanya ayah subrata
“hari ini gak yah, mas rino ada pertemuan di luar kota, besok baru pulang” balas zeta
ayah subrata mengangguk paham “kalau dia pulang kesini, biarin dia nginep sini saja, kasihan dia harus bolak-balik semenjak perusahaan ada masalah” ucap ayah subrata
Zeta menoleh kearah ayah mertuanya “beneran mas rino boleh nginep sini?” Tanya zeta memastikan
“iya boleh” balas ayah subrata menganggukkan kepalanya
"terima kasih ayah" ucap zeta dengan mengembangjan senyumnya
***
Rino datang dengan membawa banyak bingkisan “sayang” panggil rino mencari keberadaan istrinya
Mendengar suara suaminya, zeta langsung berlari kecil menghampiri arah suara rino “mas” ucap zeta mempercepat langkah kakinya
Melihat zeta yang berjalan dengan terburu-buru rino langsung meletakkan bingkisan yang ia bawa ke lantai menghampiri zeta “jangan lari-lari sayang” ucap rino memperingati
Zeta terkekeh “maaf kak, suka lupa” zeta memeluk rino untuk meluapkan rasa rindunya
Rino balas memeluk zeta “mas kangen kamu” ucap rino
“zeta juga kangen” balas zeta mengeratkan pelukannya
Rino mengurai pelukannya “tadi mas bawa oleh-oleh buat kamu dan yang lain” ucap rino menunjuk bingkisan yang ia bawa
zeta melirik bingkisan yang rino bawa dan menoleh ke arah Rino “makasih ya mas” balas zeta
Rino mengangguk “oh ya sayang, hari ini mas capek banget karena baru dari luar kota , mas mau tidur sebentar di kamar nanti bangunin mas kalau sudah jam 9 ya” pinta rino ingin mengistirahatkan tubuhnya karena lelah seharian di perjalanan
“iya mas, tapi sebelum tidur mandi dulu ya” balas zeta mengingatkan suaminya untuk bebersih dulu baru beristirahat
“iya sayang, mas pasti mandi dulu” balas rino mengecup kening zeta
Rino berjalan dengan langkah lesu menuju kamar untuk mengistirahatkan badannya
zeta meminta pelayan untuk membawa bingkisan yang dibawa rino ke atas meja “bi, bawa sana dulu ya” pinta zeta
“iya non” balas pelayan rumah ibu mardiana
Ibu mardiana melirik banyaknya bingkisan di atas meja “itu siapa yang bawa zeta?” Tanya ibu mardiana yang baru keluar dari kamarnya
“oh itu mas rino yang bawa bu” balas zeta
“mas rino di kamar bu, sepertinya lelah banget dan mungkin tidur sekarang” balas zeta
“ya sudah biarin suamimu istirahat, dan nanti makanannya bawa aja ke kamar. Dari kemarin kan dia lembur terus mungkin dia capek banget mana dia kan ngurus beberapa perusahaan sekaligus” ucap ibu
mardiana
“iya bu” balas zeta mengangguk
zeta membantu ibu mardiana memasak makan malam di dapur
zeta duduk bertiga dengan mertuanya untuk makan malam "bu, aku dah selesai makannya, zeta mau ambilin makan untuk mas rino dulu ya buk" ucap zeta
"iya sayang" balas ibu mardiana mengangguk
Zeta berjalan ke arah kamarnya dengan membawa nampan berisi makanan dan meletakkan di atas meja. Zeta menghampiri suaminya
“pasti kamu capek banget ya mas” zeta mengusap pipi
reno lembut
“eeeughhhh” rino menggeliatkan tubuhnya dan bangun
dari tidurnya
“jam berapa sayang? Dah malam ya?” Tanya rino melirik kamarnya yang tertutup dan adanya nyala lampu
“sudah jam 8 mas, mas makan dulu ya pasti lapar kan” balas zeta
Rino mengambil makanan yang dibawa zeta dan menyantapnya “yah belum ngobrol sama kamu malah sudah mau pulang. Maaf ya kalau mas malahan tidur sesampainya disini” ucap rino sembari menyantap makanan yang di bawa zeta
“gak papa mas, lagian kamu juga pasti capek harus ngurus perusahaan” balas zeta mengamati suaminya makan
“kamu sudah makan?” Tanya rino
“sudah mas, tadi makan sama ibu dan ayah” balas zeta
Rino melanjutkan makan dalam diam sampai makanan di piringnya tandas “masakan istriku memang paling enak, terima kasih ya sayang” ucap rino mengecup kening zeta
“mas tahu dari mana kalau itu masakanku?” Tanya zeta karena walaupun ia yang memasak tapi semua resep masakan yang di masak adalah resep ibu mardiana
“tentu saja mas tahu, ada perbedaan masakan istriku dan ibu walaupun kedua-duanya sama-sama enak tapi rasa istriku lah yang paling membuat mas bahagia” balas rino
zeta tersenyum bahagia dengan pujian rino “ya sudah, mas mandi dulu ya sayang abis itu baru
pulang” rino masuk kamar mandi untuk membersihkan diri
Zeta meletakkan nampan makanan rino, lalu bergegas menyiapkan pakaian tidur untuk Rino
zeta duduk sambil membaca buku di sisi ranjang “mas sudah selesai mandi?” Tanya zeta saat mendapati
suaminya keluar dari kamar mandi
“sudah” balas rino mengeringkan rambutnya yang basah
Rino berniat mengambil pakaian yang di siapakan zeta
“kok pakaian tidur sayang? Mas kan mau pulang” Tanya rino
“mas nginep sini saja, zeta masih kangen” ucap zeta
“mas juga pengennya gitu sayang tapi ibu sama ayah pasti gak ngijinin” balas rino mengerucutkan bibirnya
zeta menyunggingkan senyumnya “mas tenang saja, kali ini mas boleh tidur sini” balas zeta
“emang beneran?” Tanya rino semangat
“iya mas, kemarin ayah bilang ke zeta untuk ngizinin mas tidur disini” balas zeta
Rino langsung memeluk zeta “mas seneng sekali bisa tidur lagi sama kamu sayang” ucap rino "dan terima kasih ya sayang sudah menerima kekurangan mas dan tetap mencintai mas, mas seneng banget bisa bareng sama istri mas lagi"tambah Rino
“iya mas, zeta juga senang banget. Sekarang mas pakai baju sana” pinta zeta mendorong tubuh rino menjauh
Rino tersenyum kearah zeta “buat apa pakai baju, bikin repot saja “ rino langsung ******* bibir zeta yang sudah membuat rino makin candu itu
Zeta pun membalas ******* rino dengan tak kalah semangat